Panduan 9 Box Talent Management: Indikator, Cara, & Tujuannya

9 Box Talent Management adalah metode pemetaan karyawan berdasarkan kinerja dan potensi untuk mendukung pengembangan SDM.

KantorKu HRIS
Ditulis oleh
KantorKu HRIS • 18 Desember 2025
Key Takeaways
9 Box Talent Management adalah alat pemetaan talenta berdasarkan kinerja dan potensi karyawan.
Matriks ini membagi karyawan ke dalam 9 kotak dengan kombinasi performa dan potensi.
Membantu HR mengidentifikasi high performer dan high potential secara objektif.
Menjadi dasar pengambilan keputusan promosi, pelatihan, dan succession planning.
Efektif untuk pengembangan talenta jangka panjang dan strategi SDM perusahaan.

9 Box Talent Management adalah salah satu kerangka strategis paling penting dalam pengelolaan sumber daya manusia modern, terutama bagi perusahaan yang ingin memastikan keberlanjutan talenta dan kepemimpinan di masa depan.

Melalui pendekatan ini, perusahaan dapat memetakan karyawan berdasarkan kinerja dan potensi secara objektif, sehingga keputusan terkait pengembangan, promosi, hingga suksesi tidak lagi bersifat subjektif atau sekadar intuisi.

Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, kehilangan talenta kunci atau salah menempatkan karyawan bisa berdampak besar pada produktivitas dan pertumbuhan perusahaan.

Sayangnya, masih banyak organisasi yang belum menyadari bahwa tanpa sistem seperti 9 Box Talent Management, pengelolaan talenta berisiko menjadi reaktif, tidak terarah, dan sulit diukur. Perusahaan membutuhkan metode yang mampu menjawab pertanyaan krusial: siapa karyawan dengan potensi tinggi, siapa yang perlu dikembangkan lebih lanjut, dan siapa yang siap menjadi pemimpin berikutnya.

Lalu, bagaimana sebenarnya cara kerja 9 Box Talent Management, apa saja manfaat nyatanya, dan bagaimana penerapannya agar benar-benar efektif di dalam organisasi?

Yuk, temukan jawabannya di bawah ini untuk membangun tim yang kuat, adaptif, dan siap menghadapi tantangan bisnis ke depan.

Apa Itu 9 Box Talent Management?

9 box talent management
Apa Itu 9 Box Talent Management | Sumber: SlideGrand

Melansir dari The Human Capital Hub, 9 Box Talent Management adalah sebuah kerangka kerja manajemen talenta yang membagi karyawan ke dalam sembilan kategori yang berbeda. Kerangka ini menggunakan format matriks 3 x 3 yang memetakan dua dimensi utama, yaitu kinerja (performance) dan potensi (potential).

Dengan kata lain, kerangka ini membantu Anda melihat secara cepat dan objektif posisi setiap karyawan di perusahaan, siapa yang merupakan top performer saat ini, siapa yang perlu dikembangkan, dan siapa yang mungkin perlu dipertimbangkan untuk peran yang berbeda.

Kerangka ini menjadi dasar bagi diskusi strategis mengenai pengembangan SDM dan perencanaan suksesi.

Jika Anda membutuhkan referensi visual, Anda bisa mencari 9 Box Talent Management pdf atau9 Box Talent Management  template free secara daring, atau menyimak penjelasan ini sampai akhir.

Tujuan 9 Box Talent Management

Tujuan utama dari penerapan 9 Box Talent Management adalah menyediakan peta jalan yang jelas bagi manajemen talenta, memastikan bahwa sumber daya pengembangan dialokasikan secara efisien ke karyawan yang paling strategis.

Berikut adalah tujuan 9 Box Talent Management:

1. Perencanaan Suksesi (Succession Planning) yang Efektif

Tujuan ini berfokus pada pengamanan masa depan kepemimpinan perusahaan dengan mengidentifikasi dan mempersiapkan pengganti untuk peran-peran kunci sebelum terjadi kekosongan.

