Apa Itu Quiet Quitting & 10 Cara Mengatasinya di Perusahaan

Quiet quitting adalah fenomena saat karyawan bekerja tanpa keterlibatan penuh. Simak penyebab, dampak, ciri-ciri, hingga cara mengatasinya di perusahaan.

KantorKu HRIS
Ditulis oleh
KantorKu HRIS • 15 Mei 2026

Quiet quitting adalah fenomena di dunia kerja di mana karyawan tetap bekerja sesuai tanggung jawabnya, tetapi tidak lagi memberikan effort lebih, inisiatif tambahan, atau keterlibatan emosional terhadap pekerjaan.

Bagi Anda sebagai HRD, kondisi ini penting untuk diperhatikan karena sering tidak terlihat secara langsung, namun perlahan bisa memengaruhi produktivitas dan budaya kerja perusahaan.

Fenomena ini semakin sering muncul seiring perubahan pola kerja, ekspektasi karyawan, hingga cara perusahaan mengelola SDM. Banyak perusahaan baru menyadari masalah ini ketika performa tim sudah menurun atau engagement karyawan sudah terlanjur rendah.

Nah, dalam artikel ini, Anda akan memahami secara menyeluruh apa itu quiet quitting, apa penyebabnya, dampaknya bagi perusahaan, hingga bagaimana cara mendeteksinya lebih awal dan mengelolanya dengan lebih efektif.

Apa Itu Quiet Quitting?

Quiet quitting adalah kondisi ketika karyawan tetap menjalankan pekerjaannya sesuai deskripsi kerja, tetapi tidak lagi memberikan usaha lebih di luar tugas utama. Istilah ini sering disalahpahami sebagai “resign diam-diam”, padahal bukan demikian.

Secara sederhana, fenomena quiet quitting adalah bentuk penurunan employee engagement tanpa benar-benar keluar dari perusahaan. Karyawan tetap bekerja seperti biasa, tetapi motivasi dan keterlibatannya terhadap pekerjaan mulai menurun.

Dalam dunia HR, kondisi ini sering dikaitkan dengan rendahnya engagement kerja, kurangnya apresiasi, hingga beban kerja yang tidak seimbang.

Fenomena ini juga didukung oleh laporan Gallup State of the Global Workplace yang menyebutkan bahwa hanya sekitar 23% karyawan global yang benar-benar engaged dengan pekerjaannya.

Sementara itu, sebagian besar lainnya berada dalam kondisi kurang terlibat secara emosional terhadap perusahaan, yang menjadi salah satu pemicu quiet quitting.

Selain itu, Harvard Business Review menjelaskan bahwa quiet quitting sering muncul akibat hubungan kerja yang kurang sehat, burnout, dan minimnya dukungan dari atasan.

Karena itu, quiet quitting bukan hanya masalah individu, tetapi juga dapat menjadi tanda bahwa perusahaan perlu memperbaiki cara mengelola karyawan dan lingkungan kerja secara keseluruhan.

Baca Juga: 4 Contoh Employee Engagement agar Karyawan Produktif & Minim Turnover

Ciri-Ciri Karyawan yang Mengalami Quiet Quitting

Karyawan yang mengalami quiet quitting biasanya tetap bekerja seperti biasa, tetapi menunjukkan penurunan keterlibatan, motivasi, dan inisiatif dalam pekerjaannya.

