Karyawan Resign Saat Masa Training? Cek Aturan & Dampaknya!
Karyawan resign saat masa training bisa berdampak pada operasional, biaya, hingga proses HR. Simak penyebab hingga cara menguranginya.
Table of Contents
- Apa Itu Masa Training Karyawan?
- Kenapa Karyawan Resign Saat Masa Training?
- Dampak Resign Saat Training
- Cara Mengurangi Karyawan Resign Saat Masa Training
- 10 Contoh Alasan Resign saat Masa Training
- Peran HRIS dalam Mengurangi Resign di Masa Training
- Cegah Karyawan Resign dengan Sistem HRD Lebih Rapi lewat KantorKu HRIS!
Table of Contents
- Apa Itu Masa Training Karyawan?
- Kenapa Karyawan Resign Saat Masa Training?
- Dampak Resign Saat Training
- Cara Mengurangi Karyawan Resign Saat Masa Training
- 10 Contoh Alasan Resign saat Masa Training
- Peran HRIS dalam Mengurangi Resign di Masa Training
- Cegah Karyawan Resign dengan Sistem HRD Lebih Rapi lewat KantorKu HRIS!
Resign saat masa training menjadi salah satu tantangan yang cukup sering dihadapi oleh HRD dalam proses onboarding karyawan baru.
Pada fase awal ini, perusahaan sebenarnya sedang berinvestasi waktu dan biaya untuk mengenalkan budaya kerja, sistem operasional, hingga job desk yang akan dijalankan karyawan ke depannya.
Namun, tidak sedikit karyawan yang memutuskan untuk mengundurkan diri bahkan sebelum masa training atau probation selesai. Kondisi ini dapat memengaruhi stabilitas tim, efisiensi rekrutmen, hingga beban kerja HR yang harus kembali mengulang proses dari awal.
Lalu, sebenarnya bolehkah resign saat probation, dan apa saja yang biasanya menjadi penyebabnya?
Pada artikel ini, Anda akan menemukan penjelasan lengkap mengenai alasan umum karyawan resign di masa training, dampaknya bagi perusahaan, hingga hal yang bisa dilakukan untuk meminimalkan hal tersebut.
Apa Itu Masa Training Karyawan?

Masa training karyawan adalah periode awal kerja yang juga dikenal sebagai masa probation atau masa percobaan, yaitu fase ketika perusahaan menilai kesesuaian karyawan baru sebelum ditetapkan sebagai karyawan tetap.
Pada tahap ini, fokus utamanya bukan hanya bekerja, tetapi juga proses adaptasi terhadap sistem, tugas, dan budaya perusahaan.
Umumnya, masa training berlangsung sekitar 1–3 bulan. Ketentuan ini juga sejalan dengan UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 Pasal 60, yang menyebutkan bahwa masa percobaan kerja hanya diperbolehkan maksimal 3 bulan untuk karyawan berstatus PKWTT atau tetap.
Pada intinya, masa ini memiliki beberapa tujuan utama:
- Menilai kemampuan dan kinerja karyawan baru
- Melihat kesesuaian dengan job desk dan standar perusahaan
- Mengukur kemampuan adaptasi di lingkungan kerja
- Memberikan pelatihan dasar terkait pekerjaan
- Menentukan kelanjutan status karyawan menjadi tetap atau tidak
Baca Juga: 12 Jenis Training Karyawan Yang Efektif dan Cara Menyusunnya
Kenapa Karyawan Resign Saat Masa Training?
Pada dasarnya, keputusan karyawan untuk resign di masa training biasanya muncul karena adanya ketidaksesuaian antara ekspektasi sebelum masuk kerja dengan kondisi nyata di lapangan.
Beberapa faktor yang umum menjadi penyebabnya antara lain:
1. Budaya Kerja Tidak Sesuai
Karyawan sering merasa kurang cocok dengan cara kerja, ritme kantor, atau interaksi antar tim yang ada di perusahaan. Ketidakcocokan ini membuat proses adaptasi terasa berat sejak awal.
2. Ketidaksesuaian Job Desk
Dalam beberapa kasus, pekerjaan yang dijalani tidak sesuai dengan penjelasan saat interview. Perbedaan ini membuat karyawan merasa ekspektasi awal tidak terpenuhi.