  • Secara eksplisit mengidentifikasi HiPo (High Potentials) yang siap untuk tanggung jawab lebih besar.
  • Memastikan perusahaan memiliki daftar kandidat internal yang mumpuni untuk mengisi posisi penting.
  • Meminimalkan risiko bisnis dan gangguan operasional akibat kekosongan kepemimpinan mendadak.

2. Pengembangan Karyawan yang Tepat Sasaran

Salah satu masalah klasik dalam HR adalah investasi pelatihan yang tidak efisien karena bersifat one-size-fits-all. Dalam hal ini, 9 Box Talent Management mengatasi hal ini dengan memetakan kebutuhan pengembangan karyawan secara spesifik berdasarkan posisi unik mereka di dalam matriks.

  • Menentukan jenis intervensi, coaching, atau pelatihan yang paling sesuai untuk setiap individu.
  • Mengalokasikan sumber daya pengembangan secara proporsional kepada talenta yang paling strategis, memastikan investasi dilakukan secara cost-effective.
  • Menghindari pemberian pelatihan generik yang tidak berdampak signifikan pada peningkatan kinerja atau potensi.

3. Pengambilan Keputusan HR yang Objektif dan Berbasis Data

Matriks 9 Box memberikan kejelasan visual yang sangat dibutuhkan, membantu profesional HR dan manajer mengambil keputusan krusial yang adil, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga secara signifikan mengurangi bias subjektif dalam penilaian.

  • Menyediakan data visual solid yang menggabungkan kinerja dan potensi untuk mendukung keputusan promosi yang strategis.
  • Mendukung keputusan terkait mutasi, rotasi, atau penugasan ulang peran karyawan agar sesuai dengan potensi terbaik mereka.
  • Mendasari peninjauan ulang peran, termasuk perencanaan perbaikan kinerja atau transisi keluar bagi Underperformer (karyawan dengan kinerja dan potensi rendah).

4. Meningkatkan Retensi Karyawan Kunci (HiPo dan Top Performers)

Karyawan terbaik memiliki harapan yang tinggi terhadap pengembangan karier mereka. 9 Box Talent Management membantu mengelola risiko turnover talenta kunci dengan memastikan mereka merasa dihargai, memiliki jalur yang jelas, dan mendapatkan perhatian yang layak.

  • Memberikan jalur karier yang jelas dan terstruktur kepada High Potential untuk menjaga motivasi dan engagement mereka.
  • Memastikan Top Performers (High Performer) mendapatkan pengakuan dan kompensasi yang kompetitif sesuai kontribusi mereka.
  • Mengurangi turnover (pergantian karyawan) dengan menunjukkan bahwa perusahaan secara serius berinvestasi pada masa depan talenta mereka.

5. Memfasilitasi Dialog Kualitas Tinggi Antara Manajer dan HR

Proses kalibrasi 9 Box biasanya akan mengubah pertemuan rutin menjadi diskusi strategis dan kolaboratif. Ini memaksa manajer lini dan HRD untuk bekerja sama, menghasilkan penilaian talenta yang lebih mendalam, akurat, dan konsisten di seluruh organisasi.

  • Mendorong manajer dan HRD untuk melakukan diskusi terkalibrasi dan terstruktur mengenai talenta di setiap departemen.
  • Meningkatkan kualitas feedback yang diberikan kepada karyawan, karena didasarkan pada konsensus multi-pihak.
  • Memastikan bahwa kriteria dan standar penilaian talenta (kinerja dan potensi) diterapkan secara konsisten di seluruh departemen.

6. Mengidentifikasi Kesenjangan Kompetensi Organisasi

Ketika data semua karyawan sudah dipetakan ke dalam matriks, 9 Box dapat berfungsi sebagai alat diagnostik. Ini memungkinkan Anda melihat di mana secara kolektif perusahaan Anda kekurangan talenta penting atau kompetensi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan masa depan.

  • Menyoroti di mana kekurangan talenta atau keterampilan penting yang dibutuhkan perusahaan berkonsentrasi.
  • Memicu inisiatif strategis seperti program pelatihan besar-besaran atau perubahan fokus perekrutan eksternal yang terarah.
  • Menyediakan data untuk memprediksi kebutuhan talenta di masa depan berdasarkan strategi dan arah bisnis perusahaan.

