Demosi Karyawan: Penyebab, Dampak, & Contoh Suratnya [+Gratis Template]

Demosi karyawan adalah pemindahan staf ke jabatan lebih rendah karena penurunan kinerja atau disiplin. Pelajari aturan hukum dan solusinya!

KantorKu HRIS
Ditulis oleh
KantorKu HRIS • 06 Mei 2026
Key Takeaways
Demosi karyawan adalah penurunan jabatan atau posisi kerja ke level yang lebih rendah dalam organisasi.
Demosi biasanya dilakukan karena penurunan kinerja, pelanggaran aturan, atau restrukturisasi perusahaan.
Dampaknya dapat mencakup perubahan tanggung jawab, penyesuaian gaji, dan motivasi kerja karyawan.
Proses demosi harus dilakukan secara objektif, transparan, dan sesuai kebijakan perusahaan.
HRIS seperti KantorKu membantu mendokumentasikan performa dan memastikan keputusan demosi lebih terukur.

Demosi karyawan adalah salah satu keputusan manajerial yang sering dianggap sensitif, tetapi tidak bisa dihindari dalam dinamika dunia kerja modern.

Dalam praktiknya, demosi karyawan bisa juga dianggap langkah strategis perusahaan untuk menjaga produktivitas, menyesuaikan kompetensi, hingga mempertahankan stabilitas tim.

Sayangnya, masih banyak perusahaan maupun karyawan yang memandang demosi sebagai bentuk hukuman semata, tanpa memahami tujuan dan manfaat jangka panjangnya.

Menurut penelitian oleh Hennekam & Ananthram (2020) dalam European Journal of Work and Organizational Psychology, demosi karyawan memiliki dampak psikologis yang signifikan tergantung pada bagaimana prosesnya dilakukan.

Berdasarkan studi terhadap 49 responden (28 karyawan yang didemosi secara paksa dan 21 secara sukarela), ditemukan bahwa demosi yang bersifat involuntary cenderung memicu niat resign, penurunan motivasi, serta rendahnya komitmen kerja.

Ketika performa tidak lagi sesuai dengan ekspektasi atau terjadi perubahan struktur organisasi, demosi karyawan bisa menjadi solusi yang lebih bijak dibandingkan pemutusan hubungan kerja (PHK). Dengan pendekatan yang tepat, demosi justru dapat menjadi peluang bagi karyawan untuk berkembang kembali di peran yang lebih sesuai.

Melalui artikel ini, kita akan membahas secara lengkap tentang apa itu demosi karyawan, penyebabnya, dampaknya bagi perusahaan dan individu, hingga cara menerapkannya secara profesional dan humanis. Dengan pemahaman yang tepat, demosi tidak lagi dipandang sebagai akhir dari karier, melainkan bagian dari strategi pengelolaan sumber daya manusia yang efektif.

Apa Itu Demosi Karyawan?

demosi karyawan

Demosi karyawan adalah kebijakan perusahaan untuk memindahkan seorang karyawan dari posisi atau jabatan yang ia duduki saat ini ke posisi yang tingkatannya lebih rendah, yang biasanya diikuti dengan pengurangan tanggung jawab, wewenang, hingga penyesuaian kompensasi.

Langkah ini sering kali dipandang sebagai opsi terakhir sebelum perusahaan memutuskan untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Bagi Anda sebagai pemberi kerja, demosi bukan sekadar hukuman, melainkan bentuk pembinaan agar karyawan tersebut bisa kembali berkontribusi secara efektif pada level yang sesuai dengan kapasitasnya saat ini.

Dalam hal ini, karyawan pada level yang tidak sesuai dengan kompetensinya (misplacement) justru meningkatkan risiko stres kerja dan kegagalan target, sehingga demosi yang dilakukan dengan cara yang benar dapat menjadi solusi untuk menjaga stabilitas psikologis karyawan dan produktivitas tim.

Banner KantorKu HRIS
Demosi sering terasa tidak adil?