Berikut beberapa ciri-ciri karyawan yang mengalami quiet quitting:

  • Hanya bekerja sesuai job description: Karyawan tidak lagi mengambil tanggung jawab tambahan di luar tugas utamanya.
  • Minim inisiatif dalam pekerjaan: Karyawan cenderung menunggu instruksi dan jarang memberikan ide atau solusi baru.
  • Kurang aktif saat meeting atau diskusi tim: Partisipasi dalam komunikasi kerja mulai menurun dibanding sebelumnya.
  • Semangat kerja terlihat menurun: Antusiasme terhadap proyek, target, atau kegiatan kantor mulai berkurang.
  • Tidak tertarik pada pengembangan karier: Karyawan terlihat tidak lagi aktif mengikuti pelatihan atau peluang pengembangan diri.
  • Respons kerja menjadi lebih pasif: Komunikasi dengan rekan kerja maupun atasan menjadi lebih singkat dan seperlunya saja.
  • Produktivitas cenderung stagnan: Pekerjaan tetap selesai, tetapi kualitas maupun performanya tidak berkembang.
  • Mulai menjaga batas kerja secara ketat: Karyawan hanya bekerja sesuai jam kerja tanpa keterlibatan tambahan di luar itu.
  • Menghindari tanggung jawab tambahan: Tugas baru atau proyek tambahan sering dihindari jika tidak wajib dilakukan.
  • Keterikatan emosional terhadap perusahaan menurun: Karyawan terlihat kurang peduli terhadap perkembangan tim maupun perusahaan secara keseluruhan.

Baca Juga: Employee Engagement Survey: Jenis, Faktor, & Contoh Pertanyaannya

Banner KantorKu HRIS
Deteksi Gejala Quiet Quitting Lebih Cepat di Perusahaan Anda

Gunakan KantorKu HRIS untuk memantau absensi, performa, dan engagement karyawan dalam satu sistem yang lebih terstruktur dan real-time.

Penyebab Terjadinya Quiet Quitting di Perusahaan

Quiet quitting umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba. Dalam banyak kasus, kondisi ini muncul akibat kombinasi antara lingkungan kerja, gaya kepemimpinan, hingga sistem pengelolaan SDM yang kurang optimal.

Berikut beberapa penyebab quiet quitting yang paling sering terjadi di perusahaan:

1. Beban Kerja Tidak Seimbang

Salah satu penyebab paling umum adalah workload yang dianggap berlebihan atau tidak sebanding dengan kompensasi maupun apresiasi yang diterima karyawan.

Beberapa kondisi yang sering terjadi antara lain:

  • Target kerja terlalu tinggi
  • Jam kerja yang terus bertambah
  • Tugas di luar job description
  • Kurangnya pembagian kerja yang adil

Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, karyawan bisa kehilangan motivasi dan mulai bekerja “sekadarnya saja”.

2. Kurangnya Apresiasi dari Perusahaan

Karyawan yang merasa kontribusinya tidak dihargai cenderung lebih mudah kehilangan engagement terhadap pekerjaan.

Bentuk kurangnya apresiasi bisa berupa:

  • Jarang mendapatkan feedback positif
  • Tidak ada penghargaan atas pencapaian kerja
  • Performa baik dianggap hal biasa
  • Atasan hanya fokus pada kesalahan

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membuat karyawan merasa usahanya tidak memiliki dampak berarti.

3. Minimnya Kesempatan Pengembangan Karier

Banyak karyawan mulai kehilangan semangat kerja ketika merasa tidak memiliki masa depan yang jelas di perusahaan.

Biasanya ditandai dengan kondisi seperti:

  • Tidak ada jenjang karier yang transparan
  • Promosi kerja tidak jelas
  • Kesempatan belajar terbatas
  • Evaluasi kinerja tidak terstruktur

Akibatnya, karyawan cenderung bekerja sekadar memenuhi kewajiban tanpa dorongan untuk berkembang.

4. Komunikasi Internal yang Buruk

Komunikasi yang tidak sehat antara atasan dan tim juga menjadi pemicu quiet quitting.

Beberapa contoh masalah komunikasi di perusahaan yaitu:

  • Informasi kerja tidak jelas
  • Arahan berubah-ubah
  • Kurangnya diskusi dua arah
  • Atasan sulit dihubungi

Kondisi ini dapat membuat karyawan merasa tidak didukung dalam pekerjaannya.