7. Memaksimalkan Nilai dari Penilaian Kinerja (KPI)

Sering kali, data faktual dari hasil penilaian kinerja (KPI) hanya berakhir sebagai laporan retrospektif. Tujuan 9 Box adalah menjadikan data ini strategis, mengubahnya dari tinjauan masa lalu menjadi alat perencanaan yang dapat ditindaklanjuti untuk masa depan.

  • Mengambil hasil KPI yang ada dan menjadikannya sumbu kinerja yang terukur dan terintegrasi.
  • Menggabungkan data kinerja masa lalu dengan penilaian potensi masa depan untuk analisis talenta yang jauh lebih komprehensif.
  • Mengubah proses penilaian kinerja karyawan dari sekadar tinjauan menjadi alat yang vital untuk manajemen talenta.
Banner KantorKu HRIS
Pakai KantorKu HRIS Sekarang!

KantorKu HRIS bantu kelola absensi, payroll, cuti, slip gaji, dan BPJS dalam satu aplikasi.

Dua Sumbu Utama 9 Box Talent Management: Performa vs Potensi

Sumbu Utama 9 Box Talent Management
Sumbu Utama 9 Box Talent Management | Sumber: WebHR

Untuk memastikan Anda tidak salah menilai, sangat penting untuk memahami perbedaan fundamental antara Kinerja (Performance) dan Potensi (Potential), yang menjadi dua sumbu vital dalam matriks 9 Box.

1. Sumbu X (Performance/Kinerja)

Sumbu X atau kinerja, ini lebih mengacu pada seberapa baik karyawan tersebut memenuhi atau melampaui harapan dan target yang ditetapkan untuk perannya. Ini adalah dimensi yang mudah diukur dan bersifat retrospektif (melihat ke masa lalu).

Mengutip dari Peoplehum, setiap karyawan dinilai dalam tiga tingkatan sederhana untuk kedua parameter: rendah (low), sedang (moderate), dan tinggi (high)

Peringkat Kinerja:

  • Low (Rendah): Gagal memenuhi ekspektasi.
  • Moderate (Sedang): Konsisten memenuhi ekspektasi.
  • High (Tinggi): Secara konsisten melampaui ekspektasi.

2. Sumbu Y (Potential/Potensi)

Sedangkan sumbu Y atau potensi, yaitu sebuah kemampuan inheren karyawan untuk berkembang dan mengambil peran serta tanggung jawab yang lebih besar dan lebih kompleks di masa depan.

Sumbu Y lebih bersifat prospektif, sehingga mengukurnya lebih sulit dan memerlukan penilaian terhadap sifat-sifat kunci:

  • Agility (Kelincahan Belajar): Seberapa cepat mereka dapat beradaptasi dan menguasai keterampilan baru?
  • Leadership (Kepemimpinan): Apakah mereka menunjukkan kemampuan untuk mempengaruhi, memotivasi, dan mengarahkan orang lain?
  • Ambisi/Keinginan Belajar: Apakah mereka proaktif mencari tantangan baru dan bersemangat untuk maju?

Bedah 9 Kotak Kategori Karyawan

Setelah Anda memetakan talenta menggunakan dua sumbu Kinerja (X) dan Potensi (Y), hasilnya adalah sembilan kategori karyawan yang berbeda. Setiap kotak membutuhkan strategi pengelolaan dan pengembangan yang unik.

Berikut adalah definisi dari kesembilan kotak yang mewakili kategori karyawan dalam matriks 9 Box Talent Management:

​​1. High Potential (HiPo)

Karyawan di kotak ini adalah aset utama perusahaan Anda. Mereka adalah top performer yang secara konsisten melampaui target saat ini dan pada saat yang sama menunjukkan potensi luar biasa untuk mengambil peran kepemimpinan atau tanggung jawab yang lebih kompleks di masa depan.

Strategi Pengembangan:

Berikan promosi segera, fokus pada jalur karier cepat (fast-track), berikan mentor dari level eksekutif (sponsorship), dan berikan stretch assignments atau penugasan menantang di luar peran biasa.

