50 Contoh Exit Interview yang Bisa Anda Tanyakan ke Karyawan

Kumpulan contoh exit interview karyawan dan jawabannya yang bisa ditanyakan untuk menggali alasan resign dan memperbaiki retensi perusahaan.

KantorKu HRIS
Ditulis oleh
KantorKu HRIS • 02 Mei 2026
Table of Contents
Key Takeaways
Tujuan exit interview menggali alasan di balik keputusan resign untuk memperbaiki retensi
Idealnya dilakukan di minggu terakhir sebelum tanggal efektif keluar (last day)
Pertanyaan sebaiknya meliputi alasan keluar, hubungan dengan atasan, hingga beban kerja
Pastikan karyawan tahu bahwa umpan balik mereka akan dijaga kerahasiaannya
Insight dari wawancara harus dijadikan bahan evaluasi untuk manajemen tingkat atas

Exit interview adalah sesi percakapan yang terstruktur antara perusahaan dengan karyawan yang akan keluar.

Sesi percakapan ini hanya dilakukan saat seorang karyawan hendak keluar. Tujuannya untuk mengetahui alasan karyawan resign guna memperbaiki proses kerja ke depannya.

Sebagai pelaku usaha maupun HRD, pastikan Anda mempersiapkan sesi ini secara matang supaya bisa mendapatkan sumber insight yang berharga.

Maka agar lebih siap mengadakannya, mari pahami dulu contoh exit interview karyawan, daftar pertanyaan yang bisa digunakan hingga potensi jawaban yang muncul!

1. Apa Alasan Anda Memutuskan Keluar dari Perusahaan ini?

Pertanyaan ini adalah dasar dari hampir semua exit interview karena langsung mengarah ke penyebab utama karyawan resign

Dari jawaban ini, Anda bisa mengetahui apakah pemicunya berasal dari gaji, atasan, budaya kerja, beban kerja, atau faktor pribadi. 

Jika beberapa karyawan memberi jawaban yang mirip, itu bisa menjadi sinyal bahwa ada pola masalah yang perlu segera ditangani.

Contoh Jawaban:

“Saya memutuskan keluar karena merasa peluang pengembangan karier di posisi saya saat ini cukup terbatas. Selain itu, saya juga mendapatkan tawaran pekerjaan yang lebih sesuai dengan target jangka panjang saya.”

2. Kapan Anda Mulai Mempertimbangkan untuk Resign?

Pertanyaan ini membantu Anda memahami apakah keputusan resign muncul secara tiba-tiba atau sudah dipikirkan sejak lama. 

Jawaban karyawan bisa menunjukkan apakah ada satu kejadian tertentu yang memicu keputusan tersebut, atau justru ada akumulasi ketidakpuasan yang dibiarkan berlarut-larut. 

Contoh Jawaban:

“Saya mulai mempertimbangkan resign sekitar enam bulan terakhir. Awalnya hanya merasa jenuh, tetapi lama-kelamaan saya merasa perlu mencari lingkungan kerja yang memberi tantangan dan arah karier yang lebih jelas.”

3. Apa yang Membuat Anda Mulai Mencari Pekerjaan Lain?

Pertanyaan ini berguna untuk menggali titik awal saat karyawan mulai membuka peluang di luar perusahaan. 

Jawaban dari pertanyaan ini dapat membantu perusahaan memahami apa yang dianggap lebih menarik di luar, lalu menggunakannya sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat retensi.

Contoh Jawaban:

“Saya mulai mencari pekerjaan lain karena ingin mendapatkan peran yang lebih berkembang dan punya ruang belajar yang lebih besar. Saya juga merasa pekerjaan saya saat ini sudah cukup stagnan.”

4. Apakah Anda Sempat Menyampaikan Kendala sebelum Memutuskan Keluar?

Jika ternyata mereka sudah pernah menyampaikan masalah tetapi tidak mendapatkan respons yang memadai, berarti ada celah dalam komunikasi internal atau tindak lanjut manajemen. 

Masukan seperti ini penting karena bisa menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem pelaporan dan peran HR.

Contoh Jawaban:

“Ya, saya sempat menyampaikan soal beban kerja dan pembagian tugas di tim kepada atasan. Namun saat itu belum ada perubahan yang cukup terasa, jadi akhirnya saya mulai mempertimbangkan opsi lain.”

5. Apakah Ada Hal yang Bisa Kami Lakukan agar Anda tetap bertahan?

Kadang karyawan pergi bukan karena ingin keluar sejak awal, tetapi karena merasa tidak ada perubahan setelah masalah muncul. 

Dari jawaban ini, perusahaan bisa memahami tindakan apa yang paling sesuai untuk mencegah resign serupa di masa depan.

Contoh Jawaban:

“Mungkin jika ada kejelasan jenjang karier dan evaluasi beban kerja yang lebih cepat, saya akan mempertimbangkan untuk bertahan lebih lama. Bagi saya, bukan hanya soal kompensasi, tetapi juga soal arah perkembangan.”