5. Lingkungan Kerja yang Kurang Sehat

Budaya kerja yang toxic atau tidak suportif sering membuat karyawan kehilangan kenyamanan dalam bekerja.

Lingkungan kerja yang kurang sehat biasanya ditandai dengan:

  • Konflik antar tim
  • Tingginya tekanan kerja
  • Kurangnya work-life balance
  • Adanya budaya saling menyalahkan

Jika terus terjadi, karyawan akan lebih memilih menjaga jarak secara emosional dari pekerjaannya.

6. Burnout yang Tidak Ditangani dengan Baik

Burnout menjadi salah satu faktor yang paling sering berkaitan dengan quiet quitting. Burnout merupakan sindrom akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola dengan baik.

Karyawan yang mengalami burnout biasanya mulai:

  • Kehilangan energi saat bekerja
  • Menurunkan keterlibatan kerja
  • Menjadi lebih sinis terhadap pekerjaan
  • Sulit mempertahankan performa

7. Sistem Penilaian Kinerja yang Tidak Transparan

Karyawan akan lebih sulit termotivasi jika perusahaan tidak memiliki sistem evaluasi kerja yang jelas dan objektif.

Beberapa masalah yang sering terjadi meliputi:

  • KPI tidak jelas
  • Penilaian performa subjektif
  • Feedback tidak rutin
  • Tidak ada monitoring perkembangan kerja

Karena itu, perusahaan perlu memiliki sistem pengelolaan performa yang lebih terukur agar engagement karyawan tetap terjaga.

Dampak Quiet Quitting bagi Perusahaan

Quiet quitting dapat memberikan pengaruh besar terhadap kondisi internal perusahaan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Meski fenomena ini lebih sering berdampak negatif, ada juga beberapa sisi yang dapat menjadi bahan evaluasi bagi perusahaan untuk memperbaiki sistem kerja dan pengelolaan SDM.

Dampak Positif Quiet Quitting

Dalam beberapa kondisi, quiet quitting dapat menjadi sinyal bahwa perusahaan perlu menciptakan budaya kerja yang lebih sehat dan realistis bagi karyawan.

Beberapa dampak positif yang bisa menjadi bahan evaluasi perusahaan antara lain:

  • Mendorong perusahaan mengevaluasi beban kerja: HR dan manajemen menjadi lebih sadar terhadap potensi overwork pada karyawan.
  • Membantu menciptakan work-life balance yang lebih sehat: Karyawan mulai memiliki batas kerja yang lebih jelas sehingga risiko burnout dapat dikurangi.
  • Mendorong sistem kerja yang lebih efisien: Perusahaan dapat meninjau kembali tugas atau proses kerja yang sebenarnya tidak efektif.
  • Meningkatkan perhatian terhadap employee engagement: HR menjadi lebih fokus membangun komunikasi, apresiasi, dan kenyamanan kerja.
  • Mendorong penggunaan sistem HR yang lebih terukur: Perusahaan mulai menyadari pentingnya monitoring performa dan engagement berbasis data.

Dampak Negatif Quiet Quitting

Di sisi lain, quiet quitting yang dibiarkan terlalu lama dapat berdampak langsung terhadap produktivitas, budaya kerja, hingga pertumbuhan bisnis perusahaan.

Beberapa dampak negatif quiet quitting yang paling sering terjadi yaitu:

  • Produktivitas tim menurun: Karyawan hanya bekerja sebatas memenuhi kewajiban minimum tanpa kontribusi tambahan.
  • Kualitas pekerjaan menjadi kurang optimal: Hasil kerja cenderung stagnan dan minim inovasi.
  • Kolaborasi antar tim melemah: Keterlibatan dalam komunikasi dan kerja sama tim mulai berkurang.
  • Employee engagement menurun: Hubungan emosional karyawan dengan perusahaan menjadi semakin rendah.
  • Risiko turnover meningkat: Jika tidak ditangani, quiet quitting dapat berkembang menjadi resign sungguhan.
  • Budaya kerja perusahaan ikut terdampak: Semangat kerja tim dapat menurun ketika kondisi ini terjadi secara masif.
  • Proses kerja menjadi kurang adaptif: Tim menjadi lebih sulit bergerak cepat karena minim inisiatif dan partisipasi aktif.

