Apa itu Merger? Ini Jenis, Contoh & Bedanya dengan Akuisisi
Merger adalah proses penggabungan dua perusahaan atau lebih menjadi satu entitas bisnis. Pahami jenis, tujuan, contoh & bedanya dengan akuisisi.
Table of Contents
- Apa Itu Merger?
- Tujuan Merger Perusahaan
- Jenis-jenis Merger dalam Dunia Bisnis
- Contoh Merger di Indonesia
- Tahapan Merger Perusahaan
- Perbedaan Merger dan Akuisisi
- Dampak Merger terhadap Karyawan dan Manajemen HR
- Tantangan HR dalam Proses Merger
- Peran HRIS dalam Mengelola SDM Saat Merger
- Tidak Lagi Pusing Rekap Ulang! Integrasikan Seluruh Data Karyawan Pasca-Merger dalam Satu Klik
Table of Contents
- Apa Itu Merger?
- Tujuan Merger Perusahaan
- Jenis-jenis Merger dalam Dunia Bisnis
- Contoh Merger di Indonesia
- Tahapan Merger Perusahaan
- Perbedaan Merger dan Akuisisi
- Dampak Merger terhadap Karyawan dan Manajemen HR
- Tantangan HR dalam Proses Merger
- Peran HRIS dalam Mengelola SDM Saat Merger
- Tidak Lagi Pusing Rekap Ulang! Integrasikan Seluruh Data Karyawan Pasca-Merger dalam Satu Klik
Perusahaan sering melakukan berbagai strategi untuk memperkuat posisi di pasar, salah satunya melalui merger.
Pengertian merger adalah proses penggabungan dua perusahaan atau lebih menjadi satu entitas bisnis baru yang memiliki struktur kepemilikan dan operasional yang terintegrasi.
Di Indonesia sendiri, praktik merger sudah cukup sering terjadi. Contohnya yaitu merger Bank BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri, dan Bank BNI Syariah yang kemudian membentuk Bank Syariah Indonesia (BSI) pada tahun 2021.
Jika perusahaan Anda berencana melakukan merger, mari pahami dulu tujuan, jenis, hingga tahapannya terlebih dahulu!
Apa Itu Merger?

Perusahaan merger adalah proses penggabungan dua perusahaan atau lebih menjadi satu entitas bisnis baru.
Dalam proses ini, perusahaan yang bergabung biasanya memiliki skala bisnis dan kekuatan pasar yang seimbang sehingga sering disebut sebagai merger of equals.
Tujuan merger adalah menggabungkan kekuatan dua perusahaan agar menghasilkan nilai bisnis yang lebih besar dibandingkan ketika mereka beroperasi secara terpisah.
Dengan penggabungan sumber daya kedua perusahaan ini, perusahaan dapat memperluas jangkauan bisnis.
Biasanya merger menjadi bagian dari strategi Mergers and Acquisitions (M&A) yang bertujuan mempercepat pertumbuhan bisnis.
Hindari risiko data ganda atau tercecer dengan memusatkan seluruh informasi karyawan ke dalam satu sistem di KantorKu HRIS.
Tujuan Merger Perusahaan
Penggabungan dua bisnis biasanya bertujuan memperluas pasar dan memperkuat posisi kompetitif di industri.
Terdapat beberapa tujuan perusahaan melakukan merger, di antaranya:
1. Meningkatkan Efisiensi Operasional
Ketika dua perusahaan bergabung, mereka dapat menggabungkan sumber daya seperti fasilitas produksi, teknologi, hingga tenaga kerja.
Hasilnya, perusahaan bisa mengurangi biaya operasional yang sebelumnya dikeluarkan secara terpisah.
2. Memperluas Pangsa Pasar
Dengan bergabungnya dua perusahaan yang memiliki pelanggan berbeda, perusahaan baru dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
Strategi ini juga memungkinkan perusahaan memperkuat posisi mereka di industri. Perusahaan pun dapat meningkatkan volume penjualan karena memiliki basis pelanggan yang lebih besar.
3. Mengurangi Persaingan
Dalam beberapa industri, perusahaan melakukan merger untuk mengurangi persaingan langsung di pasar.
Ketika dua perusahaan pesaing bergabung, kompetisi antara keduanya otomatis hilang karena mereka kini berada dalam satu entitas bisnis yang sama.
4. Memperkuat Rantai Pasok
Dengan strategi ini, perusahaan dapat mengurangi biaya distribusi dan memastikan ketersediaan bahan baku.