Banner KantorKu HRIS
Selesaikan Administrasi HR dalam Satu Sistem

Pastikan transisi berjalan mulus dengan KantorKu HRIS, mulai dari penarikan data absensi, perhitungan gaji, hingga pengelolaan dokumen!

6. Apa yang Paling Anda Nantikan dari Pekerjaan Baru Anda?

Pertanyaan ini membantu perusahaan memahami daya tarik dari tempat kerja baru yang dipilih karyawan. 

Jawabannya bisa berkaitan dengan gaji yang lebih baik, jalur karier yang lebih jelas, budaya kerja yang lebih sehat, fleksibilitas kerja, atau kepemimpinan yang lebih suportif.

Contoh Jawaban:

“Saya paling menantikan kesempatan untuk belajar hal baru dan mengambil tanggung jawab yang lebih besar. Selain itu, saya juga tertarik dengan sistem kerja yang lebih fleksibel di perusahaan baru.”

7. Bagaimana Anda Menilai Pengalaman Kerja Anda secara Keseluruhan di Perusahaan ini?

Dari jawaban mereka, Anda bisa melihat apakah pengalaman kerja yang dirasakan cenderung positif, campuran, atau justru lebih banyak mengecewakan. 

Bagi HR dan pemilik usaha, jawabannya dipakai untuk membaca kesan akhir karyawan terhadap perusahaan yang mana bisa berpengaruh pada reputasi employer brand.

Contoh Jawaban:

“Secara keseluruhan pengalaman saya cukup baik. Saya banyak belajar dan mendapatkan rekan kerja yang suportif, meskipun ada beberapa hal terkait komunikasi dan pengembangan karier yang menurut saya masih bisa ditingkatkan.”

8. Apa Hal Terbaik yang Anda Rasakan Selama Bekerja di Sini?

Exit interview tidak hanya perlu membahas masalah, tetapi juga perlu menangkap sisi positif yang dirasakan karyawan. 

Pertanyaan ini membantu perusahaan mengetahui kekuatan yang selama ini sudah berjalan baik, seperti tim yang suportif, budaya kerja yang nyaman atau atasan yang membantu.

Contoh Jawaban:

“Hal terbaik bagi saya adalah lingkungan tim yang cukup suportif. Saya merasa rekan-rekan kerja sangat membantu saat ada kendala, dan itu membuat pekerjaan terasa lebih nyaman dijalani.”

Baca Juga: 7 Prosedur Exit Clearance & Syarat Dokumen [+Form Template]

9. Apa Hal Paling Mengecewakan yang Anda Hadapi selama Bekerja di Sini?

Pertanyaan ini membantu menggali hambatan yang dirasakan karyawan selama masa kerjanya. 

Pertanyaan ini dapat mengungkap masalah yang sering tidak terlihat dalam evaluasi formal sehari-hari.

Contoh Jawaban:

“Hal yang paling sulit bagi saya adalah perubahan prioritas kerja yang terlalu sering tanpa arahan yang jelas. Akibatnya, pekerjaan jadi terasa kurang terarah dan cukup melelahkan secara mental.”

10. Apakah Job Description Sejak Awal Sudah Jelas?

Pertanyaan ini bertujuan menilai apakah ekspektasi kerja sudah dikomunikasikan dengan baik sejak proses rekrutmen dan onboarding

Jika karyawan merasa perannya tidak jelas sejak awal, maka ada kemungkinan terjadi masalah pada penyusunan job description, penjelasan saat wawancara, atau proses adaptasi. 

Contoh Jawaban:

“Pada awal bergabung, gambaran job description saya cukup jelas. Namun dalam praktiknya ada beberapa tugas tambahan di luar ekspektasi awal yang sebenarnya perlu dijelaskan lebih detail sejak proses onboarding.”

11. Apakah Beban Kerja Anda Menurut Anda Sudah Wajar?

Contoh pertanyaan exit interview ini perlu diajukan untuk mengetahui apakah karyawan merasa kewalahan. 

Beban kerja yang tidak seimbang sering menjadi sumber stres, kelelahan, hingga keputusan resign

Contoh Jawaban:

“Secara umum beban kerja saya cukup tinggi, terutama pada periode tertentu yang sangat padat. Saya masih bisa mengerjakannya, tetapi dalam jangka panjang ritme kerja seperti itu cukup melelahkan.”

12. Apakah Anda Merasa Punya Sumber Daya yang Cukup untuk Menjalankan Pekerjaan dengan Baik?

Pertanyaan ini membantu perusahaan menilai apakah karyawan didukung oleh alat dan sistem yang memadai. 

Kendala kerja bisa muncul bukan karena kemampuan karyawan kurang, tetapi karena dukungan dari perusahaan belum optimal. 