2. Performance Star (Moderate Performance, High Potential)

Karyawan ini adalah individu dengan bakat alami dan potensi tinggi, namun kinerja mereka saat ini masih belum mencapai level ‘tinggi’ atau masih menunjukkan inkonsistensi.

Biasanya, ini terjadi karena mereka baru dalam peran tersebut, baru beralih tanggung jawab, atau sedang menghadapi tantangan baru yang menuntut adaptasi.

Strategi Pengembangan:

Berikan coaching yang intensif dan terfokus untuk mengatasi hambatan kinerja saat ini. Tawarkan rotasi pekerjaan yang menantang dan peluang belajar yang terstruktur untuk mengaktifkan potensi mereka.

3. High Performer (High Performance, Moderate Potential)

Mereka adalah pekerja keras yang andal dan konsisten. Individu di kotak ini secara rutin memberikan hasil tinggi dan menjadi pilar penting yang menjaga stabilitas departemen.

Namun, potensi mereka untuk melonjak ke peran yang jauh lebih tinggi misalnya, peran C-level atau manajerial senior mungkin terbatas, atau mereka memang memilih untuk fokus sebagai spesialis.

Strategi Pengembangan:

Fokus pada retensi dan pengakuan. Pertahankan mereka dalam peran spesialis kunci yang vital, berikan pengakuan publik yang besar, dan pastikan mereka mendapatkan kompensasi yang kompetitif. Anda bisa melibatkan mereka sebagai mentor untuk anggota tim baru.

4. Unproven Potential (Low Performance, High Potential)

Karyawan ini sering kali adalah question mark yang menarik. Mereka menunjukkan potensi kepemimpinan dan keinginan belajar yang kuat, tetapi kinerjanya saat ini masih berada di bawah ekspektasi.

Ini biasanya terjadi pada karyawan baru atau yang baru saja dipindahkan ke peran yang sama sekali baru.

Strategi Pengembangan:

Beri mereka waktu dan sumber daya yang memadai, serta feedback yang sangat jelas dan spesifik. Lakukan monitoring ketat. Jika kinerja tidak menunjukkan perbaikan dalam periode yang ditentukan, Anda perlu memikirkan ulang apakah peran saat ini benar-benar cocok.

5. Core Performer (Moderate Performance, Moderate Potential)

Inilah tulang punggung yang menopang operasional sehari-hari organisasi Anda. Mereka konsisten memenuhi target dan melakukan pekerjaan mereka dengan baik.

Meskipun mereka tidak menunjukkan potensi besar untuk lonjakan ke peran eksekutif, mereka adalah fondasi yang menjaga perusahaan tetap berjalan stabil.

Strategi Pengembangan: Prioritaskan engagement dan konsistensi. Berikan pelatihan yang fokus pada peningkatan efisiensi, keterampilan teknis, dan penguatan kompetensi di peran mereka saat ini.

6. Specialist/Workhorse (High Performance, Low Potential)

Karyawan ini adalah ahli di bidangnya, mereka unggul dalam peran teknis atau spesialis, selalu mencapai atau melampaui target, tetapi tidak menunjukkan minat atau kemampuan untuk berkembang di luar peran spesialisasinya. Mereka mungkin tidak punya hasrat atau bakat untuk mengelola orang.

Strategi Pengembangan:

Beri pengakuan sebagai ahli subjek (Subject Matter Expert/SME). Pastikan peran mereka tetap vital dan berikan kompensasi yang layak untuk spesialisasi mereka. Jangan paksakan mereka ke jalur manajerial jika mereka tidak memiliki potensi atau keinginan.

7. Question Mark (Low Performance, Moderate Potential)

Karyawan yang masuk kategori ini adalah individu yang berpotensi namun kinerjanya buruk atau sangat tidak konsisten. Ada kemungkinan besar terdapat masalah di luar kemampuan atau bakat mereka yang menghalangi mereka untuk tampil optimal.

Strategi Pengembangan:

Tugas pertama Anda adalah mendiagnosis akar masalahnya: Apakah kurang pelatihan? Apakah motivasi rendah? Apakah lingkungan kerja tidak mendukung? Setelah itu, berikan rencana perbaikan kinerja (PIP) yang sangat jelas, terukur, dan terikat waktu.