3. Lingkungan Kerja Kurang Nyaman
Hubungan yang kurang harmonis dengan rekan kerja atau atasan dapat membuat karyawan merasa tidak betah, sehingga memilih untuk mengundurkan diri lebih cepat.
4. Mendapat Tawaran Pekerjaan Lain
Tidak sedikit karyawan yang menerima tawaran dari perusahaan lain dengan gaji, posisi, atau benefit yang dianggap lebih baik, sehingga memutuskan untuk pindah bahkan di awal masa kerja.
5. Kurangnya Perkembangan Selama Training
Ketika masa training tidak memberikan arahan atau pembelajaran yang jelas, karyawan bisa merasa tidak mendapatkan nilai tambah untuk pengembangan dirinya.
6. Kendala atau Faktor Pribadi
Faktor seperti jarak tempat kerja yang terlalu jauh, pindah domisili, atau kondisi kesehatan juga sering menjadi alasan karyawan tidak melanjutkan masa kerja.
Baca Juga: Induction Training: Arti, Manfaat, Contoh, & 5 Tipsnya untuk HRD!
Gunakan KantorKu HRIS untuk mengelola seluruh proses resign secara otomatis dalam satu sistem. Lebih tertata, transparan, dan minim kesalahan.
Dampak Resign Saat Training
Resign di masa training tidak hanya berdampak pada karyawan yang bersangkutan, tetapi juga memberikan efek berantai bagi perusahaan, terutama pada aspek operasional, biaya, hingga stabilitas tim. Berikut penjelasannya:
1. Kerugian Biaya Rekrutmen dan Pelatihan
Ketika karyawan resign di tahap awal, perusahaan kehilangan biaya yang sudah dikeluarkan sejak proses rekrutmen hingga pelatihan.
Hal ini mencakup biaya iklan lowongan, waktu interviewer, hingga fasilitas training yang sudah digunakan. Bahkan dalam banyak kasus, perusahaan juga tetap membayarkan gaji secara proporsional meskipun kontribusi kerja belum optimal.
2. Gangguan Operasional dan Produktivitas Tim
Resign di masa training membuat posisi kerja kembali kosong sehingga alur kerja tim bisa terganggu. Pekerjaan yang seharusnya ditangani satu orang akhirnya dibagi ke anggota tim lain, yang dapat menurunkan fokus dan produktivitas secara keseluruhan.
3. Proses Rekrutmen Harus Diulang Dari Awal
HR harus kembali membuka lowongan, melakukan screening, interview, hingga onboarding ulang. Proses ini tidak hanya memakan waktu, tetapi juga mengalihkan fokus HR dari pengelolaan SDM yang lebih strategis.
Baca Juga: 10 Contoh Template Screening Kandidat HRD [+ Download Gratis]
4. Menurunnya Stabilitas dan Moral Tim
Tingkat turnover yang tinggi di fase awal dapat memengaruhi suasana kerja. Tim bisa merasa tidak stabil karena terus-menerus beradaptasi dengan anggota baru yang keluar masuk dalam waktu singkat.
5. Dampak pada Citra Perusahaan
Jika kasus resign di masa training sering terjadi, perusahaan dapat dipersepsikan memiliki proses seleksi yang kurang tepat atau budaya kerja yang kurang sehat. Hal ini berpotensi menyulitkan perusahaan dalam menarik kandidat berkualitas di masa depan.
Cara Mengurangi Karyawan Resign Saat Masa Training

Untuk mengurangi risiko resign saat masih probation, perusahaan perlu membangun sistem yang membuat karyawan merasa terarah dan dihargai sejak hari pertama, antara lain:
1. Perjelas Job Description dan Ekspektasi Sejak Awal
Salah satu penyebab utama resign saat masa training adalah ketidaksesuaian antara ekspektasi dan realita pekerjaan. Karena itu, perusahaan perlu memastikan job description benar-benar dipahami sejak proses rekrutmen.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
- Jelaskan job desk secara detail saat interview
- Hindari overpromising terkait pekerjaan maupun benefit
- Pastikan tanggung jawab sesuai dengan kondisi kerja sebenarnya
2. Bangun Onboarding yang Terstruktur dan Mudah Dipahami
Onboarding yang tidak jelas sering membuat karyawan baru merasa bingung dan tidak terarah. Di tahap ini, perusahaan bisa memanfaatkan aplikasi employee self service atau sistem digital onboarding agar proses lebih rapi dan konsisten.