Contoh Jawaban:

“Belum sepenuhnya. Ada beberapa tools dan alur kerja yang sebenarnya masih bisa dibuat lebih efisien agar pekerjaan sehari-hari lebih cepat dan tidak terlalu manual.”

13. Apakah Anda Merasa Mendapat Pelatihan yang Cukup untuk Menjalankan Peran Anda?

Jika karyawan merasa kurang dibekali, maka perusahaan perlu meninjau apakah pelatihan yang diberikan sudah sesuai kebutuhan peran. 

Pertanyaan ini perlu diajukan karena minimnya pelatihan bisa membuat karyawan bekerja dengan kebingungan.

Contoh Jawaban:

“Di awal saya mendapat pengenalan dasar, tetapi menurut saya pelatihan lanjutan masih kurang. Beberapa hal akhirnya saya pelajari sendiri sambil berjalan.”

14. Apakah Anda Merasa Peran Anda Menantang dengan Cara yang Sehat?

Pertanyaan ini membantu melihat apakah pekerjaan yang dijalani memberi ruang berkembang tanpa membuat karyawan terlalu tertekan. 

Dari jawaban ini, perusahaan bisa menilai apakah desain peran dan ekspektasi kerja sudah seimbang.

Contoh Jawaban:

“Sebagian besar tugas saya cukup menantang dan membuat saya belajar banyak. Namun di beberapa waktu, tuntutannya terasa cukup tinggi tanpa dukungan yang seimbang, jadi tantangannya agak berat.”

15. Apakah Anda melihat Jalur Karier yang Jelas selama Bekerja di Sini?

Kejelasan karier adalah salah satu faktor yang memengaruhi keputusan karyawan untuk bertahan. 

Jika mereka merasa tidak tahu arah perkembangan berikutnya, motivasi kerja bisa turun meski lingkungan kerjanya cukup baik. 

Contoh Jawaban:

“Sejujurnya saya belum melihat jalur karier yang benar-benar jelas. Ada peluang berkembang, tetapi arahnya belum terlalu terlihat dan belum ada gambaran yang konkret.”

16. Apakah Anda Merasa Peluang Pengembangan Diri di Perusahaan ini Sudah Cukup?

Pertanyaan ini membantu menggali apakah karyawan merasa punya kesempatan untuk belajar, berkembang, dan meningkatkan kemampuan selama bekerja. 

Jika peluang ini minim, karyawan biasanya akan lebih mudah tertarik pada perusahaan lain yang menawarkan growth lebih jelas.

Contoh Jawaban:

“Untuk pengembangan diri, saya merasa ada beberapa kesempatan, tetapi belum terlalu konsisten. Saya berharap ada program yang lebih terstruktur agar karyawan bisa berkembang dengan lebih jelas.”

17. Bagaimana Hubungan Anda dengan Atasan Langsung?

Atasan yang komunikatif, suportif, dan adil biasanya membuat tim lebih nyaman, sedangkan hubungan yang kurang sehat sering menjadi alasan utama resign. 

Dari jawaban ini, perusahaan pun bisa menilai kualitas kepemimpinan secara lebih nyata dari sudut pandang bawahan.

Contoh Jawaban:

“Hubungan saya dengan atasan secara profesional cukup baik. Namun dalam beberapa situasi, saya merasa komunikasi kami masih bisa lebih terbuka agar ekspektasi kerja tidak mudah salah dipahami.”

18. Apakah Anda Merasa Nyaman Berkomunikasi dengan Atasan?

Pertanyaan ini menggali apakah karyawan merasa aman untuk berbicara, bertanya, atau menyampaikan kendala kepada atasan. 

Dalam konteks exit interview dengan manager, pertanyaan seperti ini perlu karena dapat menunjukkan apakah gaya komunikasi atasan justru menjadi faktor yang mendorong resign.

Contoh Jawaban:

“Untuk hal-hal teknis saya cukup nyaman berdiskusi. Namun untuk menyampaikan masukan atau kendala yang lebih sensitif, saya kadang masih merasa ragu.”

19. Apakah Anda Merasa Didukung oleh Atasan dalam Pekerjaan Sehari-hari?

Karyawan yang merasa kurang didukung biasanya lebih mudah stres dan merasa bekerja sendirian. 

Jawaban dari pertanyaan ini dapat membantu perusahaan menilai apakah para manajer sudah menjalankan perannya sebagai pemimpin tim dengan baik.

Contoh Jawaban:

“Dalam beberapa hal saya merasa didukung, terutama saat ada pekerjaan yang mendesak. Tetapi untuk pengembangan jangka panjang dan diskusi karier, saya merasa dukungannya masih belum terlalu terasa.”

20. Apakah Anda Menerima Feedback yang Cukup dari Atasan?

Pertanyaan ini membantu mengetahui apakah karyawan mendapat arahan dan evaluasi yang cukup selama bekerja. 