Misalnya saat perusahaan produsen bahan baku bangunan bergabung dengan perusahaan konstruksi.
Jika ingin melakukan merger perusahaan konstruksi, Anda bisa gunakan HRIS untuk industri konstruksi.
Dengan HRIS, pemantauan tim lapangan bisa melalui satu dashboard digital tanpa perlu repot micromanage ke lapangan.
5. Mempercepat Pertumbuhan Bisnis
Melalui merger, perusahaan dapat tumbuh lebih cepat dibandingkan jika hanya mengandalkan pertumbuhan organik.
Penggabungan dua bisnis memungkinkan perusahaan langsung memperoleh aset, teknologi, pelanggan, dan sumber daya baru.
6. Diversifikasi Produk atau Layanan
Merger juga sering digunakan sebagai strategi untuk memperluas portofolio produk atau layanan perusahaan.
Dengan bergabungnya dua bisnis yang memiliki lini produk berbeda, perusahaan dapat menawarkan lebih banyak pilihan kepada pelanggan.
7. Meningkatkan Nilai bagi Pemegang Saham
Ketika dua perusahaan bergabung, mereka dapat menciptakan sinergi bisnis yang menghasilkan keuntungan lebih besar.
Jika merger berjalan dengan baik, nilai saham perusahaan baru biasanya akan meningkat sehingga memberikan keuntungan bagi investor.
Jenis-jenis Merger dalam Dunia Bisnis
Penggabungan perusahaan dapat terjadi dengan berbagai pola tergantung tujuan yang ingin dicapai. Mari pahami beberapa jenis merger yang umum terjadi dalam dunia bisnis:
1. Merger Horizontal
Merger horizontal adalah penggabungan dua perusahaan yang berada dalam industri yang sama dan memiliki produk atau layanan serupa, seperti kompetitor langsung.
Dengan bergabungnya dua perusahaan yang sebelumnya bersaing, perusahaan baru dapat memiliki basis pelanggan yang lebih besar dan kekuatan pasar yang lebih kuat.
2. Merger Vertikal
Merger vertikal adalah penggabungan perusahaan yang berada pada tahapan berbeda dalam rantai produksi atau distribusi suatu produk.
Contohnya adalah perusahaan manufaktur yang bergabung dengan pemasok bahan baku atau perusahaan distribusi.
Tujuannya agar perusahaan dapat mengurangi biaya distribusi, meningkatkan koordinasi produksi, dan memastikan ketersediaan bahan baku.
3. Merger Konglomerat
Merger konglomerat adalah penggabungan dua perusahaan yang bergerak di bidang industri yang berbeda dan tidak memiliki hubungan langsung dalam operasional bisnisnya.
Tujuannya untuk diversifikasi bisnis. Dengan memiliki berbagai lini usaha berbeda, perusahaan dapat mengurangi risiko bisnis karena tidak bergantung pada satu sektor industri saja.
4. Merger Ekstensi Pasar
Merger ekstensi pasar terjadi ketika dua perusahaan yang memiliki produk serupa bergabung, tetapi beroperasi di wilayah pasar yang berbeda.
Melalui merger ini, perusahaan dapat memperluas jangkauan geografis dan menjangkau pelanggan baru.
5. Merger Ekstensi Produk
Merger ekstensi produk terjadi ketika dua perusahaan yang memiliki produk berbeda tetapi masih berada dalam kategori industri yang sama memutuskan untuk bergabung.
Dengan variasi produk yang lebih banyak, perusahaan dapat meningkatkan nilai tambah bagi konsumen serta memperluas peluang penjualan.
Baca Juga: Apa Itu Mutasi Kerja? Cek Syarat, & 3 Cara Mengajukannya
Contoh Merger di Indonesia

Banyak perusahaan di Indonesia yang pernah melakukan merger sebagai bagian dari strategi pengembangan bisnis.
Mari lihat beberapa contoh merger di Indonesia yang pernah terjadi dan hasilnya:
1. Bank Syariah Indonesia
Ini adalah salah satu merger terbesar di Indonesia. Pada tahun 2021, Bank BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri, dan Bank BNI Syariah bergabung menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI).
Tujuannya untuk memperkuat industri perbankan syariah nasional agar mampu bersaing di tingkat global.
Setelah merger dilakukan, Bank Syariah Indonesia menjadi salah satu bank syariah terbesar di dunia berdasarkan total aset.