Baca Juga: Cara Menghitung Turnover Karyawan, Ini Rumus & Contoh Analisisnya

10 Cara HRD Mengidentifikasi Quiet Quitting

Quiet quitting sering muncul secara perlahan dan tidak selalu terlihat dari penurunan performa yang drastis. Karena itu, Anda sebagai HRD perlu memiliki cara monitoring yang lebih terukur agar perubahan perilaku kerja karyawan bisa dikenali lebih awal.

1. Memantau Perubahan Pola Kehadiran Karyawan

Perubahan pola absensi, keterlambatan, atau penurunan kedisiplinan kerja dapat menjadi salah satu tanda awal quiet quitting. Karena itu, penggunaan aplikasi absensi karyawan dapat membantu HR memantau data kehadiran secara lebih akurat dan real-time.

2. Melihat Penurunan Keterlibatan dalam Tim

Karyawan yang mengalami quiet quitting biasanya mulai kurang aktif dalam meeting, diskusi, maupun kolaborasi kerja. Mereka tetap hadir, tetapi keterlibatannya dalam pekerjaan cenderung menurun dibanding sebelumnya.

3. Mengevaluasi Performa dan KPI Secara Berkala

HR perlu melihat apakah performa kerja karyawan mengalami stagnasi dalam periode tertentu. Dengan sistem evaluasi KPI yang terstruktur, perusahaan bisa lebih mudah mengidentifikasi perubahan produktivitas secara objektif.

4. Mengumpulkan Feedback dari Atasan Langsung

Atasan atau supervisor biasanya menjadi pihak pertama yang menyadari perubahan sikap kerja karyawan. Karena itu, komunikasi rutin antara HR dan manajer tim penting dilakukan untuk mendeteksi gejala quiet quitting lebih cepat.

Baca Juga: 50 Contoh Feedback untuk Perusahaan & Atasan, Lengkap!

5. Memanfaatkan Data dari Sistem HRIS

Melalui aplikasi HRIS, perusahaan dapat memantau berbagai data SDM seperti absensi, performa, hingga engagement karyawan dalam satu dashboard terintegrasi sehingga proses identifikasi menjadi lebih efisien.

6. Melakukan Employee Engagement Survey

Survey internal membantu perusahaan memahami tingkat kepuasan dan keterlibatan karyawan terhadap lingkungan kerja, atasan, maupun budaya perusahaan secara keseluruhan.

7. Memperhatikan Penurunan Inisiatif Kerja

Karyawan yang sebelumnya aktif biasanya mulai jarang memberikan ide, masukan, atau kontribusi tambahan ketika mengalami quiet quitting. Kondisi ini perlu diperhatikan sebelum berdampak pada performa tim secara keseluruhan.

8. Memantau Aktivitas Pengembangan Karyawan

Karyawan yang mengalami quiet quitting umumnya mulai kehilangan minat terhadap pelatihan, pengembangan karier, atau program internal perusahaan. Data ini dapat dipantau lebih mudah melalui aplikasi employee self service maupun sistem pengelolaan SDM digital.

9. Meninjau Beban Kerja Karyawan Secara Berkala

HR juga perlu memastikan workload setiap karyawan tetap seimbang. Beban kerja yang terlalu tinggi dalam waktu lama sering menjadi pemicu utama menurunnya engagement kerja.

10. Mengelola Database Karyawan dengan Lebih Terstruktur

Data historis performa, absensi, hingga perkembangan kerja karyawan akan lebih mudah dianalisis jika perusahaan menggunakan aplikasi database karyawan yang terpusat dan terorganisir dengan baik.