Feedback yang baik seharusnya rutin, jelas, dan membantu karyawan berkembang, bukan hanya muncul saat terjadi kesalahan.

Contoh Jawaban:

“Saya menerima feedback, tetapi belum terlalu rutin. Akan lebih membantu jika ada evaluasi yang lebih terjadwal supaya saya bisa lebih tahu area mana yang perlu diperbaiki dan area mana yang sudah berjalan baik.”

21. Apakah Kontribusi Anda selama Bekerja Sudah Cukup Dihargai?

Contoh pertanyaan exit interview berikutnya untuk mengetahui apakah karyawan merasa upaya, hasil kerja, dan pencapaiannya diperhatikan oleh perusahaan. 

Rasa dihargai tidak selalu datang dari bonus atau insentif, tetapi juga dari apresiasi, pengakuan, dan kepercayaan yang diberikan dalam pekerjaan. 

Contoh Jawaban:

“Saya merasa beberapa kontribusi saya dihargai, terutama saat target tim tercapai. Namun, dalam keseharian, saya masih merasa apresiasi terhadap usaha individu bisa lebih ditingkatkan.”

22. Apakah Pernah Ada Situasi di Mana Anda Merasa Tidak Didukung atau Tidak Dihargai?

Dengan mengetahui contoh situasi nyata, perusahaan bisa memahami titik masalah secara lebih jelas dan tidak hanya menebak-nebak penyebab ketidakpuasan karyawan. 

Jawaban dari pertanyaan ini juga berguna untuk melihat apakah ada pola dalam budaya kerja yang perlu diperbaiki.

Contoh Jawaban:

“Ada beberapa situasi ketika pekerjaan tambahan yang cukup besar dianggap sebagai hal biasa tanpa ada diskusi atau apresiasi lebih lanjut. Bagi saya, hal seperti itu cukup memengaruhi semangat kerja.”

23. Bagaimana Anda Menilai Budaya Kerja di Perusahaan Ini?

Budaya kerja mencakup cara tim berinteraksi, cara atasan memimpin, cara perusahaan mengambil keputusan, hingga bagaimana tekanan kerja dikelola. 

Dari jawaban ini, perusahaan bisa mengetahui apakah budaya yang dibangun sudah sehat, produktif, dan selaras dengan nilai yang ingin ditonjolkan.

Contoh Jawaban:

“Budaya kerjanya cukup dinamis dan cepat, jadi cocok untuk orang yang suka tantangan. Namun menurut saya, ada beberapa area yang masih perlu diperbaiki, terutama dalam komunikasi dan konsistensi antar tim.”

24. Apakah Anda Merasa Cocok dengan Nilai dan Cara Kerja Perusahaan?

Pertanyaan ini membantu perusahaan memahami apakah ada kecocokan antara nilai pribadi karyawan dengan budaya organisasi. 

Kadang seseorang bisa bekerja dengan baik secara teknis, tetapi tetap merasa tidak cocok karena cara kerja perusahaan berbeda dengan harapannya. 

Contoh Jawaban:

“Di beberapa sisi saya merasa cocok, terutama dalam semangat kerja dan target yang ingin dicapai. Namun untuk cara kerja sehari-hari, saya merasa ada beberapa hal yang kurang sesuai dengan preferensi dan gaya kerja saya.”

25. Bagaimana Hubungan Anda dengan Rekan Kerja Satu Tim?

Rekan kerja yang suportif bisa membantu mengurangi tekanan, mempercepat adaptasi, dan membuat suasana kerja lebih sehat. 

Namun, jika hubungan dalam tim kurang baik, hal itu bisa menambah beban emosional meskipun pekerjaan secara teknis masih bisa dijalankan.

Contoh Jawaban:

“Hubungan saya dengan rekan satu tim cukup baik. Kami bisa bekerja sama dengan nyaman, dan saya merasa tim banyak membantu ketika ada pekerjaan yang menumpuk atau situasi yang cukup menekan.”

26. Apakah Ada Kebijakan Perusahaan yang Menurut Anda Kurang Efektif?

Pertanyaan ini berguna untuk melihat apakah ada aturan yang justru menghambat pekerjaan. Terkadang kebijakan dibuat dengan niat baik, tetapi praktiknya tidak sesuai kondisi lapangan. 

Masukan seperti ini berguna karena dapat membantu perusahaan memperbaiki proses kerja agar lebih efisien.

Contoh Jawaban:

“Menurut saya ada beberapa alur persetujuan yang terlalu panjang untuk pekerjaan yang sebenarnya sederhana. Akibatnya, proses kerja jadi lebih lambat dan kadang menghambat penyelesaian tugas.”

Banner KantorKu HRIS
Selesaikan Administrasi HR dalam Satu Sistem

Pastikan transisi berjalan mulus dengan KantorKu HRIS, mulai dari penarikan data absensi, perhitungan gaji, hingga pengelolaan dokumen!