KantorKu HRIS bantu dasar keputusan demosi dengan data yang objektif.

Aturan tentang Demosi

Di Indonesia, pelaksanaan demosi harus memiliki landasan legalitas yang kuat agar tidak menimbulkan sengketa industrial di kemudian hari. Berikut adalah beberapa rujukan hukum yang perlu Anda perhatikan:

1. Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003

Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 ini mengatur tentang perlindungan hak-hak pekerja secara umum, termasuk bagaimana perusahaan memiliki kewenangan dalam mengatur struktur organisasi.

Meskipun tidak secara spesifik merinci istilah “demosi”, kewenangan ini biasanya tertuang dalam pasal-pasal mengenai hubungan kerja.

  • Perusahaan memiliki hak prerogatif untuk mengatur penempatan kerja.
  • Penurunan jabatan harus didasari pada alasan yang jelas dan objektif.

2. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 35 Tahun 2021

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 35 Tahun 2021 merupakan turunan dari UU Cipta Kerja yang mengatur mengenai syarat-syarat kerja.

Di sini ditekankan bahwa perubahan status jabatan harus didokumentasikan dengan baik dalam surat keputusan atau perjanjian kerja baru.

  • Perubahan jabatan harus diiringi dengan penyesuaian hak dan kewajiban.
  • Prosedur harus transparan sesuai dengan peraturan perusahaan yang berlaku.

3. Peraturan Perusahaan (PP) atau Perjanjian Kerja Bersama (PKB)

Dasar hukum paling spesifik biasanya ada pada internal perusahaan Anda, seperti yang tertuang dalam Peraturan Perusahaan (PP) atau Perjanjian Kerja Bersama (PKB).

Oleh karena itu, Anda harus memastikan bahwa poin mengenai demosi sudah tercantum dalam kontrak yang ditandatangani oleh karyawan sejak awal bergabung.

  • Menjelaskan kriteria pelanggaran atau penurunan performa yang bisa berakibat demosi.
  • Mengatur skema penyesuaian gaji atau tunjangan jabatan yang hilang akibat demosi.

Penyebab Demosi Karyawan

Penelitian oleh Josten & Schalk (2010) dalam jurnal Personnel Review menunjukkan bahwa dampak demosi berbeda tergantung pada usia karyawan.

Berdasarkan data panel longitudinal pada sektor layanan kesehatan, ditemukan bahwa karyawan yang mengalami demosi umumnya sudah memiliki tingkat kelelahan kerja (exhaustion) yang lebih tinggi sebelum demosi terjadi.

Berikut adalah faktor-faktor yang umumnya menjadi penyebab dilakukannya demosi:

1. Penurunan Kinerja yang Signifikan

Karyawan tidak lagi mampu memenuhi target atau standar kerja yang ditetapkan (KPI). Untuk memantau hal ini secara akurat, banyak perusahaan kini beralih menggunakan aplikasi KPI guna mendapatkan data yang objektif dan transparan.

  • Kegagalan mencapai target bulanan atau tahunan secara berturut-turut.
  • Kualitas hasil kerja yang terus menurun meskipun sudah diberi pelatihan.

Baca Juga: 10 Aplikasi Performance Appraisal Terbaik untuk KPI & OKR

2. Pelanggaran Disiplin atau Kode Etik

Karyawan melakukan tindakan yang merugikan nama baik atau operasional perusahaan, namun belum mencapai level yang mengharuskannya dipecat.

  • Pelanggaran terhadap peraturan perusahaan yang berulang.
  • Tindakan indisipliner terkait kehadiran atau etika kerja di kantor.

3. Efisiensi atau Restrukturisasi Perusahaan

Terkadang demosi terjadi bukan karena kesalahan individu, melainkan karena perubahan struktur organisasi di mana posisi lama dihapus dan karyawan dipindahkan ke level yang tersedia.

  • Penggabungan divisi atau departemen.
  • Perubahan fokus bisnis yang membuat posisi tertentu menjadi kurang relevan.