Agar lebih efektif, onboarding bisa mencakup:
- Materi training yang bertahap dan mudah dipahami
- Panduan kerja yang terdokumentasi dengan baik
- Pendampingan dari mentor atau senior di tim
Baca Juga: 8 Contoh Employee Onboarding Checklist [+ Template Siap Download!]
3. Tingkatkan Komunikasi Dua Arah antara HR dan Karyawan
Komunikasi yang terbuka membantu perusahaan memahami masalah sejak dini sebelum karyawan memutuskan resign di masa training atau bahkan saat resign setelah 3 bulan kerja.
Pendekatan yang bisa dilakukan:
- Sesi check-in rutin setiap minggu
- Forum feedback dua arah antara karyawan dan HR
- Ruang diskusi terbuka untuk kendala pekerjaan
4. Gunakan Sistem Monitoring Kinerja Berbasis Data
Tanpa sistem yang jelas, HR akan kesulitan membaca tanda-tanda awal ketidakcocokan karyawan. Di sinilah peran aplikasi HRIS dan aplikasi database karyawan menjadi penting untuk membantu proses evaluasi lebih objektif.
Dengan sistem ini, perusahaan bisa:
- Melakukan evaluasi performa berbasis KPI
- Memantau progres training secara real-time
- Mengidentifikasi kendala lebih cepat sebelum karyawan resign
5. Ciptakan Lingkungan Kerja yang Sehat dan Suportif
Budaya kerja sangat berpengaruh terhadap keputusan karyawan untuk bertahan atau keluar di masa awal kerja. Lingkungan yang terlalu kaku atau tidak suportif sering menjadi alasan resign masa probation.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Membangun budaya kerja yang terbuka dan apresiatif
- Memberikan dukungan dari atasan secara aktif
- Menciptakan suasana kerja yang kolaboratif
6. Berikan Gambaran Karier dan Insentif yang Jelas
Karyawan cenderung bertahan lebih lama jika mereka melihat arah pengembangan yang jelas. Selain itu, insentif juga bisa menjadi dorongan tambahan untuk melewati masa training dengan baik.
Hal yang bisa diterapkan:
- Penjelasan jalur karier sejak awal
- Informasi peluang pengembangan skill
- Insentif atau bonus berbasis pencapaian jangka pendek
7. Identifikasi Tanda Awal Karyawan yang Berpotensi Resign
HR perlu lebih peka terhadap perubahan sikap karyawan selama masa training. Pendekatan personal bisa membantu mencegah keputusan resign sebelum benar-benar terjadi.
Tanda yang perlu diperhatikan:
- Penurunan motivasi kerja
- Kurangnya interaksi dengan tim
- Penurunan performa secara tiba-tiba
- Ketidakhadiran atau keterlambatan yang mulai meningkat
Dengan pengelolaan yang lebih sistematis, perusahaan juga dapat memanfaatkan aplikasi absensi karyawan untuk membantu membaca pola kedisiplinan sejak awal masa kerja.
Baca Juga: Resign Tanpa One Month Notice: Aturan, Risiko, & Cara Mengelolanya
Dengan KantorKu HRIS, perhitungan upah terakhir, UPH, dan kompensasi lainnya dapat dilakukan secara otomatis. Lebih cepat, akurat, dan sesuai regulasi.
10 Contoh Alasan Resign saat Masa Training
Biasanya, resign saat masa training disampaikan dengan berbagai alasan yang berkaitan dengan pekerjaan, lingkungan kerja, hingga faktor pribadi.