8. Low Performer (Moderate Performance, Low Potential)

Karyawan di kotak ini menunjukkan kinerja yang hanya memadai dan potensi perkembangannya terlihat rendah. Mereka cenderung sudah mencapai batas kemampuan mereka di posisi saat ini. Mereka adalah karyawan yang acceptable tetapi tidak memberikan nilai lebih strategis.

Strategi Pengembangan:

Alihkan ke peran yang lebih cocok jika memungkinkan, atau batasi investasi pengembangan yang intensif.

Pertahankan mereka di peran yang membutuhkan sedikit pengawasan, tetapi pertimbangkan apakah mereka menghabiskan waktu dan sumber daya yang lebih baik dialokasikan untuk talenta lain.

9. Underperformer (Low Performance, Low Potential)

Ini adalah karyawan yang paling berisiko dan paling membebani organisasi. Mereka secara konsisten gagal mencapai target dan tidak menunjukkan potensi yang berarti untuk berkembang. Mereka membutuhkan perhatian mendalam dan keputusan yang tegas.

Strategi Pengembangan:

Lakukan evaluasi mendalam segera. Setelah intervensi yang jelas, coaching, dan rencana perbaikan kinerja gagal menghasilkan peningkatan, Anda perlu mempertimbangkan dan mengelola transisi keluar dari perusahaan untuk kepentingan organisasi secara keseluruhan.

Baca Juga: Panduan Penilaian Kinerja: Metode, Contoh, & 4 Caranya

Cara Membuat 9 Box Grid

Menyusun 9 Box Grid merupakan exercise strategis yang membutuhkan kolaborasi erat antara HRD dan manajer departemen, serta pendekatan yang terkalibrasi dengan baik agar hasilnya benar-benar mencerminkan kondisi talenta di organisasi.

Tanpa proses yang sistematis, 9 Box Grid justru berisiko memperkuat bias subjektif dan menghasilkan keputusan pengembangan yang keliru.

Berikut adalah tahapan pembuatan 9 Box Grid yang komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan secara bisnis.

1. Definisikan Kriteria Penilaian Kinerja dan Potensi Secara Objektif

Kriteria Penilaian Kinerja
Kriteria Penilaian Kinerja | Sumber: BambooHR

Langkah paling krusial dalam membuat 9 Box Grid adalah menetapkan definisi yang jelas dan terstandarisasi mengenai apa yang dimaksud dengan kinerja (performance) dan potensi (potential).

Tanpa kesepakatan ini, setiap manajer akan menggunakan interpretasi masing-masing, sehingga hasil pemetaan menjadi tidak konsisten.

Kinerja (performance) harus berbasis pada data faktual dan terukur, bukan persepsi personal. Contoh indikator yang relevan antara lain:

  • Pencapaian KPI atau OKR,
  • Target penjualan atau produktivitas,
  • Kualitas output kerja,
  • Feedback pelanggan atau stakeholder internal,
  • Hasil penilaian kinerja periodik.

Dalam praktiknya, sebagaimana dijelaskan dalam jurnal terkait penerapan 9 Box Talent Management, performance review umumnya menggunakan skala numerik 1,00–5,00 yang kemudian dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama 9 Box:

  • Low Performance: Poor (0,00–1,49) dan Below Expectation (1,50–2,99)
  • Moderate Performer: Meet Expectation (3,00–3,50)
  • High Performance: Exceed Expectation (3,61–4,25) dan Outstanding (4,26–5,00)

Sebagai contoh, jika seorang karyawan memiliki nilai KPI di rentang 3,00–3,50, maka secara objektif ia dikategorikan sebagai moderate performer, bukan berdasarkan opini atasan semata.

Sementara itu, potensi (potential) tidak menilai apa yang telah dicapai, melainkan kapasitas karyawan untuk tumbuh dan memegang tanggung jawab yang lebih besar di masa depan. Oleh karena itu, potensi harus diukur melalui kompetensi inti yang relevan dengan kepemimpinan dan peran strategis, seperti:

  • Strategic thinking: kemampuan melihat gambaran besar dan mengambil keputusan jangka panjang,
  • Learning agility: kecepatan belajar dan beradaptasi terhadap perubahan,
  • Resilience: ketahanan menghadapi tekanan dan kegagalan,
  • Leadership influence: kemampuan memengaruhi dan menggerakkan orang lain,
  • Problem-solving complexity: kemampuan menangani masalah yang tidak terstruktur.

