Kapan Bisnis Mencapai Break Even Point? Ini Cara Hitung dan Contohnya

Pelajari kapan bisnis mencapai titik impas atau break even point, cara hitung, serta contohnya.

KantorKu HRIS
Ditulis oleh
KantorKu HRIS • 02 April 2026

Pada awal pendirian bisnis, wajar jika Anda harus ‘membakar’ atau menghabiskan banyak dana sampai mencapai titik impas atau break even point.

Break even point adalah kondisi di mana total biaya yang dikeluarkan sama dengan total pendapatan, sehingga bisnis tidak dalam kondisi untung maupun rugi.

Pertanyaannya, kapan bisnis bisa mencapai kondisi break even point ini?

Mengapa Bisnis Harus Mengetahui Break Even Point?

Break Even Point (BEP) atau titik impas adalah salah satu indikator yang sangat penting dalam menjalankan bisnis. 

Dengan mengetahui kapan bisnis mulai menghasilkan keuntungan, Anda bisa memahami kondisi keuangan usaha secara lebih jelas. 

Berikut penjelasannya:

1. Membantu Pengambilan Keputusan yang Lebih Tepat

BEP membantu bisnis dalam mengambil keputusan, terutama yang terkait dengan:

  • Penentuan harga jual
  • Pengelolaan biaya
  • Perencanaan keuangan

Dengan menghitung BEP, bisnis dapat mengetahui jumlah minimal penjualan yang harus dicapai untuk menutup seluruh biaya, baik biaya tetap maupun biaya variabel.

Jika harga terlalu rendah, bisnis akan sulit mencapai titik impas sehingga risiko kerugian meningkat.

Sebaliknya, jika harga terlalu tinggi, kemungkinan produk bisa kurang kompetitif dan penjualan akan menurun.

2. Membantu Mengelola dan Menekan Biaya

Analisis BEP juga menunjukkan pentingnya pengelolaan biaya dalam bisnis. Dengan memahami biaya tetap (sewa, gaji, software) dan biaya variabel (bahan baku, produksi), bisnis bisa mengidentifikasi area yang bisa dioptimalkan, seperti:

  • Negosiasi harga dengan supplier
  • Efisiensi proses produksi
  • Mengurangi biaya operasional yang tidak perlu

Menurunkan biaya akan membuat titik impas lebih cepat tercapai, sehingga kondisi keuangan bisnis menjadi lebih sehat.

3. Mendukung Perencanaan Keuangan

BEP membantu bisnis dalam:

  • Menentukan target penjualan yang realistis
  • Menyusun strategi untuk mencapai target tersebut
  • Mengukur performa bisnis secara berkala

4. Penting bagi Investor dan Pemberi Pinjaman

Investor dan lembaga keuangan sering menggunakan BEP sebagai indikator untuk menilai kelayakan bisnis.

Misalnya, bisnis dengan BEP biasanya memiliki risiko yang lebih kecil, sementara bisnis dengan BEP tinggi memiliki risiko lebih besar.

Semakin cepat bisnis mencapai BEP, semakin besar peluang untuk mendapatkan pendanaan dan investasi.

5. Membantu Simulasi Perubahan Bisnis

BEP juga bisa digunakan untuk menganalisis dampak perubahan, seperti kenaikan harga bahan baku, perubahan harga jual, dan penambahan biaya operasional

Contoh:
Jika harga bahan baku naik, Anda bisa menghitung:

  • Berapa kenaikan harga jual yang diperlukan
  • Atau berapa tambahan penjualan yang harus dicapai

Dengan begitu, keputusan yang diambil menjadi lebih terukur dan tidak spekulatif.

Cara Menghitung Break Even Point

Ada dua rumus BEP (Break Even Point/titik impas) dalam bisnis:

  1. Berdasarkan jumlah unit yang terjual
  2. Berdasarkan nilai penjualan (rupiah)

1. BEP Berdasarkan Unit

Untuk menghitung BEP dalam unit:

Rumus BEP (unit) = Biaya Tetap ÷ (Harga Jual per Unit – Biaya Variabel per Unit)

Keterangan:

  • Biaya tetap adalah biaya yang tidak berubah meskipun jumlah produksi berubah
  • Harga jual per unit adalah harga produk yang dijual ke pelanggan
  • Biaya variabel per unit adalah biaya yang berubah tergantung jumlah produksi

Contoh:

Misalnya Anda mendirikan bisnis kopi dengan rincian biaya sebagai berikut:

  • Biaya tetap per bulan: Rp5.000.000
  • Harga jual 1 cup kopi: Rp20.000
  • Biaya variabel per cup (bahan, gula, cup, dll): Rp8.000

Perhitungan:
BEP = 5.000.000 ÷ (20.000 – 8.000)
BEP = 5.000.000 ÷ 12.000
BEP = 417 cup (dibulatkan)

Artinya, Anda harus menjual minimal 417 cup kopi per bulan agar tidak rugi.

2. BEP Berdasarkan Nilai Penjualan (Rupiah)

Untuk menghitung BEP dalam rupiah:

Rumus: BEP (rupiah) = Biaya Tetap ÷ Margin Kontribusi

Keterangan: Margin Kontribusi = Harga Jual – Biaya Variabel

Contoh:

Dengan menggunakan data yang sama:

  • Harga jual: Rp20.000
  • Biaya variabel: Rp8.000

Margin kontribusi = 20.000 – 8.000 = Rp12.000

Lalu:

BEP (rupiah) = 5.000.000 ÷ 12.000 = 417 unit

Jika dikonversi ke rupiah:
417 × 20.000 = Rp8.340.000

Artinya, Anda harus mencapai penjualan sekitar Rp8,34 juta per bulan untuk mencapai titik impas.

Penjelasan Komponen Penting dalam BEP

1. Biaya Tetap

Biaya tetap adalah pengeluaran yang tidak berubah walaupun penjualan naik atau turun.

Contoh:

  • Sewa ruko
  • Gaji karyawan tetap
  • Biaya berlangganan software 

2. Biaya Variabel

Biaya variabel adalah biaya yang berubah sesuai jumlah produksi atau penjualan.

Contoh:

  • Bahan baku kopi
  • Kemasan
  • Listrik tambahan untuk produksi
  • Upah harian

3. Margin Kontribusi

Margin kontribusi adalah selisih antara harga jual dan biaya variabel. Misalnya, jika harga kopi Rp20.000 dan biaya variabel Rp8.000, maka margin kontribusinya Rp12.000.

Margin ini digunakan untuk berguna untuk menutup biaya tetap, setelah itu baru menghasilkan profit

4. Contribution Margin Ratio (Rasio Margin Kontribusi)

Rasio ini biasanya dalam persen: Rasio = (Margin Kontribusi ÷ Harga Jual) × 100%

Contoh: 12.000 ÷ 20.000 × 100% = 60%

Artinya, 60% dari penjualan digunakan untuk menutup biaya tetap dan laba.

Kesimpulan

Break even point adalah kondisi ketika total pendapatan usaha sudah sama dengan total biaya yang dikeluarkan.

Mengetahui BEP akan sangat membantu Anda mengambil keputusan bisnis yang lebih baik, terutama terkait harga. 

Untuk mempermudah perhitungan dan pemantauan BEP secara otomatis, banyak bisnis kini menggunakan software akuntansi sepertiKledo yang dapat menyajikan laporan keuangan secara real-time.

Bagikan