4. Ketidakmampuan Beradaptasi dengan Peran Baru

Sering kali karyawan hebat secara teknis dipromosikan ke manajerial namun gagal memimpin. Dalam hal ini, mengembalikannya ke posisi teknis (demosi) adalah langkah penyelamatan.

  • Kurangnya kemampuan kepemimpinan (leadership).
  • Ketidakmampuan mengelola tim meskipun unggul secara individu.
Banner KantorKu HRIS
Keputusan demosi sering dipertanyakan?

Gunakan KantorKu HRIS untuk evaluasi transparan sebelum ambil keputusan penting.

Tanda-Tanda Karyawan Perlu Dipertimbangkan Demosi

Anda harus peka terhadap sinyal-sinyal di lapangan sebelum memutuskan untuk mengambil tindakan. Berikut adalah indikator yang patut Anda waspadai:

1. Sering Terjadi Kesalahan Fatal pada Output Kerja

Jika kesalahan yang dilakukan bersifat repetitif dan berdampak pada kerugian materi atau reputasi klien, ini adalah tanda bahaya.

  • Kesalahan teknis yang seharusnya tidak terjadi pada level jabatannya.
  • Keluhan dari klien atau rekan kerja yang meningkat terhadap kinerjanya.

2. Kehilangan Motivasi dan Inisiatif

Karyawan tampak kewalahan atau justru tidak peduli lagi dengan tanggung jawabnya. Dalalm hal ini, motivasi yang rendah sering kali berakar dari ketidaksesuaian beban kerja dengan kapasitas kognitif seseorang.

  • Sikap pasif dalam rapat atau diskusi tim.
  • Keengganan mengambil tanggung jawab tambahan atau tantangan baru.

3. Ketidakhadiran dan Masalah Kedisiplinan

Pola kehadiran yang buruk seringkali mencerminkan masalah yang lebih dalam. Anda bisa memantau data ini melalui aplikasi absensi karyawan untuk melihat tren ketidakhadiran yang tidak wajar.

  • Sering terlambat atau izin tanpa alasan yang jelas.
  • Tidak menyelesaikan tugas tepat waktu (sering melewati deadline).

Dampak Demosi Karyawan bagi Perusahaan

Setiap kebijakan memiliki konsekuensi. Sebagai HRD, Anda perlu memitigasi risiko dari dampak-dampak berikut ini:

1. Penurunan Moral dan Motivasi Karyawan Terkait

Karyawan yang didemosi kemungkinan besar akan merasa malu atau kecewa. Jika tidak dikelola dengan komunikasi yang baik, hal ini bisa berdampak pada lingkungan kerja.

Dalam jurnal Business Horizons, penelitian terhadap lebih dari 20 karyawan yang mengalami demosi menunjukkan bahwa pengalaman tersebut sering dianggap sebagai peristiwa yang sangat demoralizing.

Demosi dikaitkan dengan berbagai dampak negatif seperti penurunan kesejahteraan psikologis, kerugian ekonomi, perasaan kehilangan identitas profesional, hingga kondisi underemployment.

Hal ini memperkuat bahwa demosi bukan hanya keputusan struktural, tetapi juga memiliki konsekuensi emosional yang mendalam bagi individu.

  • Risiko karyawan menjadi toksik bagi tim lain.
  • Potensi mundurnya karyawan (resignation) dalam waktu dekat.

Baca Juga: Resign Tanpa One Month Notice: Aturan, Risiko, & Cara Mengelolanya

2. Dampak Psikologis pada Anggota Tim Lainnya

Rekan kerja yang melihat temannya didemosi mungkin akan merasa cemas mengenai keamanan posisi mereka sendiri.

  • Munculnya rasa ketidakamanan (job insecurity) di lingkungan kantor.
  • Perubahan dinamika komunikasi dalam departemen terkait.