Dengan kriteria yang jelas dan terstandarisasi ini, perusahaan dapat memastikan bahwa penilaian dilakukan secara konsisten dan adil di seluruh organisasi.

2. Kumpulkan dan Validasi Data Kinerja Karyawan

aplikasi penilaian kinerja pegawai
Dashboard KPI/OKR KantorKu HRIS

Setelah kriteria ditetapkan, tahap berikutnya adalah mengumpulkan data kinerja historis. Idealnya, data diambil dari periode penilaian terakhir, yaitu 6 bulan hingga 1 tahun, agar mencerminkan performa yang stabil, bukan hasil sesaat.

Pada tahap ini, manajer diminta untuk memberikan klasifikasi kinerja (Rendah, Sedang, atau Tinggi) dengan dukungan bukti konkret, seperti:

  • Laporan pencapaian KPI,
  • Hasil performance appraisal,
  • Data absensi dan produktivitas,
  • Catatan pencapaian atau pelanggaran.

HRD berperan sebagai quality control untuk memastikan bahwa skor yang diberikan tidak hanya berbasis opini, tetapi didukung oleh data yang dapat diverifikasi.

3. Lakukan Penilaian Potensi Secara Multi-Perspektif

Penilaian Potensi
Penilaian Potensi | Sumber: Dealls

Berbeda dengan penilaian kinerja, penilaian potensi bersifat lebih prediktif dan abstrak, sehingga menjadi tahap paling menantang dalam 9 Box Grid. Oleh sebab itu, penilaian potensi tidak boleh dilakukan oleh satu orang saja.

Pendekatan yang direkomendasikan adalah multi-rater assessment, yang melibatkan:

  • Manajer lini,
  • HRD atau HR Business Partner,
  • Hasil alat asesmen kompetensi (jika tersedia).

Mengacu pada praktik dalam jurnal, penilaian potensi dapat dilakukan melalui kombinasi metode berikut:

  • Tes psikologis seperti IST, Kraepelin, PAPI Kostick, dan DISC,
  • Situational Judgment Test (SJT) dan work sample untuk menilai pengambilan keputusan dan kemampuan kerja nyata,
  • Wawancara semi-terstruktur dengan pendekatan Behavioral Event Interview (BEI) untuk menggali perilaku masa lalu sebagai prediktor kinerja masa depan.

Pendekatan multi-metode ini membantu perusahaan memperoleh gambaran potensi yang lebih menyeluruh dan mengurangi risiko bias subjektif.

Baca Juga: Contoh Penilaian Kinerja Karyawan serta Indikator & Metodenya [+Template!]

4. Lakukan Sesi Kalibrasi dan Penempatan Karyawan

Setelah data kinerja dan potensi terkumpul, tahap berikutnya adalah sesi kalibrasi. Dalam sesi ini, seluruh manajer dan HRD duduk bersama untuk mendiskusikan dan menyepakati penempatan setiap karyawan ke dalam 9 Box Grid.

Tujuan utama kalibrasi adalah:

  • Menyamakan standar penilaian antar departemen,
  • Menghindari bias personal atau konflik kepentingan,
  • Memastikan konsistensi dan keadilan dalam pemetaan talenta.

Kalibrasi sangat penting karena satu karyawan dengan skor “tinggi” di satu departemen belum tentu setara dengan “tinggi” di departemen lain.

5. Finalisasi Peta Talenta dan Implementasi Strategi Pengembangan

Tahap akhir adalah finalisasi 9 Box Grid dan penerjemahannya ke dalam strategi pengelolaan talenta yang konkret. Di sinilah 9 Box Grid berubah dari alat pemetaan menjadi alat pengambilan keputusan strategis.

