Cara Menghitung Turnover Karyawan, Ini Rumus & Contoh Analisisnya
Simak cara menghitung turnover karyawan dengan rumus sederhana. Ketahui juga penyebab, dampak bagi bisnis, dan strategi untuk mengurangi turnover.
Table of Contents
- Apa itu Turnover Karyawan?
- Data yang Dibutuhkan Sebelum Menghitung Turnover Karyawan
- Rumus Dasar Menghitung Turnover Karyawan
- Contoh Cara Menghitung Turnover Karyawan
- Apa yang Dianalisa dari Angka Turnover Karyawan?
- Faktor Penyebab Turnover Karyawan yang Tinggi
- Dampak Turnover Karyawan yang Tinggi
- Cara Mengurangi Turnover Karyawan
Table of Contents
- Apa itu Turnover Karyawan?
- Data yang Dibutuhkan Sebelum Menghitung Turnover Karyawan
- Rumus Dasar Menghitung Turnover Karyawan
- Contoh Cara Menghitung Turnover Karyawan
- Apa yang Dianalisa dari Angka Turnover Karyawan?
- Faktor Penyebab Turnover Karyawan yang Tinggi
- Dampak Turnover Karyawan yang Tinggi
- Cara Mengurangi Turnover Karyawan
Turnover karyawan yang tinggi dapat menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan bisnis Anda jika tidak segera ditangani.
Menurut studi dari Work Institute, biaya untuk mengganti satu orang karyawan bisa mencapai 33% dari gaji tahunan mereka yang mencakup biaya rekrutmen, pelatihan, hingga hilangnya produktivitas.
Anda tidak bisa hanya mengandalkan insting atau sekadar menghitung jumlah orang yang resign setiap bulannya untuk memahami kondisi riil di lapangan.
Diperlukan perhitungan dengan rumus khusus supaya Anda memiliki data yang valid sebagai panduan dalam mengambil langkah strategis.
Untuk itu, mari pahami lebih lanjut bagaimana cara menghitung turnover karyawan serta berapa angka yang tergolong baik atau buruk bagi kesehatan organisasi Anda!
Apa itu Turnover Karyawan?

Turnover karyawan atau staff turnover rate adalah metrik yang menunjukkan persentase karyawan yang meninggalkan perusahaan dalam periode waktu tertentu, baik secara sukarela (resign) maupun tidak sukarela (PHK).
Angka ini berfungsi sebagai indikator kesehatan budaya kerja, tingkat kepuasan karyawan, dan efektivitas kepemimpinan di dalam perusahaan.
Idealnya, Anda perlu memantau angka ini secara berkala, baik bulanan, kuartal, maupun tahunan, untuk melihat tren yang terjadi.
Dengan memahami turnover, Anda bisa mengidentifikasi apakah ada masalah pada proses onboarding, skema kompensasi, atau mungkin keterbatasan jenjang karier yang membuat talenta terbaik Anda memilih pergi.
KantorKu HRIS memiliki 9-box-matrix yang terintegrasi OKR/KPI untuk pemetaan performa vs potensi secara lebih mudah.
Data yang Dibutuhkan Sebelum Menghitung Turnover Karyawan
Sebelum Anda memasukkan angka ke dalam rumus, ada beberapa data yang harus dikumpulkan agar hasilnya akurat.
Berikut adalah data yang Anda butuhkan:
1. Jumlah Karyawan Aktif di Awal Periode
Tentukan jumlah total karyawan yang bekerja pada hari pertama dari periode waktu yang Anda pilih (misalnya tanggal 1 Januari untuk hitungan tahunan).
Contoh:
Jika Anda ingin menghitung turnover tahunan untuk tahun 2025, maka data yang diambil adalah jumlah karyawan pada tanggal 1 Januari 2025, misal sebanyak 100 orang.
2. Jumlah Karyawan Aktif di Akhir Periode
Hitung berapa banyak karyawan yang masih aktif bekerja pada hari terakhir di periode tersebut (misalnya tanggal 31 Januari).