3. Efisiensi Biaya dan Penyelamatan Talent

Di sisi positif, demosi menyelamatkan perusahaan dari biaya rekrutmen baru jika karyawan tersebut masih memiliki nilai di posisi lain.

  • Perusahaan tetap bisa memanfaatkan keahlian spesifik karyawan pada level yang tepat.
  • Menghindari biaya pesangon besar akibat PHK langsung.

Prosedur Demosi Karyawan

Prosedur demosi karyawan tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Karena menyangkut perubahan jabatan, tanggung jawab, hingga kompensasi, perusahaan perlu menjalankannya secara terstruktur, objektif, dan sesuai hukum ketenagakerjaan agar tidak menimbulkan konflik maupun risiko hukum.

Berikut penjelasan lengkap dan rapi yang bisa kamu gunakan untuk artikel:

1. Identifikasi Alasan Demosi

Sebelum mengambil keputusan apa pun, perusahaan perlu memahami bahwa demosi bukan sekadar reaksi spontan terhadap masalah kinerja atau perilaku karyawan.

Keputusan ini harus diawali dengan proses identifikasi yang matang untuk memastikan bahwa demosi karyawan menjadi solusi yang relevan dan proporsional. Tanpa dasar yang jelas, demosi berisiko dianggap sebagai tindakan tidak adil atau bahkan diskriminatif.

Oleh karena itu, penting bagi HR dan manajemen untuk menggali akar permasalahan secara menyeluruh dan memastikan bahwa alasan yang digunakan benar-benar valid serta dapat dibuktikan secara objektif.

Umumnya meliputi:

  • Penurunan kinerja (tidak mencapai KPI)
  • Pelanggaran disiplin
  • Restrukturisasi organisasi
  • Ketidaksesuaian kompetensi dengan jabatan
  • Permintaan pribadi karyawan (demosi sukarela)

Semua alasan ini harus didukung data, bukan opini subjektif.

2. Evaluasi Kinerja Secara Objektif

Setelah alasan awal teridentifikasi, langkah berikutnya adalah melakukan evaluasi kinerja secara mendalam untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil benar-benar berbasis fakta.

Evaluasi ini tidak boleh hanya mengandalkan satu sumber penilaian, melainkan harus menggabungkan berbagai indikator performa agar hasilnya lebih akurat dan adil.

Proses ini juga penting untuk meminimalkan bias subjektif dari atasan maupun tim HR, sekaligus memberikan dasar yang kuat jika keputusan demosi nantinya dipertanyakan oleh karyawan.

Perusahaan perlu melakukan penilaian berbasis:

  • Performance appraisal (penilaian berkala)
  • Data KPI/OKR
  • Feedback atasan langsung
  • Catatan HR (absensi, pelanggaran, dll.)

Baca Juga: Contoh Penilaian Kinerja Karyawan serta Indikator & Metodenya [+Template!] 

3. Tinjauan Kebijakan Internal & Regulasi

Dalam praktiknya, banyak perusahaan menghadapi masalah hukum bukan karena keputusan demosi itu sendiri, tetapi karena prosedur yang tidak sesuai aturan.

Oleh karena itu, sebelum melangkah lebih jauh, HR harus memastikan bahwa seluruh proses yang dilakukan telah sejalan dengan kebijakan internal perusahaan serta regulasi ketenagakerjaan yang berlaku.

Langkah ini berfungsi sebagai lapisan perlindungan bagi perusahaan agar terhindar dari potensi gugatan atau sengketa hubungan industrial di kemudian hari.

Sebelum memutuskan, HR wajib memastikan:

  • Ada aturan demosi dalam peraturan perusahaan (PP) atau PKB
  • Tidak melanggar hukum ketenagakerjaan yang berlaku
  • Proses sesuai SOP internal

4. Diskusi Internal Manajemen

Keputusan demosi sebaiknya tidak diambil secara sepihak oleh satu individu, melainkan melalui diskusi kolektif antara HR dan pihak manajemen terkait.