Setiap kotak dalam grid harus diikuti dengan rencana tindak lanjut yang spesifik, misalnya:

  • Program akselerasi dan suksesi untuk high performance–high potential,
  • Pelatihan dan coaching untuk karyawan dengan potensi tinggi namun kinerja belum optimal,
  • Performance improvement plan atau rotasi peran untuk karyawan dengan kinerja rendah.

Tanpa tindak lanjut yang jelas, 9 Box Grid hanya akan menjadi dokumen statis. Sebaliknya, ketika diintegrasikan dengan strategi pengembangan, suksesi, dan retensi, 9 Box Grid menjadi fondasi penting dalam membangun pipeline talenta jangka panjang perusahaan.

Banner KantorKu HRIS
Pakai KantorKu HRIS Sekarang!

KantorKu HRIS bantu kelola absensi, payroll, cuti, slip gaji, dan BPJS dalam satu aplikasi.

Strategi Pengembangan SDM Berdasarkan Kotak

Setelah Anda berhasil memetakan semua karyawan ke dalam 9 Box Grid, pekerjaan selanjutnya adalah bertindak.

Nilai sebenarnya dari alat ini terletak pada seberapa efektif Anda menggunakan hasil pemetaan tersebut untuk merancang strategi pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terarah.

Setiap kotak menuntut pendekatan manajemen yang berbeda, memastikan bahwa sumber daya perusahaan (waktu, anggaran pelatihan, dan coaching) dialokasikan secara proporsional kepada talenta yang paling strategis.

Berikut adalah strategi pengembangan singkat yang dapat Anda terapkan berdasarkan posisi karyawan dalam matriks:

Kategori Kotak Posisi (Kinerja/Potensi) Strategi Utama Aksi Kunci
Bintang (HiPo) Tinggi / Tinggi Akselerasi & Retensi Promosi, suksesi cepat, executive mentoring
Performance Star Sedang / Tinggi Pengembangan Terfokus Coaching intensif, rotasi kerja menantang
High Performer Tinggi / Sedang Pengakuan & Penghargaan Kompensasi kompetitif, mentor internal
Unproven Potential Rendah / Tinggi Investigasi & Dukungan Sumber daya tambahan, feedback jelas, monitoring
Core Performer Sedang / Sedang Keterlibatan & Stabilitas Pelatihan efisiensi, jaga motivasi
Specialist / Workhorse Tinggi / Rendah Pertahankan & Hargai Pengakuan SME, kompensasi spesialisasi
Question Mark Rendah / Sedang Intervensi Kinerja PIP, coaching kinerja
Low Performer Sedang / Rendah Penempatan Ulang Alih tugas, batasi pengembangan
Underperformer Rendah / Rendah Manajemen Risiko Evaluasi mendalam, rencana transisi keluar

Kelebihan dan Kekurangan Metode 9 Box Talent Management

Meskipun 9 Box Talent Management adalah alat yang luar biasa powerful, penting bagi Anda untuk memahami bahwa seperti metode manajemen talenta lainnya, kerangka ini juga memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu dipertimbangkan secara matang sebelum diimplementasikan.

Kelebihan Metode 9 Box Grid

Kerangka 3 x 3 ini menawarkan sejumlah manfaat strategis yang dapat meningkatkan efisiensi proses manajemen talenta di perusahaan Anda:

1. Sederhana dan Visual

Matriks ini sangat mudah dipahami dan memberikan gambaran cepat, bahkan bagi eksekutif non-HR, mengenai komposisi talenta perusahaan secara keseluruhan. Ini mempermudah pengambilan keputusan di level strategis.

2. Mendorong Dialog Strategis

Metode ini secara fundamental mengubah fokus dari sekadar meninjau kinerja masa lalu menjadi mendiskusikan potensi masa depan. Ini memaksa manajer dan HRD untuk secara aktif berbicara mengenai perencanaan karier dan suksesi.

3. Alat Perencanaan Suksesi yang Efektif

Matriks ini secara eksplisit mengidentifikasi kandidat yang paling siap (HiPo) untuk segera mengisi posisi kunci, sehingga memperkuat pondasi kepemimpinan organisasi di masa depan.

