5 Cara Menghitung Laba Rugi Perusahaan & Contoh Mudah Perhitungannya
Bingung cara menghitung laba rugi perusahaan? Simak panduan lengkap dengan rumus & contoh perhitungan laba rugi di berbagai jenis usaha yang mudah diterapkan!
Table of Contents
- Apa Itu Laba Rugi dalam Bisnis?
- Komponen dalam Laporan Laba Rugi
- Rumus Dasar Cara Menghitung Laba Rugi
- Cara Menghitung Laba Rugi Perusahaan
- Contoh Cara Menghitung Laba Rugi Perusahaan
- Cara Menghitung Laba Kotor
- Cara Menghitung Laba Operasional
- Hindari Kesalahan Hitung Gaji yang Merusak Margin Laba Perusahaan!
Table of Contents
- Apa Itu Laba Rugi dalam Bisnis?
- Komponen dalam Laporan Laba Rugi
- Rumus Dasar Cara Menghitung Laba Rugi
- Cara Menghitung Laba Rugi Perusahaan
- Contoh Cara Menghitung Laba Rugi Perusahaan
- Cara Menghitung Laba Kotor
- Cara Menghitung Laba Operasional
- Hindari Kesalahan Hitung Gaji yang Merusak Margin Laba Perusahaan!
Mengetahui cara menghitung laba rugi merupakan langkah penting bagi setiap bisnis, baik perusahaan kecil maupun besar.
Laporan laba rugi membantu pemilik usaha dan manajemen memahami apakah bisnis menghasilkan keuntungan atau justru mengalami kerugian dalam periode tertentu.
Bagi HR maupun manajemen perusahaan, laporan ini juga menjadi acuan untuk melihat pengaruh biaya karyawan, tunjangan, hingga operasional SDM terhadap profit perusahaan.
Melalui artikel ini, Anda akan mempelajari cara menghitung laba rugi dan contohnya, mulai dari rumus dasar hingga contoh perhitungan pada berbagai jenis usaha. Mari simak penjelasan lengkapnya di bawah ini!
Apa Itu Laba Rugi dalam Bisnis?

Laba rugi dalam bisnis adalah selisih antara total pendapatan dengan total biaya yang dikeluarkan dalam satu periode tertentu, misalnya bulanan, triwulanan, atau tahunan, untuk mengetahui kondisi keuangan bisnis.
Secara sederhana, hasil dari perhitungan ini akan menunjukkan apakah perusahaan memperoleh keuntungan atau justru mengalami kerugian.
Jika pendapatan lebih besar dari biaya yang dikeluarkan, perusahaan memperoleh laba (profit). Sebaliknya, jika total biaya lebih besar daripada pendapatan, maka perusahaan mengalami rugi (loss).
Mengutip Investopedia, dalam praktik akuntansi, perhitungan tersebut disajikan dalam laporan laba rugi (income statement), yang merangkum pendapatan, biaya, serta keuntungan atau kerugian perusahaan dalam periode tertentu.
Umumnya, laporan laba rugi memberikan gambaran penting mengenai beberapa aspek berikut:
- Kinerja keuangan perusahaan
- Efisiensi operasional bisnis
- Struktur biaya yang memengaruhi profit
- Potensi pengembangan dan strategi bisnis
Bagi HR dan manajemen perusahaan, laporan ini juga memiliki peran penting karena biaya tenaga kerja sering menjadi salah satu komponen operasional terbesar dalam bisnis.
Dengan KantorKu HRIS, Anda dapat mengelola payroll dan data karyawan secara terintegrasi untuk memantau biaya operasional bisnis.
Komponen dalam Laporan Laba Rugi
Untuk memahami cara menghitung laba rugi perusahaan, Anda perlu mengetahui terlebih dahulu komponen utama yang terdapat dalam laporan laba rugi. Berikut beberapa komponen utamanya:
1. Pendapatan (Revenue)
Pendapatan adalah total pemasukan yang diperoleh perusahaan dari aktivitas bisnis utama dalam periode tertentu. Contohnya meliputi:
- Penjualan produk
- Pendapatan jasa
- Pendapatan tambahan lainnya
Komponen ini menjadi titik awal dalam cara menghitung laba rugi penjualan, karena seluruh perhitungan laba didasarkan pada total pendapatan yang diperoleh perusahaan.