27. Apakah Anda Merasa Work-Life Balance Anda Terjaga selama Bekerja di Sini?

Work-life balance yang buruk sering menjadi penyebab kelelahan, stres berkepanjangan, dan akhirnya mendorong karyawan untuk resign

Jawaban dari pertanyaan ini bisa menjadi bahan evaluasi penting untuk kebijakan kerja, target, dan ekspektasi manajemen.

Contoh Jawaban:

“Untuk periode normal, work-life balance saya masih cukup terjaga. Namun saat pekerjaan sedang padat, ritmenya cukup berat dan kadang membuat waktu istirahat jadi berkurang.”

28. Apakah Anda akan Merekomendasikan Perusahaan Ini kepada Teman atau Kolega?

Jika seseorang masih bersedia merekomendasikan tempat kerjanya meski memutuskan keluar, berarti masih ada kepercayaan terhadap kualitas perusahaan tersebut. 

Di sisi lain, jika mereka ragu, perusahaan perlu memahami faktor apa yang membuat pengalaman kerja terasa kurang layak direkomendasikan.

Contoh Jawaban:

“Saya mungkin akan merekomendasikan perusahaan ini untuk orang yang cocok dengan ritme kerja yang cepat dan target yang tinggi. Namun, saya juga akan menyampaikan bahwa ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, terutama soal pengembangan karier dan beban kerja.”

29. Apa yang Anda Sukai dari Lingkungan Kerja di Sini?

Exit interview tidak melulu fokus pada masalah, tetapi juga perlu menangkap aspek positif yang layak dipertahankan. 

Dari jawaban ini, HR bisa melihat lingkungan kerja apa yang paling berkontribusi terhadap kenyamanan karyawan.

Contoh Jawaban:

“Yang paling saya sukai adalah suasana tim yang cukup suportif dan tidak terlalu kaku. Saya merasa lingkungan kerjanya cukup terbuka untuk berdiskusi dan saling membantu saat ada tantangan.”

30. Apa yang Membuat Perusahaan Ini Menjadi Tempat Kerja yang Lebih Baik?

Jawaban mereka bisa menjadi masukan langsung tentang perubahan apa yang paling dibutuhkan, baik dari sisi manajemen, sistem kerja, budaya, maupun kesejahteraan karyawan. 

Bagi perusahaan, insight dari pertanyaan paling berguna untuk perbaikan nyata setelah exit interview selesai.

Contoh Jawaban:

“Menurut saya, perusahaan bisa menjadi tempat kerja yang lebih baik jika komunikasi antar atasan dan tim dibuat lebih terbuka, lalu ada kejelasan yang lebih kuat soal jalur karier dan pembagian beban kerja.”

31. Bagaimana Pendapat Anda tentang Fleksibilitas Kerja yang Diberikan Perusahaan?

Fleksibilitas bisa berkaitan dengan jam kerja, lokasi kerja, pengaturan cuti, atau toleransi dalam kondisi tertentu. 

Dari jawaban ini, perusahaan bisa menilai apakah sistem kerja yang ada sudah membantu produktivitas atau justru terasa terlalu kaku.

Contoh Jawaban:

“Menurut saya, fleksibilitas kerja di perusahaan ini masih cukup terbatas. Untuk beberapa kondisi tertentu sebenarnya akan sangat membantu jika ada ruang yang lebih lentur, terutama dalam pengaturan waktu kerja.”

32. Apakah Benefit yang Diberikan Perusahaan Menurut Anda Sudah Memadai?

Pertanyaan ini membantu perusahaan mengetahui apakah paket kompensasi non-gaji yang diberikan sudah dianggap cukup mendukung kebutuhan karyawan. 

Benefit bisa berupa tunjangan, asuransi, cuti, fasilitas kerja, atau program kesejahteraan lainnya.

Contoh Jawaban:

“Benefit yang diberikan sudah cukup baik untuk kebutuhan dasar. Namun menurut saya, masih ada beberapa tambahan yang bisa dipertimbangkan agar lebih kompetitif dan terasa lebih mendukung karyawan.”

Baca Juga: 10 Cara Meningkatkan Kepuasan Kerja Karyawan + Ide Program!

33. Apakah Anda Merasa Alat Kerja dan Sistem yang Digunakan Sudah Membantu Pekerjaan Anda?

Dalam banyak kasus, produktivitas tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh kualitas sistem pendukung yang dipakai sehari-hari. Jawaban dari pertanyaan ini bisa menjadi dasar evaluasi untuk meningkatkan efisiensi kerja tim.

Contoh Jawaban:

“Sebagian alat kerja sudah cukup membantu, tetapi masih ada beberapa proses yang terasa manual dan memakan waktu. Kalau sistemnya lebih terintegrasi, pekerjaan harian pasti akan jauh lebih efisien.”