4. Mengalokasikan Sumber Daya secara Tepat

9 Box memastikan bahwa investasi waktu dan uang untuk pengembangan (pelatihan, coaching) ditujukan secara proporsional kepada karyawan yang paling potensial dan strategis, memaksimalkan return on investment (ROI) HR.

Kekurangan Metode 9 Box Grid

Meskipun kuat, ada beberapa tantangan dalam implementasi yang perlu Anda kelola dengan hati-hati:

1. Subjektivitas Penilaian Potensi

Sumbu Potensi lebih sulit diukur dibandingkan Kinerja (KPI), sehingga penilaian ini sangat rentan terhadap bias personal, prasangka manajer, atau kurangnya kriteria yang objektif jika proses kalibrasi tidak dilakukan secara ketat.

2. Membutuhkan Budaya Keterbukaan

Jika hasil pemetaan dibagikan secara terbuka, karyawan yang ditempatkan di kotak “Bintang” bisa termotivasi, namun karyawan di kotak “risiko rendah” (Low Performer atau Underperformer) bisa merasa patah semangat atau dilabeli.

3. Potensi Stigmatisasi

Ada risiko bahwa karyawan di kotak bawah (potensi dan kinerja rendah) merasa dilabeli secara permanen, yang dapat merusak moral dan menurunkan upaya mereka untuk perbaikan.

Baca Juga: 45 Contoh Komentar Penilaian Kinerja Karyawan & Tips Membuatnya

Saatnya Permudah Kelola Penilaian Kinerja Karyawan Pakai KantorKu HRIS!

Jika saat ini Anda masih mengelola absensi, data SDM karyawan, KPI, hingga payroll secara manual atau menggunakan spreadsheet yang rumit, ini saatnya beralih.

Semua data yang Anda butuhkan untuk mengisi matriks 9 Box, seperti data absensi, hasil penilaian KPI, hingga riwayat pelatihan, dapat dikelola dalam satu sistem terpusat.

Jangan biarkan pekerjaan administrasi menghalangi Anda dalam fokus pada pengembangan talenta strategis. Ketika terbesit untuk beralih ke sistem HRIS dari manual, segera pakai rekomendasi aplikasi penilaian kinerja karyawan terpercaya.

Performance-Review
Dashboard Penilaian Kinerja Karyawan Pakai KantorKu HRIS

KantorKu HRIS adalah aplikasi penilaian kinerja karyawan yang membebaskan tim HR Anda dari beban administratif, sehingga mereka bisa fokus pada strategi besar seperti implementasi 9 Box Talent Management untuk menemukan dan mengembangkan bintang masa depan perusahaan Anda.

Tertarik untuk melihat bagaimana data absensi dan KPI karyawan Anda bisa langsung terhubung ke strategi 9 Box Talent Management?

Saatnya Pakai KantorKu HRIS
Coba Demo Gratis Hari Ini!

Banner KantorKu HRIS
Pakai KantorKu HRIS Sekarang!

KantorKu HRIS bantu kelola absensi, payroll, cuti, slip gaji, dan BPJS dalam satu aplikasi.

Sumber:

Peoplehum. 9-Box Grid.

The Human Capital Hub. 9 Box Grid: a Guide to Using The 9 Box Grid.

Bagikan

Related Articles

contoh kpi admin kantor

10 Contoh KPI Admin Kantor, Ini Indikator & Panduannya!

Contoh KPI admin kantor lengkap untuk menilai ketepatan waktu, akurasi dokumen, respons kerja, hingga efisiensi administrasi.
30 Januari 2026
contoh kpi it support

20 Contoh KPI IT Support Perusahaan untuk Mengukur Performa Tim

KPI IT Support perusahaan mencakup response time, MTTR, SLA compliance, FCR, backlog tiket, CSAT, hingga cost per ticket. Cek indikatornya!
30 Januari 2026
contoh kpi hr manager

10 Contoh KPI HR Manager dari Cost per Hire hingga Turnover Rate

Cek contoh KPI HR Manager seperti Time to Hire, Cost per Hire, Turnover Rate, Retention Rate, Absenteeism, hingga Training Hours, Engagement.
30 Januari 2026