2. Harga Pokok Penjualan (HPP)
Harga Pokok Penjualan atau HPP (Cost of Goods Sold / COGS) adalah biaya langsung yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk atau menyediakan layanan. Contohnya:
- Biaya bahan baku
- Biaya produksi
- Upah tenaga kerja langsung
HPP menjadi komponen penting dalam cara menghitung laba rugi perusahaan dagang maupun manufaktur, karena biaya ini berkaitan langsung dengan proses produksi atau penjualan barang.
3. Laba Kotor (Gross Profit)
Laba kotor adalah selisih antara pendapatan dengan HPP:
Laba Kotor = Pendapatan – HPP
Nilai ini menunjukkan profitabilitas awal dari kegiatan bisnis utama sebelum dikurangi biaya operasional. Menambahkan komponen laba kotor membantu perusahaan memahami efisiensi produksi atau penjualan.
4. Biaya Operasional (Operating Expenses)
Biaya operasional adalah pengeluaran yang diperlukan untuk menjalankan bisnis sehari-hari, tetapi tidak terkait langsung dengan produksi, misalnya:
- Gaji karyawan dan tunjangan
- Sewa kantor
- Biaya pemasaran
- Biaya administrasi dan teknologi
Bagi HR dan manajemen, biaya payroll dan tunjangan karyawan sering menjadi salah satu komponen terbesar dalam biaya operasional, sehingga pengelolaannya yang efisien sangat penting untuk menjaga profitabilitas.
Baca Juga: Cara Menghitung Gaji Karyawan Berdasarkan Omset, Dapat Berapa Persen?
5. Laba atau Rugi Bersih (Net Profit/Net Loss)
Komponen terakhir adalah laba atau rugi bersih, yaitu hasil akhir setelah seluruh pendapatan dikurangi dengan HPP dan biaya operasional.
Nilai ini menunjukkan keuntungan atau kerugian nyata yang diperoleh perusahaan dalam periode tertentu dan menjadi indikator utama kinerja keuangan bisnis.
Baca Juga: Mengenal Pentingnya Laporan Laba Rugi bagi Bisnis dan Contohnya
Rumus Dasar Cara Menghitung Laba Rugi

Untuk mengetahui cara menghitung laba rugi, perusahaan perlu memahami rumus dasar yang digunakan untuk menghitung laba atau rugi dalam suatu periode tertentu.
Secara umum, rumus ini mencari selisih antara seluruh pendapatan dan seluruh biaya yang dikeluarkan perusahaan:
1. Rumus Utama
Rumus paling sederhana yang dapat digunakan adalah:
Laba atau Rugi = Total Pendapatan – Total Biaya
Total biaya biasanya mencakup Harga Pokok Penjualan (HPP), biaya operasional, pajak, dan beban lainnya. Adapun, hasilnya menunjukkan:
- Laba (Profit): Terjadi jika hasil pengurangan bernilai positif (Pendapatan > Biaya).
- Rugi (Loss): Terjadi jika hasil pengurangan bernilai negatif (Pendapatan < Biaya).
Rumus ini menjadi dasar dalam menyusun laporan laba rugi dan menjadi acuan awal untuk menilai profitabilitas perusahaan.
2. Rumus Turunan
Dalam praktik akuntansi atau perusahaan yang lebih rapi, perhitungan laba rugi biasanya dibagi menjadi beberapa rumus untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas:
a. Laba Kotor (Gross Profit)
Laba kotor menunjukkan keuntungan langsung dari aktivitas bisnis utama sebelum dikurangi biaya operasional lainnya.