34. Apakah Anda Merasa Data dan Arahan Mudah Diakses Selama Bekerja?

Ketika data atau arahan sulit diakses, pekerjaan bisa terhambat dan miskomunikasi lebih mudah terjadi. 

Jawaban dari pertanyaan ini berguna untuk memperbaiki komunikasi dan tata kelola operasional perusahaan.

Contoh Jawaban:

“Untuk informasi dasar cukup mudah diakses, tetapi untuk beberapa arahan kerja atau data tertentu kadang masih harus menunggu dari banyak pihak. Hal itu membuat pekerjaan jadi sedikit lebih lambat dari yang seharusnya.”

35. Apakah Proses Onboarding Anda Dulu Sudah Membantu Anda Beradaptasi?

Onboarding yang baik seharusnya membantu karyawan memahami budaya perusahaan dan ekspektasi sejak awal. 

Jika proses adaptasi terasa kurang terarah, perusahaan perlu memperbaiki pengalaman masuk kerja agar karyawan baru bisa lebih cepat produktif dan nyaman.

Contoh Jawaban:

“Onboarding saya cukup membantu untuk mengenal dasar-dasar pekerjaan dan tim. Namun menurut saya, akan lebih baik jika ada pendampingan yang lebih terstruktur di minggu-minggu awal.”

36. Apakah Proses Koordinasi Antar Tim Menurut Anda Sudah Berjalan Baik?

Pertanyaan ini berguna untuk menilai apakah kolaborasi lintas divisi sudah berjalan lancar atau masih sering tersendat. 

Jawaban dari pertanyaan ini dapat membantu perusahaan memperbaiki alur kerja lintas fungsi agar lebih efisien.

Contoh Jawaban:

“Koordinasi antar tim berjalan cukup baik dalam beberapa proyek, tetapi pada situasi tertentu masih ada miskomunikasi dan keterlambatan respons. Menurut saya, alur koordinasinya masih bisa dibuat lebih jelas.”

37. Apakah Anda Merasa Perusahaan Mendengarkan Masukan dari Karyawan?

Mendengarkan saja biasanya tidak cukup, karena yang terpenting adalah apakah masukan tersebut ditindaklanjuti dengan serius. 

Jika karyawan merasa suaranya tidak berpengaruh, engagement mereka biasanya menurun dan rasa memiliki terhadap perusahaan ikut berkurang.

Contoh Jawaban:

“Menurut saya, perusahaan cukup terbuka menerima masukan. Namun, tindak lanjutnya belum selalu terlihat dengan jelas, jadi kadang karyawan merasa suaranya belum benar-benar berdampak.”

38. Apakah Anda Pernah Menyampaikan Keluhan Sebelum Memutuskan Resign?

Jika karyawan sudah pernah menyampaikan masalah, tetapi tidak ada perubahan berarti, itu menunjukkan ada celah dalam sistem penanganan keluhan. 

Jawaban dari pertanyaan ini bisa menjadi masukan untuk memperkuat peran HR dalam merespons masalah karyawan.

Contoh Jawaban:

“Ya, saya pernah menyampaikan beberapa keluhan terkait beban kerja dan prioritas tugas. Saat itu ada respons, tetapi belum cukup memberikan perubahan yang saya harapkan.”

39. Menurut Anda, Siapa Kandidat yang Tepat untuk Menggantikan Posisi Anda?

Karyawan yang menjalankan pekerjaan sehari-hari biasanya tahu kemampuan dan kesiapan seperti apa yang paling dibutuhkan agar penggantinya bisa cepat beradaptasi. 

Insight seperti ini juga berguna untuk memperbaiki proses rekrutmen dan penyusunan profil kandidat.

Contoh Jawaban:

“Menurut saya, kandidat yang tepat adalah orang yang cepat belajar, teliti, dan bisa bekerja dengan ritme yang cukup dinamis. Selain kemampuan teknis, orang tersebut juga perlu punya komunikasi yang baik karena posisi ini cukup sering berkoordinasi dengan banyak pihak.”

40. Keterampilan atau Karakter seperti Apa yang Paling Dibutuhkan untuk Sukses di Posisi Anda?

Pertanyaan ini melengkapi poin sebelumnya dengan arah yang lebih spesifik, yaitu pada kompetensi dan karakter kerja. 

Jawaban dari karyawan bisa membantu perusahaan menyusun ulang kriteria rekrutmen bahkan pengembangan kompetensi untuk posisi serupa di masa depan. 

Contoh Jawaban:

“Menurut saya, keterampilan yang paling dibutuhkan adalah ketelitian, kemampuan mengatur prioritas, dan komunikasi yang jelas. Dari sisi karakter, orang yang sabar, proaktif, dan cepat beradaptasi akan lebih mudah berhasil di posisi ini.”