Nah, ini dia beberapa contoh alasan resign saat training yang paling umum dan masih dianggap profesional dalam dunia kerja:
1. Tidak Sesuai Ekspektasi Pekerjaan
Alasan ini muncul ketika karyawan merasa pekerjaan yang dijalani berbeda dari penjelasan saat interview. Misalnya:
- Job desk lebih kompleks dari perkiraan
- Tugas harian tidak sesuai dengan posisi yang disepakati
2. Ketidakcocokan Budaya Perusahaan
Sebagian karyawan merasa nilai, ritme kerja, atau cara berinteraksi di perusahaan tidak sesuai dengan dirinya sehingga sulit untuk beradaptasi.
3. Mendapat Penawaran Pekerjaan yang Lebih Baik
Tidak sedikit karyawan yang memutuskan resign karena mendapatkan peluang lain yang dianggap lebih menarik, seperti:
- Gaji yang lebih tinggi
- Posisi yang lebih sesuai dengan rencana karier
- Benefit yang lebih kompetitif
4. Lingkungan Kerja Kurang Nyaman
Lingkungan kerja yang kurang suportif juga sering menjadi alasan resign saat probation, terutama ketika:
- Dukungan tim kurang terasa
- Komunikasi dengan atasan tidak berjalan baik
5. Masalah Lokasi atau Transportasi
Faktor mobilitas juga cukup sering memengaruhi keputusan resign, misalnya:
- Lokasi kantor terlalu jauh dari tempat tinggal
- Waktu dan biaya perjalanan terlalu tinggi
6. Proses Training yang Tidak Jelas
Karyawan baru bisa kesulitan bertahan jika tidak mendapatkan arahan yang cukup selama masa adaptasi, seperti:
- Tidak adanya mentor atau pembimbing
- Materi training tidak terstruktur dengan baik
7. Tekanan Kerja yang Terlalu Tinggi
Beberapa karyawan merasa belum siap dengan ritme kerja perusahaan, terutama jika:
- Target terlalu tinggi di awal masa kerja
- Deadline dirasa terlalu ketat untuk tahap training
8. Kondisi Kesehatan atau Keluarga
Alasan ini biasanya bersifat mendesak dan tidak bisa dihindari, seperti:
- Kondisi kesehatan yang membutuhkan istirahat
- Urusan keluarga yang harus diprioritaskan
9. Perubahan Arah Karier atau Minat
Sebagian karyawan menyadari bahwa bidang pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan minat atau rencana karier jangka panjang, sehingga memilih untuk berpindah jalur.
10. Ketidakjelasan Status Kerja
Jika perusahaan tidak memberikan kepastian terkait kelanjutan status kerja, karyawan bisa merasa ragu untuk melanjutkan masa training.
Dalam praktiknya, ketika karyawan memutuskan untuk resign saat masa training, proses pengunduran diri biasanya tidak hanya disampaikan secara lisan, tetapi juga dibuat dalam bentuk surat resmi kepada perusahaan sebagai bagian dari administrasi HR.
Contoh surat pengunduran diri masa training biasanya seperti berikut:

Selain melalui surat resmi, dalam beberapa kondisi, karyawan juga menyampaikan keputusan resign secara lebih cepat melalui komunikasi harian, misalnya lewat WhatsApp, terutama untuk memberi pemberitahuan awal kepada atasan atau HR.
Contoh cara mengundurkan diri dari training kerja lewat WA biasanya ditulis seperti berikut:
“Selamat pagi Bapak/Ibu,
Perkenalkan saya [Nama], karyawan pada posisi [Jabatan] di masa training.
Dengan ini saya ingin menyampaikan keputusan untuk mengundurkan diri dari proses training di perusahaan [Nama Perusahaan]. Keputusan ini saya ambil setelah mempertimbangkan beberapa hal pribadi, termasuk [alasan secara singkat, misalnya: ketidaksesuaian ekspektasi terhadap pekerjaan / kondisi kesehatan / pertimbangan keluarga / arah karier].
Saya mengucapkan terima kasih atas kesempatan, arahan, dan pembelajaran yang telah diberikan selama saya bergabung.
Saya juga memohon maaf apabila keputusan ini menimbulkan ketidaknyamanan bagi perusahaan. Untuk proses administrasi selanjutnya, saya siap mengikuti seluruh prosedur yang diperlukan.
Terima kasih atas pengertian Bapak/Ibu.