Rumus:
Laba Kotor = Penjualan Bersih – Harga Pokok Penjualan (HPP)
b. Biaya Operasional (Operating Expenses)
Biaya operasional adalah semua pengeluaran yang diperlukan untuk menjalankan bisnis sehari-hari, contohnya:
- Gaji karyawan dan tunjangan
- Sewa gedung atau kantor
- Listrik, air, dan utilitas lainnya
- Biaya administrasi, pemasaran, dan operasional pendukung lainnya
Rumus:
Biaya Operasional = Total Seluruh Pengeluaran Operasional
c. Laba Operasional (Operating Profit)
Laba operasional dihitung setelah laba kotor dikurangi seluruh biaya operasional. Nilai ini menunjukkan keuntungan perusahaan sebelum memperhitungkan bunga dan pajak.
Rumus:
Laba Operasional = Laba Kotor – Biaya Operasional
d. Biaya Bunga (Interest Expenses)
Biaya bunga adalah beban yang timbul dari pinjaman atau utang perusahaan. Komponen ini penting, terutama bagi perusahaan yang memiliki pinjaman bank, kredit usaha, atau utang jangka panjang
Rumus:
Biaya Bunga = Total Bunga Pinjaman + Biaya Keuangan Lainnya
e. Pajak Penghasilan (Income Tax)
Pajak penghasilan adalah kewajiban pajak perusahaan berdasarkan laba sebelum pajak. Perhitungan pajak yang akurat memastikan perusahaan mematuhi regulasi perpajakan sekaligus mengetahui jumlah laba bersih yang sebenarnya.
Rumus:
Pajak Penghasilan = Laba Sebelum Pajak × Tarif Pajak
f. Laba Bersih (Net Profit)
Laba bersih adalah hasil akhir setelah seluruh pendapatan, termasuk pendapatan lain-lain, dikurangi seluruh biaya, bunga, dan pajak. Nilai ini menunjukkan keuntungan atau kerugian yang benar-benar menjadi hak perusahaan dalam periode tertentu.
Cara menghitung laba bersih cukup mudah dengan rumus di bawah ini.
Rumus:
Laba Bersih = Laba Operasional – Pajak – Bunga
Dengan KantorKu HRIS, Anda bisa menghitung gaji, tunjangan, pajak, hingga laporan payroll secara otomatis untuk membantu mengontrol biaya operasional bisnis.
Cara Menghitung Laba Rugi Perusahaan
Menghitung laba rugi perusahaan sebenarnya bisa dilakukan secara sistematis dengan mengikuti beberapa langkah sederhana. Berikut ini langkah-langkah detail yang dapat Anda ikuti:
1. Hitung Total Pendapatan
Langkah pertama adalah menghitung seluruh pendapatan perusahaan selama periode tertentu. Pendapatan ini mencakup:
- Penjualan produk
- Pendapatan jasa
- Pendapatan tambahan lainnya
Menjumlahkan semua pendapatan akan memberikan gambaran total omzet atau pendapatan kotor yang menjadi dasar perhitungan laba rugi perusahaan.
2. Hitung Harga Pokok Penjualan (HPP)
Selanjutnya, hitung biaya langsung yang dikeluarkan untuk memproduksi barang atau menyediakan jasa. Contohnya:
- Biaya bahan baku
- Biaya tenaga kerja langsung
- Biaya overhead produksi seperti sewa alat atau mesin
Mengurangkan HPP dari total pendapatan akan menghasilkan laba kotor (gross profit), yang menunjukkan profitabilitas awal dari kegiatan bisnis utama.
3. Hitung Total Biaya Operasional
Langkah berikutnya adalah menghitung semua biaya operasional tidak langsung yang diperlukan untuk menjalankan bisnis sehari-hari, antara lain:
- Gaji karyawan dan tunjangan
- Biaya pemasaran dan promosi
- Sewa kantor dan utilitas
- Biaya administrasi dan teknologi
Total biaya operasional ini nantinya akan dikurangkan dari laba kotor untuk menghitung laba operasional.