41. Apa Saran Anda untuk Orang yang Menggantikan Posisi Anda?

Sering kali, terdapat hal-hal di lapangan yang tidak tertulis di SOP, tetapi menentukan kelancaran kerja sehari-hari. 

Dari jawaban ini, perusahaan bisa membantu karyawan pengganti agar lebih cepat beradaptasi dan mengurangi masa penyesuaian.

Contoh Jawaban:

“Saran saya, orang yang nanti menggantikan posisi ini perlu cepat memahami prioritas kerja dan jangan ragu bertanya di awal. Selain itu, penting juga untuk aktif membangun komunikasi dengan tim karena pekerjaan ini cukup bergantung pada koordinasi.”

42. Apa Anda Mungkin Akan Mempertimbangkan untuk Bergabung Kembali di Masa Depan?

Jawabannya juga bisa memberi petunjuk tentang hal-hal apa yang perlu diperbaiki agar perusahaan menjadi tempat kerja yang lebih menarik di masa depan. 

Meski tidak semua mantan karyawan akan kembali, informasi ini tetap berharga untuk evaluasi jangka panjang.

Contoh Jawaban:

“Saya mungkin akan mempertimbangkan kembali jika ada perkembangan yang lebih jelas dalam jalur karier dan sistem kerja yang lebih terstruktur. Kalau beberapa hal itu membaik, saya terbuka untuk kemungkinan tersebut.”

43. Apakah Anda Akan Mempertimbangkan Kembali Bekerja dengan Manajer yang Sama?

Pertanyaan ini lebih spesifik untuk menilai apakah faktor kepemimpinan berpengaruh besar terhadap keputusan resign

Masalahnya bukan terletak pada perusahaan secara keseluruhan, tetapi pada hubungan kerja dengan atasan langsung. 

Contoh Jawaban:

“Secara profesional saya tetap bisa bekerja dengan manajer yang sama, tetapi saya berharap ada komunikasi yang lebih terbuka dan dukungan yang lebih konsisten. Jika hal itu membaik, tentu akan lebih nyaman untuk bekerja bersama lagi.”

44. Apa Risiko Terbesar yang Menurut Anda Sedang Dihadapi Perusahaan?

Karyawan yang akan keluar sering kali bisa memberi pandangan yang lebih jujur tentang potensi masalah di organisasi. Anda bisa menggunakan jawaban tersebut untuk mengantisipasi risiko sejak dini.

Contoh Jawaban:

“Menurut saya, risiko terbesarnya adalah jika perusahaan tidak segera memperbaiki beban kerja dan jalur pengembangan karyawan. Kalau hal itu dibiarkan, kemungkinan turnover akan tetap tinggi.”

45. Apa Satu Perubahan yang Sebaiknya Perusahaan Lakukan dalam Waktu Dekat?

Dibanding meminta terlalu banyak saran sekaligus, pertanyaan ini mendorong karyawan memilih satu prioritas yang paling mendesak untuk diperbaiki. 

Jawabannya bisa berguna untuk menentukan langkah awal perbaikan yang realistis dan berdampak.

Contoh Jawaban:

“Menurut saya, perubahan paling penting adalah memperjelas jalur komunikasi antara atasan dan tim. Kalau komunikasi internal lebih sehat, banyak masalah lain biasanya ikut lebih mudah diselesaikan.”

46. Bagaimana Cara Perusahaan Bisa Meningkatkan Pengalaman Kerja Karyawan yang Masih Bertahan?

Pertanyaan ini menggeser fokus dari pengalaman individu ke perbaikan organisasi untuk masa depan. 

Dengan begitu, exit interview menjadi sumber ide untuk memperbaiki employee experience karyawan yang masih aktif. 

Contoh Jawaban:

“Menurut saya, perusahaan bisa meningkatkan pengalaman kerja karyawan dengan memberikan arahan yang lebih jelas, apresiasi yang lebih konsisten, dan peluang berkembang yang lebih terlihat. Hal-hal seperti itu biasanya sangat berpengaruh pada semangat kerja.”

47. Apa yang Sebaiknya HR Lakukan agar Proses Offboarding Terasa Lebih Baik?

Proses offboarding yang rapi akan membuat hubungan kerja berakhir dengan lebih profesional. Jawaban dari pertanyaan ini membantu HR memperbaiki proses handover agar lebih nyaman untuk karyawan berikutnya.

Contoh Jawaban:

“Menurut saya, HR sudah cukup membantu, tetapi proses offboarding akan terasa lebih baik jika alurnya lebih jelas sejak awal. Misalnya, ada panduan singkat tentang tahapan resign, handover, dan dokumen yang perlu diselesaikan.”

48. Menurut Anda, Apa yang Sebaiknya Kami Pertahankan dan Jangan Diubah?

Pertanyaan ini penting agar exit interview tidak hanya dipenuhi kritik, tetapi juga menangkap kekuatan perusahaan yang sudah berjalan baik. Manajemen pun bisa paham apakah butuh atau tidak melakukan perubahan secara berlebihan.