2. Gojek dan Tokopedia
Pada tahun 2021, perusahaan teknologi Gojek dan Tokopedia melakukan merger dan membentuk perusahaan baru bernama GoTo Group.
Merger ini bertujuan menciptakan ekosistem digital yang terintegrasi, mulai dari layanan transportasi online, pembayaran digital, hingga e-commerce.
Hasilnya, kedua perusahaan memperkuat posisi GoTo sebagai salah satu perusahaan teknologi terbesar di Asia Tenggara.
3. XL Axiata dan Axis
Perusahaan telekomunikasi XL Axiata melakukan merger dengan Axis Telekom Indonesia pada tahun 2014.
Penggabungan ini dilakukan untuk memperkuat jaringan telekomunikasi serta meningkatkan kualitas layanan kepada pelanggan.
Melalui merger ini, XL Axiata dapat memperluas jangkauan jaringan dan meningkatkan kapasitas layanan data.
4. Indosat dan Hutchison 3 Indonesia
Indosat Ooredoo juga resmi bergabung dengan Hutchison 3 Indonesia (Tri) pada tahun 2022, dan membentuk perusahaan baru bernama Indosat Ooredoo Hutchison.
Dengan penggabungan tersebut, perusahaan memiliki basis pelanggan yang lebih besar dan jaringan yang lebih luas.
5. Pelindo (Penggabungan 4 BUMN Pelabuhan)
Pemerintah Indonesia melakukan merger terhadap empat perusahaan pelabuhan milik negara, yaitu Pelindo I, Pelindo II, Pelindo III, dan Pelindo IV pada tahun 2021.
Penggabungan ini dilakukan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan pelabuhan nasional. Selain itu, merger juga bertujuan memperkuat sistem logistik agar lebih terintegrasi dan kompetitif.
6. Bank CIMB Niaga
Bank CIMB Niaga merupakan hasil merger antara Bank Niaga dan Bank Lippo pada tahun 2008. Merger ini dilakukan sebagai bagian dari konsolidasi industri perbankan di Indonesia.
Setelah penggabungan tersebut, CIMB Niaga menjadi salah satu bank swasta terbesar di Indonesia dengan jaringan layanan yang lebih luas.
7. OVO dan DANA (Integrasi Ekosistem Digital)
Beberapa laporan industri menyebut adanya integrasi dan kolaborasi strategis antara platform pembayaran digital seperti OVO dan DANA dalam pengembangan ekosistem layanan digital.
Kolaborasi ini bertujuan memperkuat sistem pembayaran digital dan meningkatkan kemudahan transaksi bagi pengguna.
Jika Anda ingin melakukan merger tetapi khawatir dengan data yang tercecer, bisa gunakan HRIS untuk industri manufaktur, sehingga penggabungan data karyawan tetap aman, meski jumlahnya ribuan.
Tahapan Merger Perusahaan
Setelah memahami pengertian merger dan contohnya, pastikan memahami juga berbagai tahapannya yang meliputi analisis bisnis, negosiasi, hingga integrasi operasional setelah penggabungan selesai.
Secara umum, tahapan dalam proses merger perusahaan mencakup:
1. Analisis dan Perencanaan
Perusahaan perlu menganalisis perusahaan yang akan digabungkan, mulai dari aspek keuangan, potensi pasar, hingga risiko yang mungkin muncul.
2. Due Diligence
Due diligence merupakan proses pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi perusahaan yang akan digabungkan.
Pemeriksaan ini mencakup aspek keuangan, hukum, operasional, hingga sumber daya manusia.
Tujuannya memastikan bahwa semua informasi terkait perusahaan telah diverifikasi dengan akurat sebelum merger dilakukan.
3. Negosiasi dan Persetujuan
Setelah proses analisis selesai, kedua perusahaan akan menegosiasi berbagai aspek merger, seperti:
- Struktur kepemilikan
- Pembagian saham
- Struktur organisasi perusahaan baru
Setelah kesepakatan tercapai, merger biasanya harus mendapatkan persetujuan dari pemegang saham dan otoritas yang berwenang.
4. Integrasi Operasional
Tahap terakhir adalah mengintegrasikan seluruh sistem bisnis setelah merger resmi dilakukan. Proses ini mencakup penggabungan sistem operasional, manajemen karyawan, hingga strategi bisnis perusahaan baru.
Integrasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa merger menghasilkan sinergi dan meningkatkan kinerja perusahaan.
Hindari risiko data ganda atau tercecer dengan memusatkan seluruh informasi karyawan ke dalam satu sistem di KantorKu HRIS.
Perbedaan Merger dan Akuisisi

Apa itu merger dan akuisisi? Merger dan akuisisi sering disamakan, padahal memiliki konsep yang berbeda dalam dunia bisnis.
Perbedaannya terdapat pada berbagai dari aspek, mulai dari struktur perusahaan, kepemilikan, hingga proses pengambilalihan bisnis.
Simak perbedaan merger dan akuisisi sebagai berikut:
1. Pengertian
Merger adalah proses penggabungan dua perusahaan atau lebih menjadi satu entitas bisnis baru.
Adapun akuisisi adalah proses pengambilalihan kepemilikan suatu perusahaan oleh perusahaan lain.
2. Status Perusahaan
Pada merger, dua perusahaan yang bergabung biasanya melebur menjadi satu entitas baru. Jadi, kedua perusahaan sebelumnya tidak lagi berdiri sebagai perusahaan yang terpisah.
Dalam akuisisi, perusahaan yang diambil alih umumnya masih tetap ada sebagai badan hukum tersendiri. Namun, kendali bisnis berada pada perusahaan yang melakukan akuisisi.
3. Kepemilikan Saham
Dalam merger, kepemilikan saham dibagi antara pemegang saham dari kedua perusahaan. Struktur kepemilikan baru akan ditentukan berdasarkan kesepakatan antara kedua pihak.
Namun dalam akuisisi, perusahaan pengakuisisi biasanya membeli sebagian besar atau seluruh saham perusahaan target.
4. Tujuan Bisnis
Merger dilakukan untuk menciptakan sinergi antara dua perusahaan yang memiliki kekuatan bisnis yang seimbang. Tujuannya untuk memperkuat daya saing perusahaan.
Di sisi lain, akuisisi biasanya dilakukan untuk memperluas bisnis dengan cara mengambil alih perusahaan lain yang sudah memiliki pangsa pasar tertentu.
5. Proses Penggabungan
Proses merger biasanya melibatkan kesepakatan bersama antara kedua perusahaan yang ingin bergabung. Oleh karena itu, merger sering dianggap lebih kolaboratif.
Akuisisi dapat terjadi melalui pembelian saham mayoritas oleh satu perusahaan terhadap perusahaan lain. Dalam beberapa kasus, akuisisi bahkan dapat terjadi tanpa persetujuan penuh dari manajemen perusahaan target.
Lihat tabel berikut untuk perbandingan perbedaan merger dan acquisition adalah:
Dampak Merger terhadap Karyawan dan Manajemen HR
Merger bisa berdampak pada struktur bisnis dan karyawan di dalamnya. Inilah pentingnya memahami dampaknya agar bisa merancang strategi yang tepat. Mari simak dampaknya:
Dampak bagi Karyawan
Bagi karyawan, merger dapat membawa perubahan dalam lingkungan kerja maupun perkembangan karier mereka. Jika diuraikan, berikut rinciannya:
- Perubahan Struktur Organisasi: Restrukturisasi organisasi akibat merger dapat menyebabkan perubahan posisi, pelaporan kerja, atau penggabungan beberapa divisi.
- Ketidakpastian Karier: Karyawan merasa tidak yakin dengan masa depan karier mereka di perusahaan baru karena adanya evaluasi terhadap kebutuhan SDM.
- Potensi Pengurangan Karyawan Merger dilakukan untuk tingkatkan efisiensi operasional. Dampaknya, perusahaan bisa mengurangi posisi yang tumpang tindih.
- Perubahan Budaya Kerja: Ketika dua perusahaan bergabung, karyawan perlu beradaptasi dengan budaya kerja baru yang terbentuk.
- Peluang Pengembangan Karier: Merger dapat membuka jenjang karier baru, karena perusahaan yang lebih besar biasanya memiliki lebih banyak divisi.
- Perubahan Kebijakan HR: Setelah merger, perusahaan biasanya menyesuaikan berbagai kebijakan HR seperti sistem penilaian kinerja, benefit, atau kebijakan cuti.
- Penyesuaian Lingkungan Kerja: Karyawan perlu membangun kembali hubungan kerja dengan rekan dari perusahaan yang berbeda.