4. Kurangi Pendapatan dengan Semua Biaya
Setelah semua komponen diketahui, langkah selanjutnya adalah mengurangkan seluruh biaya (HPP + Biaya Operasional + Bunga + Pajak) dari total pendapatan.
Rumus sederhananya:
Laba Bersih = Total Pendapatan – (HPP + Biaya Operasional + Bunga + Pajak)
Langkah ini akan menunjukkan apakah perusahaan menghasilkan laba atau mengalami kerugian.
5. Tentukan Laba atau Rugi Bersih
Hasil akhir dari perhitungan tersebut adalah laba bersih atau rugi bersih perusahaan:
- Laba Bersih: Jika hasil pengurangan bernilai positif (pendapatan > biaya).
- Rugi Bersih: Jika hasil pengurangan bernilai negatif (pendapatan < biaya).
Dengan mengikuti langkah-langkah ini, Anda dapat memperoleh angka-angka yang akurat untuk menyusun laporan laba rugi perusahaan.
Selain itu, proses ini juga membantu manajemen dan HR menilai pengaruh biaya karyawan, tunjangan, dan operasional SDM terhadap profit perusahaan, sehingga keputusan bisnis dapat lebih tepat dan efisien.
Contoh Cara Menghitung Laba Rugi Perusahaan

Setelah memahami komponen dan rumus laba rugi, penting bagi Anda melihat contoh perhitungan nyata agar lebih mudah mempraktikkannya. Berikut beberapa contoh cara menghitung laba rugi untuk berbagai jenis usaha:
1. Contoh Cara Menghitung Laba Rugi Usaha Kecil
Bayangkan Anda memiliki toko kelontong kecil. Dalam satu bulan, toko tersebut mendapatkan pendapatan dari penjualan sebesar Rp20.000.000.
Sementara itu, biaya langsung (HPP) untuk membeli barang dagangan adalah Rp12.000.000. Biaya operasional, termasuk listrik, sewa, dan gaji karyawan, mencapai Rp5.000.000.
Dengan contoh ini, Anda bisa melihat cara menghitung laba rugi usaha kecil secara praktis.
Perhitungan:
- Laba Kotor = Rp20.000.000 – Rp12.000.000 = Rp8.000.000
- Laba Operasional = Rp8.000.000 – Rp5.000.000 = Rp3.000.000
- Biaya Bunga = Rp0 (tidak ada pinjaman)
- Pajak Penghasilan = Rp300.000 (misal 10%)
- Laba Bersih = Rp3.000.000 – Rp300.000 = Rp2.700.000
Dengan begitu, toko kecil Anda menghasilkan laba bersih Rp2.700.000 dalam satu bulan.
2. Contoh Cara Menghitung Laba Rugi PKWU
Produk Kreatif dan Wirausaha (PKWU) sering berupa usaha rumahan atau UMKM seperti produksi kerajinan. Misalnya, pendapatan dari penjualan kerajinan Rp15.000.000, HPP Rp7.000.000, dan biaya operasional Rp4.000.000.
Contoh ini menunjukkan cara menghitung laba rugi PKWU sehingga pemilik usaha bisa menilai efisiensi biaya produksi dan keuntungan bersih.
Perhitungan:
- Laba Kotor = Rp15.000.000 – Rp7.000.000 = Rp8.000.000
- Laba Operasional = Rp8.000.000 – Rp4.000.000 = Rp4.000.000
- Biaya Bunga = Rp0
- Pajak = Rp400.000 (10%)
- Laba Bersih = Rp3.600.000
Dengan demikian, usaha kerajinan tersebut berhasil memperoleh laba bersih Rp3.600.000 untuk periode tersebut, mencerminkan efisiensi operasional yang baik.
3. Contoh Cara Menghitung Laba Rugi Perusahaan Jasa
Misal sebuah perusahaan konsultan memperoleh pendapatan Rp50.000.000 dari proyek. Biaya langsung (gaji konsultan) Rp20.000.000, biaya operasional kantor Rp15.000.000, bunga pinjaman Rp2.000.000, pajak 10%.