Hormat saya,
[Nama]”
Peran HRIS dalam Mengurangi Resign di Masa Training
Penggunaan sistem HRIS (Human Resource Information System) memiliki peran penting dalam membantu perusahaan mengelola karyawan sejak hari pertama masuk kerja.
Dengan sistem yang lebih terstruktur, perusahaan dapat meminimalkan risiko resign saat masa training karena proses onboarding, monitoring, hingga evaluasi menjadi lebih jelas dan terukur.
1. Onboarding Jadi Lebih Terarah
Aplikasi HRIS membantu perusahaan menyusun proses onboarding secara lebih sistematis. Karyawan baru jadi lebih mudah memahami alur kerja, tugas, dan aturan perusahaan sejak hari pertama.
2. Monitoring Kinerja Lebih Mudah
Selama masa training, HR bisa memantau perkembangan karyawan secara langsung melalui data di sistem. Dengan bantuan ini, penilaian tidak lagi bergantung pada catatan manual, tetapi berbasis data yang lebih jelas.
3. Komunikasi Lebih Lancar
HRIS memudahkan komunikasi antara HR dan karyawan, misalnya untuk informasi kerja atau feedback. Jika didukung dengan aplikasi employee self service, karyawan juga bisa mengakses kebutuhan administrasi mereka sendiri dengan lebih mudah.
4. Data Karyawan Lebih Rapi
Banyak masalah awal kerja muncul karena data yang tidak jelas atau tersebar. Dengan aplikasi database karyawan, semua informasi seperti kontrak, absensi, dan riwayat kerja tersimpan dalam satu sistem yang terpusat.
5. Absensi Lebih Transparan
Melalui aplikasi absensi karyawan, perusahaan bisa memantau kehadiran karyawan secara real-time. Ini membantu HR melihat kedisiplinan sejak awal masa kerja.
6. Evaluasi Lebih Cepat
Dengan semua data yang sudah terkumpul di sistem, HR bisa melakukan evaluasi karyawan dengan lebih cepat dan objektif tanpa harus menunggu laporan manual.
Baca Juga: 15 Cara Memilih Aplikasi HRIS yang Tepat untuk Bisnis
Cegah Karyawan Resign dengan Sistem HRD Lebih Rapi lewat KantorKu HRIS!
Mengelola karyawan di masa awal kerja tidak hanya soal rekrutmen, tetapi juga memastikan proses onboarding berjalan jelas dan terarah. Tanpa sistem yang rapi, risiko resign saat masa training bisa meningkat karena karyawan merasa bingung dan tidak terarah.
Di sinilah peran HR system menjadi penting. Dengan bantuan teknologi seperti HRIS, perusahaan dapat mengelola data karyawan, absensi, payroll, hingga evaluasi kerja dalam satu sistem yang lebih terintegrasi.
KantorKu HRIS hadir sebagai solusi HR yang membantu perusahaan mengelola proses administrasi karyawan dengan lebih mudah dan efisien.
Mulai dari onboarding, pengelolaan aplikasi absensi karyawan, hingga pemantauan kinerja selama masa training, semuanya bisa dilakukan dalam satu platform.

Dengan sistem yang lebih terstruktur, Anda tidak perlu lagi mengandalkan proses manual yang memakan waktu. Perusahaan juga dapat meminimalkan miskomunikasi dan memastikan setiap karyawan baru mendapatkan pengalaman kerja yang lebih jelas sejak awal.
Jadi, jangan biarkan proses HR yang rumit menghambat produktivitas tim Anda. Gunakan KantorKu HRIS untuk membantu pengelolaan SDM menjadi lebih cepat, rapi, dan otomatis.
Yuk book demo gratis KantorKu HRIS dan mulai transformasi HR Anda hari ini!
Gunakan KantorKu HRIS untuk menyederhanakan proses offboarding, mengurangi pekerjaan administratif, dan memastikan seluruh data karyawan terkelola dengan rapi.
Referensi
Related Articles
20 Contoh Pertanyaan Structured Interview untuk Rekrutmen HR
Apa Itu Candidate Experience? Definisi, Contoh, & 7 Komponen