Baca Juga: 25 Cara Mengurangi Turnover Karyawan, Tim Lebih Solid!

Banner KantorKu HRIS
Ingin Pengelolaan SDM Lebih Efisien dan Terukur?

Dengan KantorKu HRIS, Anda bisa mengelola KPI, absensi, dan data karyawan secara otomatis sehingga HR tidak lagi bekerja secara manual dan rentan kesalahan.

Strategi Mengatasi Quiet Quitting di Perusahaan

quiet quitting

Quiet quitting tidak bisa diselesaikan hanya dengan meningkatkan target kerja atau pengawasan terhadap karyawan. Perusahaan perlu membangun lingkungan kerja yang lebih sehat, transparan, dan suportif agar engagement karyawan dapat meningkat kembali.

Berikut beberapa strategi yang dapat dilakukan perusahaan untuk mengatasi quiet quitting:

1. Meningkatkan Komunikasi antara Atasan dan Karyawan

Komunikasi yang terbuka membantu karyawan merasa lebih didengar dan dihargai. Karena itu, perusahaan perlu rutin melakukan diskusi kerja, feedback, maupun one-on-one meeting secara berkala.

2. Memberikan Apresiasi terhadap Kinerja Karyawan

Apresiasi sederhana dapat membantu meningkatkan motivasi dan keterlibatan kerja karyawan. Pengakuan atas kontribusi kerja juga membuat karyawan merasa usahanya memiliki nilai bagi perusahaan.

3. Membuat Sistem Evaluasi Kinerja yang Lebih Transparan

Perusahaan perlu memiliki sistem KPI dan penilaian performa yang jelas agar karyawan memahami target, perkembangan kerja, serta peluang pengembangan karier mereka secara lebih objektif.

4. Menjaga Beban Kerja Tetap Seimbang

HR dan manajer perlu memastikan workload setiap karyawan tetap realistis dan tidak berlebihan. Pembagian tugas yang lebih sehat dapat membantu mengurangi risiko burnout dan penurunan engagement kerja.

5. Menggunakan Sistem HRIS untuk Monitoring SDM

Melalui aplikasi HRIS seperti KantorKu HRIS, perusahaan dapat memantau absensi, performa, hingga data karyawan secara lebih terstruktur sehingga tanda-tanda quiet quitting bisa dideteksi lebih cepat dan ditangani dengan lebih tepat.

Peran HRIS dalam Mencegah Quiet Quitting

Penggunaan HRIS membantu perusahaan mengelola SDM secara lebih terstruktur, terukur, dan berbasis data. Dengan sistem yang lebih terintegrasi, HR dapat lebih mudah mendeteksi tanda-tanda penurunan engagement kerja sebelum berkembang menjadi quiet quitting.

Berikut beberapa peran HRIS dalam membantu mencegah quiet quitting di perusahaan:

  • Memantau absensi karyawan secara real-time: Melalui aplikasi absensi karyawan, HR dapat melihat pola kehadiran, keterlambatan, maupun perubahan kebiasaan kerja karyawan dengan lebih cepat dan akurat.
  • Membantu monitoring performa dan KPI: Sistem HRIS memudahkan perusahaan mengevaluasi perkembangan kerja karyawan secara objektif berdasarkan data performa yang tercatat.
  • Menyimpan data karyawan dalam satu sistem terpusat: Dengan aplikasi database karyawan, seluruh informasi SDM dapat diakses lebih rapi sehingga HR lebih mudah melakukan analisis maupun pengambilan keputusan.
  • Meningkatkan transparansi administrasi HR: Karyawan dapat mengakses data cuti, absensi, hingga informasi personal melalui aplikasi employee self service tanpa proses manual yang rumit.
  • Membantu HR mendeteksi penurunan engagement lebih awal: Perubahan performa, produktivitas, atau kedisiplinan kerja dapat lebih cepat terlihat melalui dashboard HRIS.
  • Mempermudah komunikasi dan pengelolaan SDM: Sistem digital membantu proses HR menjadi lebih efisien sehingga HR dapat lebih fokus membangun engagement karyawan.
  • Mendukung proses evaluasi kerja yang lebih konsisten: Data performa tersimpan secara otomatis sehingga proses review kerja dapat dilakukan lebih terukur dan transparan.
  • Mengurangi beban administrasi manual HR: Penggunaan aplikasi HRIS membantu HR menghemat waktu dalam pengelolaan payroll, absensi, hingga administrasi karyawan lainnya.
  • Membantu perusahaan membangun budaya kerja yang lebih sehat: Pengelolaan SDM yang lebih transparan dan terstruktur dapat meningkatkan kenyamanan serta keterlibatan kerja karyawan.
  • Mendukung proses rekrutmen yang lebih tepat: Dengan aplikasi rekrutmen karyawan, perusahaan dapat mencari kandidat yang lebih sesuai dengan budaya dan kebutuhan kerja perusahaan sejak awal.