Dengan contoh ini, manajemen dapat memahami cara menghitung laba rugi perusahaan jasa, termasuk kontribusi biaya operasional dan pajak terhadap laba bersih.
Perhitungan:
- Laba Kotor = Rp50.000.000 – Rp20.000.000 = Rp30.000.000
- Laba Operasional = Rp30.000.000 – Rp15.000.000 = Rp15.000.000
- Laba Sebelum Pajak = Rp15.000.000 – Rp2.000.000 = Rp13.000.000
- Pajak = Rp1.300.000
- Laba Bersih = Rp11.700.000
Dengan begitu, perusahaan jasa tersebut berhasil mencatat laba bersih Rp11.700.000, yang dapat digunakan untuk investasi atau pengembangan layanan berikutnya.
4. Contoh Cara Menghitung Laba Rugi Perusahaan Dagang
Sebuah perusahaan dagang elektronik menjual produk senilai Rp200.000.000 dengan HPP Rp150.000.000. Biaya operasional Rp30.000.000, bunga Rp5.000.000, pajak 10%.
Contoh ini memudahkan manajemen melihat cara menghitung laba rugi perusahaan dagang untuk mengetahui margin keuntungan dan pengaruh biaya operasional.
Perhitungan:
- Laba Kotor = Rp200.000.000 – Rp150.000.000 = Rp50.000.000
- Laba Operasional = Rp50.000.000 – Rp30.000.000 = Rp20.000.000
- Laba Sebelum Pajak = Rp20.000.000 – Rp5.000.000 = Rp15.000.000
- Pajak = Rp1.500.000
- Laba Bersih = Rp13.500.000
Dengan kata lain, perusahaan dagang ini memperoleh laba bersih Rp13.500.000, yang menunjukkan profitabilitas yang sehat setelah memperhitungkan semua biaya.
5. Contoh Cara Menghitung Laba Rugi Penjualan Produk
Misal penjualan produk kosmetik menghasilkan pendapatan Rp100.000.000, HPP Rp60.000.000, biaya operasional Rp25.000.000, bunga Rp2.500.000, pajak 10%.
Contoh ini menunjukkan cara menghitung laba rugi penjualan agar pemilik produk bisa menilai margin laba per produk dan strategi harga.
Perhitungan:
- Laba Kotor = Rp100.000.000 – Rp60.000.000 = Rp40.000.000
- Laba Operasional = Rp40.000.000 – Rp25.000.000 = Rp15.000.000
- Laba Sebelum Pajak = Rp15.000.000 – Rp2.500.000 = Rp12.500.000
- Pajak = Rp1.250.000
- Laba Bersih = Rp11.250.000
Dengan demikian, penjualan produk kosmetik ini berhasil menghasilkan laba bersih Rp11.250.000, memberikan gambaran jelas tentang profit per produk.
Baca Juga: Neraca Saldo Adalah: Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Cara Membuatnya
Cara Menghitung Laba Kotor
Laba kotor adalah selisih antara total pendapatan perusahaan dengan harga pokok penjualan (HPP). Komponen ini menunjukkan keuntungan awal dari aktivitas bisnis utama sebelum dikurangi biaya operasional lainnya.
Memahami laba kotor membantu perusahaan menilai efisiensi produksi atau proses penjualan serta menentukan strategi harga yang tepat.
Rumus Laba Kotor:
Laba Kotor = Pendapatan – Harga Pokok Penjualan (HPP)
Contoh Perhitungan Laba Kotor:
Bayangkan Anda memiliki sebuah toko boneka kecil. Dalam satu bulan, toko tersebut mendapatkan pendapatan dari penjualan produk sebesar Rp100.000.000. Biaya untuk membeli barang dagangan (HPP) adalah Rp60.000.000.