Baca Juga: Apa Itu Layoff? Arti, Dampak, & Perbedaannya dengan PHK
Dampak bagi Perusahaan
Selain memengaruhi karyawan, merger juga memberikan dampak bagi perusahaan, baik dampak keuntungan bisnis maupun tantangan. Simak penjelasannya:
- Peningkatan Pangsa Pasar: Perusahaan dapat menggabungkan basis pelanggan dari kedua organisasi, sehingga pangsa pasarnya lebih besar.
- Efisiensi Biaya Operasional: Penggabungan perusahaan memungkinkan penghematan biaya produksi dan operasional karena sumber daya saling terintegrasi.
- Pengurangan Duplikasi Fungsi Bisnis: Merger membantu perusahaan menghindari aktivitas bisnis yang sama dari dua organisasi dan meningkatkan efisiensi operasional.
- Ekspansi ke Wilayah Baru: Merger dapat lebih mudah memperluas bisnis ke wilayah geografis baru dan memanfaatkan jaringan yang sudah ada.
- Penyelamatan Bisnis yang Kurang Menguntungkan: Dalam beberapa kasus, merger dilakukan untuk menyelamatkan perusahaan yang mengalami kesulitan finansial.
- Tantangan Komunikasi Internal: Perbedaan budaya organisasi bisa menimbulkan kesenjangan antar tim. Dampaknya bisa memengaruhi kinerja dan kolaborasi karyawan.
- Potensi Dominasi Pasar: Merger dapat membuat perusahaan memiliki posisi yang lebih dominan di satu industri. Dampaknya bisa memengaruhi harga di pasar.
Tantangan HR dalam Proses Merger
Meskipun merger memberikan peluang pertumbuhan, proses ini juga berpotensi menyebabkan berbagai tantangan bagi tim HR.
Kenali beberapa tantangan yang sering dihadapi saat proses merger dan cara mengatasinya:
1. Kebingungan Sistem Kerja
Merger berarti mengintegrasikan sistem kerja kedua perusahaan. Jika tidak dilakukan dengan baik, ini dapat menimbulkan kebingungan yang berujung pada penurunan produktivitas.
Cara Mengatasi:
Buat rencana integrasi yang jelas, termasuk timeline, prioritas sistem yang akan digabungkan, serta pembagian tanggung jawab antar tim.
2. Perbedaan Budaya Perusahaan
Perbedaan budaya organisasi sering menjadi penyebab kegagalan merger. Perusahaan yang bergabung mungkin memiliki cara kerja yang berbeda dari perusahaan satunya.
Cara Mengatasi:
Bangun program integrasi budaya seperti workshop, sesi kolaborasi lintas tim, atau kegiatan internal untuk memperkuat hubungan antar karyawan.
3. Tekanan Finansial Perusahaan
Proses merger membutuhkan biaya besar, karena melibatkan restrukturisasi organisasi. Jika tidak dikelola dengan baik, biaya ini dapat membebani kondisi keuangan perusahaan.
Cara Mengatasi:
HR bersama manajemen perlu membuat perencanaan anggaran dan mempertimbangkan biaya integrasi sejak tahap awal proses merger.
4. Risiko Kepatuhan Hukum
Perusahaan yang melakukan merger harus memastikan prosesnya sesuai hukum yang berlaku. Kesalahan selama proses merger dapat menimbulkan masalah hukum.
Cara Mengatasi:
HR perlu bekerja sama dengan tim legal untuk melakukan due diligence secara menyeluruh dan memastikan semua kebijakan HR sesuai dengan regulasi yang berlaku.
5. Risiko Kehilangan Talenta
Ketidakpastian selama merger dapat membuat karyawan berprestasi memilih meninggalkan perusahaan. Jika banyak talenta penting keluar, kinerja organisasi dapat terganggu.
Cara Mengatasi:
HR dapat menerapkan strategi retensi seperti program insentif, peluang pengembangan karier, atau komunikasi transparan mengenai masa depan perusahaan.
6. Penurunan Motivasi dan Keterlibatan Karyawan
Perubahan besar dalam organisasi dapat membuat karyawan merasa kehilangan motivasi. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat menurunkan produktivitas kerja.
Cara Mengatasi:
HR perlu menjaga komunikasi yang terbuka dengan karyawan dan melibatkan mereka dalam proses perubahan agar merasa dihargai dan tetap termotivasi.
Peran HRIS dalam Mengelola SDM Saat Merger
Dalam proses merger, pengelolaan sumber daya manusia menjadi lebih rumit karena melibatkan penggabungan data dua organisasi.