Tahap ini menjadi ruang untuk menguji kembali apakah demosi karyawan merupakan solusi terbaik dibandingkan opsi lain, seperti pelatihan ulang, rotasi jabatan, atau bahkan peringatan kerja.

Diskusi ini juga membantu mempertimbangkan dampak keputusan terhadap tim, struktur organisasi, serta keberlangsungan operasional perusahaan.

HR bersama manajer terkait melakukan:

  • Review hasil evaluasi
  • Menentukan posisi baru yang sesuai
  • Menilai dampak terhadap tim

Baca Juga: 15 Metode Penilaian Kinerja Karyawan yang Efektif & Terpercaya

5. Penyusunan Rencana Demosi

Setelah keputusan disepakati, perusahaan perlu menyusun rencana demosi secara rinci dan sistematis. Rencana ini tidak hanya berfungsi sebagai panduan internal, tetapi juga sebagai dasar komunikasi yang jelas kepada karyawan yang bersangkutan.

Tanpa perencanaan yang matang, proses demosi bisa menimbulkan kebingungan, kesalahpahaman, atau bahkan penolakan dari karyawan. Oleh karena itu, setiap detail perubahan harus dirumuskan secara transparan sejak awal.

Rencana harus jelas dan terdokumentasi, meliputi:

  • Jabatan lama vs jabatan baru
  • Perubahan gaji dan benefit
  • Tanggung jawab baru
  • Tanggal efektif

6. Komunikasi dengan Karyawan (One-on-One Meeting)

Tahap komunikasi merupakan momen paling sensitif dalam seluruh proses demosi. Cara perusahaan menyampaikan keputusan ini akan sangat memengaruhi bagaimana karyawan merespons, apakah menerima dengan profesional atau justru merasa diperlakukan tidak adil.

Oleh karena itu, komunikasi harus dilakukan secara langsung, privat, dan dengan pendekatan yang empatik. Transparansi menjadi kunci, namun tetap perlu disampaikan dengan cara yang menghargai martabat karyawan.

Ini adalah tahap paling krusial. Lakukan dengan:

  • Pendekatan profesional dan empatik
  • Menjelaskan alasan secara transparan
  • Memberikan ruang bagi karyawan untuk bertanya/menanggapi

7. Negosiasi

Dalam beberapa situasi, demosi tidak selalu langsung diterima oleh karyawan. Oleh karena itu, perusahaan perlu membuka ruang diskusi atau negosiasi sebagai bentuk itikad baik.

Tahap ini penting untuk menjaga hubungan kerja tetap sehat serta menghindari konflik yang lebih besar. Terutama dalam kasus demosi sukarela atau situasi yang masih bisa dinegosiasikan, fleksibilitas perusahaan dapat menjadi faktor penentu keberhasilan proses ini.

Dalam beberapa kasus:

  • Karyawan bisa menyetujui atau menolak
  • Bisa terjadi diskusi terkait kompensasi atau posisi alternatif

Jika demosi bersifat sukarela, proses ini biasanya lebih fleksibel.

8. Dokumentasi dan Persetujuan Tertulis

Setiap keputusan yang berdampak pada hubungan kerja wajib didokumentasikan secara resmi. Hal ini tidak hanya penting untuk kepentingan administrasi, tetapi juga sebagai perlindungan hukum bagi kedua belah pihak.

Dokumentasi yang jelas akan meminimalkan potensi kesalahpahaman di masa depan serta menjadi bukti bahwa proses telah dilakukan secara transparan dan disepakati bersama.

Semua hasil keputusan harus dituangkan dalam:

  • Surat keputusan (SK) demosi
  • Addendum kontrak kerja (jika ada perubahan signifikan)
  • Tanda tangan kedua belah pihak

Baca Juga: 15 Contoh Surat Keputusan beserta Format & Cara Membuatnya

9. Implementasi Demosi

Setelah seluruh proses administratif selesai, tahap berikutnya adalah implementasi. Pada fase ini, perusahaan harus memastikan bahwa perubahan berjalan secara terkoordinasi dan tidak mengganggu aktivitas operasional.