Maka, perhitungannya:
- Laba Kotor = Rp100.000.000 – Rp60.000.000 = Rp40.000.000
Dengan begitu, toko boneka Anda memperoleh laba kotor Rp40.000.000. Nilai ini menunjukkan keuntungan awal dari penjualan sebelum memperhitungkan biaya operasional seperti gaji karyawan, sewa, dan listrik.
Laba kotor ini menjadi dasar untuk menghitung laba operasional dan laba bersih perusahaan.
Cara Menghitung Laba Operasional
Laba operasional atau Operating Profit adalah keuntungan yang diperoleh perusahaan setelah mengurangi semua biaya operasional dari laba kotor. Nilai ini penting karena menunjukkan profitabilitas dari aktivitas bisnis inti sebelum mempertimbangkan biaya bunga dan pajak.
Dengan memahami cara menghitung laba operasional, manajemen dapat menilai efisiensi biaya operasional, sehingga strategi pengelolaan biaya bisa lebih tepat sasaran.
Rumus Laba Operasional:
Laba Operasional = Laba Kotor – Biaya Operasional
Contoh Perhitungan Laba Operasional:
- Laba Operasional = Rp80.000.000 – Rp30.000.000 = Rp50.000.000
Dengan demikian, perusahaan konsultan tersebut memiliki laba operasional Rp50.000.000, yang mencerminkan keuntungan dari kegiatan operasional inti.
Nilai ini menjadi dasar untuk menghitung laba bersih setelah dikurangi biaya bunga dan pajak, serta membantu manajemen dalam merencanakan efisiensi biaya di bulan-bulan berikutnya.
Baca Juga: Neraca Keuangan: Pengertian, Jenis, Komponen & Contohnya!
Hindari Kesalahan Hitung Gaji yang Merusak Margin Laba Perusahaan!
Gaji karyawan merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam operasional perusahaan. Kesalahan dalam perhitungan gaji, tunjangan, lembur, pajak, atau iuran BPJS tidak hanya berdampak pada karyawan, tetapi juga bisa mengurangi margin laba perusahaan.
Untuk mengurangi risiko tersebut, software payroll dari KantorKu HRIS hadir sebagai solusi otomatisasi yang membantu perusahaan menghitung dan mengelola gaji dengan tepat, efisien, dan sesuai regulasi terbaru.

Beberapa fitur utama yang mendukung efisiensi dan kontrol biaya:
- Hitung gaji otomatis: Termasuk gaji pokok, tunjangan, lembur, cuti, pajak, dan BPJS.
- Perhitungan sesuai regulasi terbaru: Memastikan hak karyawan dan kewajiban perusahaan terpenuhi secara akurat.
- Integrasi absensi dan payroll: Data kehadiran otomatis memengaruhi perhitungan gaji tanpa input manual.
- Slip gaji digital: Karyawan dapat memeriksa detail pendapatan kapan saja.
- Transfer gaji sekali klik: Pembayaran ke berbagai bank dilakukan tanpa proses manual satu per satu.
Dengan aplikasi penghitung gaji karyawan dari KantorKu HRIS, perusahaan dapat menjaga margin laba tetap optimal, menghemat waktu, dan meminimalkan risiko kesalahan.
Semua data tersimpan secara digital dan terintegrasi, mempermudah pengelolaan gaji sekaligus operasional HR secara keseluruhan.
Tertarik meningkatkan efisiensi penggajian dan menjaga kesehatan keuangan perusahaan? Segera book demo gratis KantorKu HRIS dan konsultasikan kebutuhan HRIS perusahaan Anda dengan tim ahli kami!
Dengan KantorKu HRIS, Anda dapat mengelola absensi, payroll, dan data karyawan dalam satu sistem agar operasional HR lebih efisien dan terorganisir.
Referensi
Profit and Loss Statement: Meaning, Importance, Types, and Examples
Related Articles
Jam Kerja Puasa 2026: Aturan, Pelaksanaan & Hak Karyawan
Laba Adalah: Pengertian, Jenis, Rumus, & Cara Menghitungnya