Contoh Jawaban:

“Menurut saya, hal yang perlu dipertahankan adalah suasana tim yang cukup suportif dan ritme kerja yang membuat orang banyak belajar. Itu menjadi nilai positif yang cukup terasa selama saya bekerja di sini.”

49. Adakah Hal Lain yang Ingin Anda Sampaikan yang Belum Sempat Dibahas?

Pertanyaan penutup ini wajib ada karena tidak semua hal penting selalu keluar dari daftar pertanyaan. 

Justru, insight paling jujur muncul di akhir sesi, saat suasana sudah lebih cair dan karyawan merasa lebih nyaman berbicara. 

Contoh Jawaban:

“Secara umum saya hanya berharap perusahaan terus berkembang dan lebih terbuka terhadap feedback dari karyawan. Saya merasa banyak hal baik di sini, tinggal beberapa area saja yang perlu diperbaiki agar pengalaman kerja jadi lebih baik.”

50. Jika Anda Diminta Merangkum Pengalaman Kerja Anda di Sini dalam Satu Pesan untuk Manajemen, Apa yang Ingin Anda Sampaikan?

Bagi perusahaan, pertanyaan ini berguna untuk menangkap pesan yang paling ingin disampaikan karyawan sebelum benar-benar meninggalkan organisasi.

Pertanyaan ini dapat menjadi penutup yang kuat karena mendorong karyawan merangkum pengalamannya secara singkat tetapi bermakna.

Contoh Jawaban:

“Saya bersyukur pernah menjadi bagian dari perusahaan ini karena saya belajar banyak hal penting. Ke depannya, saya berharap perusahaan bisa semakin kuat dalam membangun komunikasi, pengembangan karyawan, dan sistem kerja yang lebih mendukung pertumbuhan bersama.”

Kelola Data Karyawan dan Proses HR Lebih Rapi Setelah Exit Interview

Hasil dari exit interview tidak boleh hanya menjadi tumpukan berkas. Insight harus segera diolah untuk memperbarui kebijakan internal.

Jika perusahaan Anda masih mengelola data offboarding secara manual, risiko kehilangan insight berharga sangat besar. 

Dashboard Database Karyawan KantorKu HRIS

Inilah saatnya beralih ke aplikasi database karyawan seperti KantorKu HRIS yang mampu mengelola seluruh siklus hidup karyawan, mulai dari rekrutmen, absensi, hingga offboarding.

  • Review Kinerja Terstruktur: Mengelola penilaian karyawan dengan format digital yang rapi, sehingga tidak ada lagi data evaluasi yang tercecer.
  • KPI & OKR: Menetapkan indikator kinerja sesuai target perusahaan untuk memastikan seluruh tim bergerak menuju tujuan yang sama.
  • 360° Feedback: Melibatkan karyawan melalui self-assessment dan umpan balik multi-arah agar proses penilaian terasa lebih partisipatif.
  • Dashboard Analytics HR: Menyajikan visualisasi data turnover dan performa untuk mempermudah manajemen mengambil keputusan strategis berbasis data.
  • Integrasi Data SDM & Payroll: Menghubungkan hasil penilaian kinerja dengan sistem penggajian untuk menjamin akurasi perhitungan bonus atau insentif karyawan.

Jangan biarkan insight berharga dari karyawan yang keluar hilang begitu saja tanpa sistem yang mampu mengolahnya menjadi strategi perbaikan.

Book demo gratis sekarang untuk mulai mengelola data karyawan agar lebih rapi dan terintegrasi.

Banner KantorKu HRIS
Selesaikan Administrasi HR dalam Satu Sistem

Pastikan transisi berjalan mulus dengan KantorKu HRIS, mulai dari penarikan data absensi, perhitungan gaji, hingga pengelolaan dokumen!

Referensi:

20 Great Exit Interview Questions You Need to Ask | Bamboo HR

35 Best Exit Interview Questions to Ask | People HR

Bagikan

Related Articles

skill gap analysis

Skill Gap Analysis: Jenis, Metode, & 10 Tanda-tandanya

Optimalkan performa tim Anda dengan Skill Gap Analysis. Identifikasi kesenjangan kompetensi, susun strategi pelatihan mulai dari sekarang!
cara mengurangi turnover karyawan

25 Cara Mengurangi Turnover Karyawan, Tim Lebih Solid!

Lelah karyawan resign? Cek cara mengurangi turnover karyawan: perbaiki gaji, bangun budaya inklusif, hingga pakai sistem HRIS.
Bell Curve Performance

Bell Curve Performance: Cara Kerja & Contohnya di Perusahaan

Bell curve performance adalah metode distribusi nilai untuk memetakan kinerja karyawan secara adil. Kenali metodenya di sini!