Transisi yang tidak rapi dapat menimbulkan kebingungan di dalam tim, bahkan berpotensi menurunkan produktivitas kerja. Oleh karena itu, koordinasi lintas divisi menjadi sangat penting.

Mulai menjalankan perubahan:

  • Penyesuaian sistem HR (jabatan, gaji, struktur organisasi)
  • Pengalihan tugas dan tanggung jawab
  • Koordinasi dengan tim terkait

Baca Juga: Cara Menghitung Gaji Karyawan: Prorata, Harian, Bulanan, hingga WFH

10. Monitoring & Pendampingan

Demosi bukanlah akhir dari proses, melainkan awal dari fase adaptasi baru bagi karyawan. Tanpa pendampingan yang tepat, karyawan bisa mengalami penurunan motivasi atau kesulitan beradaptasi di posisi barunya.

Oleh karena itu, perusahaan perlu melakukan monitoring secara berkala dan memberikan dukungan yang diperlukan agar karyawan tetap dapat berkembang dan berkontribusi secara optimal.

Setelah demosi:

  • Pantau kinerja dan adaptasi karyawan
  • Berikan pelatihan atau coaching jika diperlukan
  • Evaluasi ulang dalam periode tertentu

11. Evaluasi Dampak Organisasi

Selain berfokus pada individu, perusahaan juga perlu melihat dampak demosi dari perspektif organisasi secara keseluruhan.

Keputusan demosi dapat memengaruhi persepsi karyawan lain terhadap keadilan perusahaan, budaya kerja, hingga tingkat kepercayaan terhadap manajemen. Jika tidak dikelola dengan baik, efeknya bisa meluas dan berdampak pada stabilitas tim.

HR juga perlu menilai:

  • Dampak terhadap moral tim
  • Persepsi keadilan di lingkungan kerja
  • Risiko turnover

Contoh Surat Demosi Karyawan

Contoh Surat Demosi Karyawan
Contoh Surat Demosi Karyawan | Sumber: Scribd

Penyampaian keputusan demosi harus dilakukan secara formal dan tertulis agar memiliki kekuatan hukum. Anda harus mencantumkan alasan yang jelas, detail jabatan baru, serta tanggal efektif berlakunya kebijakan tersebut.

Berikut adalah kerangka sederhana yang bisa Anda gunakan:

SURAT KEPUTUSAN PENURUNAN JABATAN (DEMOSI)

Nomor: SK-DM/2024/001

Menimbang:

Hasil evaluasi kinerja tahunan dan catatan kedisiplinan saudara/i… Mengingat: Peraturan Perusahaan Pasal… mengenai standar kinerja.

Memutuskan:

  1. Melakukan demosi kepada Saudara/i [Nama Karyawan] dari jabatan [Jabatan Lama] menjadi [Jabatan Baru].
  2. Penyesuaian kompensasi dan tunjangan akan mengikuti standar jabatan baru efektif mulai tanggal [Tanggal].
  3. Saudara/i berkewajiban melakukan serah terima jabatan (handover) paling lambat…

Demikian surat ini dibuat untuk dapat dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

Ttd,

Direksi/HR Manager

Peran HRIS dalam Mengelola Demosi Karyawan

Dalam era digital, mengelola administrasi HR secara manual adalah risiko besar. Sistem HRIS membantu Anda melakukan transisi demosi dengan lebih rapi dan transparan.

Adapun beberapa peran HRIS dalam mengelola demosi karyawan yaitu:

1. Dokumentasi Performa yang Terpusat

Dengan aplikasi database karyawan, Anda memiliki rekam jejak lengkap performa karyawan dari waktu ke waktu sebagai dasar demosi yang kuat.

  • Menyimpan riwayat teguran (SP) dan penilaian kinerja.
  • Memudahkan akses data saat terjadi sengketa atau audit.