Di sinilah sebaiknya Anda menggunakan HRIS untuk membantu mengelola seluruh data karyawan. Terdapat beberapa peran HRIS saat merger terjadi, yaitu:
1. Mengintegrasikan Data Karyawan dari Dua Perusahaan
HRIS dengan fitur aplikasi database karyawan dapat membantu menggabungkan data karyawan dari dua organisasi menjadi satu sistem terpusat.
HR pun dapat menghindari duplikasi data atau kesalahan administrasi. Pastikan memilih yang sesuai bidang bisnis Anda, misalnya HRIS untuk industri logistik.
2. Mendukung Proses Due Diligence HR
HRIS memudahkan HR dalam menganalisis data tenaga kerja seperti struktur organisasi hingga riwayat kerja karyawan. Informasi ini berguna untuk mengambil keputusan strategis selama proses merger.
3. Mempermudah Komunikasi dengan Karyawan
HRIS menyediakan fitur pengumuman yang dapat digunakan sebagai platform komunikasi untuk menyampaikan informasi penting terkait perubahan organisasi. Fitur ini membantu mengurangi ketidakpastian dan meningkatkan keterlibatan karyawan.
4. Mengelola Perubahan Struktur Organisasi
Setelah merger, biasanya terjadi perubahan struktur organisasi dan pelaporan kerja. HRIS membantu HR memperbarui struktur organisasi tanpa membuat secara manual.
5. Mengintegrasikan Sistem Payroll
HRIS menyediakan dashboard fleksibel yang bisa Anda sesuaikan dengan sistem penggajian kedua perusahaan. Dengan begitu, proses payroll bisa berlangsung seragam untuk semua karyawan.
6. Mendukung Proses Onboarding
Dalam beberapa kasus, merger juga diikuti dengan perekrutan atau relokasi karyawan. HRIS dapat membantu HR mengelola proses onboarding secara mandiri online tanpa menyediakan formulir cetak.
7. Memantau Kinerja dan Produktivitas Karyawan
Peran HRIS berikutnya yaitu menyediakan data yang membantu HR memantau kinerja karyawan selama masa transisi organisasi. Data ini berguna untuk memastikan produktivitas tetap terjaga setelah proses merger.
Tidak Lagi Pusing Rekap Ulang! Integrasikan Seluruh Data Karyawan Pasca-Merger dalam Satu Klik
Ketika dua perusahaan melakukan merger, tantangan terbesar yang dihadapi HR adalah penggabungan data karyawan.
Jika masih manual, data karyawan bisa tercecer. Untuk itu, Anda bisa menggunakan aplikasi database karyawan dari KantorKu HRIS.

Mari simak beberapa fitur yang dapat membantu proses integrasi pasca-merger:
- Manajemen Data Karyawan Terpusat: Semua data karyawan dari berbagai departemen dapat disimpan dalam satu sistem yang terpusat.
- Aplikasi Employee Self Service: Karyawan dapat mengisi atau memperbarui data pribadi mereka secara mandiri melalui aplikasi.
- Database Fleksibel: HR dapat menambahkan atau menyesuaikan field data sesuai kebutuhan perusahaan, seperti jabatan, lokasi kerja, atau status kontrak.
- Integrasi dengan Sistem Payroll: Data karyawan langsung terhubung dengan sistem payroll sehingga proses penggajian menjadi lebih cepat dan akurat.
- Integrasi Aplikasi Absensi Online: Sistem database karyawan terhubung dengan sistem absensi, data kehadiran terekam dengan verifikasi GPS dan selfie.
Saatnya beralih menggunakan aplikasi database karyawan gratis ini. Yuk, book demo gratis sekarang untuk mulai digitalisasi data karyawan dari dua perusahaan agar lebih terpusat!
Hindari risiko data ganda atau tercecer dengan memusatkan seluruh informasi karyawan ke dalam satu sistem di KantorKu HRIS.
Referensi:
13 Risks of Mergers and Acquisitions + How to Combat Them | Hellopebl
What is a Company Merger? | RSM Poland
The 7 Types of Mergers and Acquisitions (+Examples) | Dealroom
Related Articles
Industri Manufaktur Adalah: Jenis, Ciri-ciri & Contoh Perusahaannya
Cara Handover Pekerjaan yang Benar, Ini Prosedur & Contoh Dokumen