Bantu Deteksi Gejala Quiet Quitting Lebih Cepat dengan KantorKu HRIS!

Quiet quitting sering kali muncul secara perlahan dan sulit disadari sejak awal. Karena itu, perusahaan membutuhkan sistem kerja yang lebih terstruktur agar perubahan performa, keterlibatan, maupun produktivitas karyawan dapat dipantau dengan lebih akurat.

Tanpa pengelolaan SDM yang rapi, HR akan lebih sulit mengenali tanda-tanda penurunan engagement kerja yang berpotensi memengaruhi produktivitas tim maupun budaya perusahaan secara keseluruhan.

Salah satu solusi yang dapat membantu adalah KantorKu HRIS, sebuah aplikasi HRIS yang dirancang untuk mempermudah pengelolaan SDM dan administrasi karyawan dalam satu platform terintegrasi.

Melalui sistem yang lebih modern, perusahaan dapat memantau performa kerja, absensi, hingga pengelolaan data karyawan secara lebih efisien dan berbasis data.

KantorKu HRIS juga mendukung pengelolaan SDM yang lebih terukur melalui berbagai fitur seperti:

Dengan sistem yang lebih terintegrasi, HR dapat mengambil keputusan berdasarkan data, bukan sekadar asumsi.

Jadi, jika Anda ingin mendeteksi gejala quiet quitting lebih cepat sekaligus membangun pengelolaan SDM yang lebih modern, saatnya beralih menggunakan KantorKu HRIS yang lebih praktis dan terukur.

Book demo gratis KantorKu HRIS sekarang dan rasakan bagaimana pengelolaan SDM bisa menjadi lebih mudah, cepat, dan terstruktur!

Banner KantorKu HRIS
Masih Kelola Karyawan Secara Manual? Saatnya Beralih ke HRIS

Gunakan KantorKu HRIS untuk menyederhanakan administrasi HR, mulai dari absensi, payroll, hingga evaluasi kinerja dalam satu platform terintegrasi.

Referensi

State of the Global Workplace 2026 | Gallup

Bagikan

Related Articles

Workload Overload

Karyawan Workload Overload? Ini Penyebab, Tanda, & Dampaknya!

Workload overload adalah kondisi beban kerja berlebih yang melampaui kapasitas karyawan. Atasi dengan sistem HRIS agar produktivitas terjaga.
employee cost ratio

Panduan Employee Cost Ratio: Rumus, Contoh, & Cara Menghitungnya

Employee cost ratio adalah persentase total biaya karyawan dibandingkan pendapatan perusahaan untuk mengukur efisiensi biaya tenaga kerja.
phk sepihak

Bolehkah PHK Sepihak? Cek Aturan, Penyebab, & Hak Karyawan

Pahami aturan PHK sepihak agar perusahaan terhindar dari sengketa. Pelajari dasar hukum, hak pesangon, dan solusi.