2. Otomasi Penyesuaian Payroll

Demosi biasanya dibarengi dengan perubahan gaji. Sistem HRIS akan secara otomatis menyesuaikan perhitungan upah di periode berikutnya tanpa kesalahan input manual.

  • Sinkronisasi data jabatan baru dengan struktur penggajian.
  • Penghitungan pajak dan iuran BPJS yang tetap akurat.

3. Manajemen KPI yang Transparan

Menggunakan aplikasi penilaian kinerja pegawai memastikan bahwa keputusan demosi diambil berdasarkan angka, bukan perasaan suka atau tidak suka (like and dislike). Sebuah studi dari Harvard Business Review menekankan bahwa keputusan HR yang berbasis data (data-driven) meningkatkan kepercayaan karyawan terhadap manajemen hingga 60%.

  • Dashboard performa yang bisa dipantau secara real-time.
  • Objektivitas dalam setiap pengambilan keputusan karier.

Kelola Performa & Data Karyawan Lebih Mudah lewat KantorKu HRIS!

employee database kantorku
Tampilan Dashboard Database Karyawan di KantorKu HRIS

Kini Anda tidak perlu lagi pusing dengan tumpukan berkas saat ingin mengevaluasi demosi karyawan. KantorKu HRIS adalah aplikasi HRIS all-in-one yang bisa menyederhanakan administrasi HR Anda.

Mulai dari pengelolaan database lewat aplikasi database karyawan perusahaan, pemantauan target melaluiaplikasi KPI gratis, hingga kemudahan akses mandiri bagi staf melalui aplikasi employee self service, KantorKu HRIS bisa melakukan itu semua.

Jangan biarkan manajemen manual menghambat pertumbuhan bisnis Anda. Jika saat ini Anda merasa pengelolaan administrasi sudah terlalu rumit, segera beralih ke aplikasi HRIS yang modern.

Dengan integrasi yang lengkap, mulai dari aplikasi database karyawan gratis hingga sistem payroll otomatis, KantorKu HRIS siap membantu Anda fokus pada pengembangan strategi bisnis sementara administrasi kami yang urus.

Jika Anda butuh KantorKu HRIS yang mempermudah pekerjaan HR, ini solusinya! Kunjungi website kami sekarang dan rasakan transformasi digital dalam pengelolaan SDM Anda.

Banner KantorKu HRIS
Takut terjadi konflik saat demosi?

KantorKu HRIS bantu siapkan data akurat agar keputusan lebih terpercaya.

Sumber:

Pemerintah Indonesia. (2003).Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Sekretariat Negara.

Pemerintah Indonesia. (2021). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2021 tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, Alih Daya, Waktu Kerja dan Waktu Istirahat, dan Pemutusan Hubungan Kerja. Sekretariat Negara.

Hennekam, S., & Ananthram, S. (2020). Involuntary and voluntary demotion: The impact on employee outcomes. European Journal of Work and Organizational Psychology.

Josten, E., & Schalk, R. (2010). The effects of demotion on older and younger employees. Personnel Review, 39(2), 195–210.

Feldman, D. C., & Leana, C. R. (2007). Executives’ reactions to demotion: A case study. Business Horizons, 50(6), 455–462.

Bagikan

Related Articles

Cost of Vacancy

Cara Menghitung Cost of Vacancy HR, Cek Rumus & Contohnya

Cost of vacancy penting untuk mengetahui kerugian akibat posisi kosong di perusahaan. Simak rumus, komponen, & contoh perhitungannya!

Rekomendasi 7 Aplikasi Pembukuan Terbaik untuk Bisnis Anda

Apa saja rekomendasi aplikasi pembukuan yang cocok untuk bisnis? 1. Kledo 2. Jubelio 3. QuickBooks Online
contoh purchase request

Prosedur Purchase Request: Fungsi, Alur, & Contoh [+Gratis Template]

Hindari kesalahan fatal dalam pembelian barang! Pelajari cara membuat Purchase Request yang benar & download template gratisnya.