Contoh:
Pada tanggal 31 Januari 2025, setelah adanya karyawan yang keluar dan masuk, jumlah karyawan yang tersisa adalah 110 orang.
3. Jumlah Karyawan yang Keluar
Catat total karyawan yang berhenti bekerja selama periode tersebut, baik karena mengundurkan diri, pensiun, maupun pemutusan hubungan kerja.
Contoh:
Selama periode Januari 2025, tercatat ada 10 karyawan yang meninggalkan perusahaan.
Rumus Dasar Menghitung Turnover Karyawan
Menghitung persentase turnover sebenarnya cukup sederhana karena Anda hanya perlu membagi jumlah karyawan yang keluar dengan rata-rata jumlah karyawan, lalu mengubahnya menjadi persentase.
Berikut rumus dasar menghitung turnover karyawan:
Rumus Turnover Karyawan: (Jumlah Karyawan Keluar/Rata-rata Jumlah Karyawan) x 100
Lantas, bagaimana cara mendapatkan angka-angka tersebut? Berikut panduannya:
- Jumlah Karyawan Keluar: Didapat dari laporan rekapitulasi data resign atau pemberhentian kerja selama periode tertentu.
- Rata-rata Jumlah Karyawan: Angka ini didapatkan dengan menjumlahkan Karyawan Awal Periode dan Karyawan Akhir Periode, kemudian hasilnya dibagi dua. Jadi rumusnya Awal + Akhir/2.
Contoh Cara Menghitung Turnover Karyawan
Agar Anda tidak bingung dalam mengaplikasikan rumus di atas, mari ikuti cara menghitung turnover karyawan melalui skenario berikut:
1. Hitung Rata-rata Jumlah Karyawan
Langkah pertama adalah mencari angka rata-rata tenaga kerja Anda selama periode tertentu untuk mendapatkan baseline yang adil.
Contoh:
Perusahaan Anda memiliki 100 karyawan di awal tahun dan 110 karyawan di akhir tahun setelah melakukan beberapa rekrutmen.
Rata-rata Karyawan = (100 + 110)/2 = 105
2. Masukkan ke Rumus Utama
Setelah mendapatkan angka rata-rata, bagi jumlah karyawan yang keluar dengan angka tersebut.
Contoh:
Jika selama setahun ada 10 karyawan yang keluar, maka perhitungannya:
Turnover Rate = 10/105 x 100 = 9,5%
Jika ingin menghitung otomatis, Anda bisa menggunakan kalkulator turnover karyawan gratis dari KantorKu HRIS.
Apa yang Dianalisa dari Angka Turnover Karyawan?
Setelah mendapatkan angka dari perhitungan sebelumnya, Anda kini memiliki data yang siap dibedah lebih dalam.
Angka turnover tidak akan memberikan solusi jika hanya dilihat sebagai angka mati. Oleh karena itu, Anda perlu melakukan analisis mendalam untuk bisa menarik kesimpulan.
Berikut beberapa aspek yang perlu dianalisa dari angka turnover karyawan Anda:
1. Profil Karyawan yang Sering Resign
Anda perlu menganalisis profil dari karyawan yang cenderung meninggalkan perusahaan. Apakah mereka berasal dari kelompok usia tertentu, departemen spesifik, memiliki tingkat pendidikan tertentu, atau memegang status jabatan tertentu?
Contoh:
Setelah mengecek data satu tahun terakhir, Anda menyadari bahwa 70% karyawan yang resign adalah mereka yang berusia 22–26 tahun (Gen Z) dari Departemen IT.
Dengan pola ini, Anda bisa menyimpulkan bahwa mungkin ada masalah pada skema jenjang karier atau ekspektasi kerja khusus untuk talenta muda di tim IT.
2. Alasan di Balik Keluarnya Karyawan
Anda harus menyelidiki alasan di balik keluarnya karyawan. Gunakan data dari exit interview untuk mendapat informasi yang mendalam.
Dari sini, Anda bisa mengetahui apakah penyebabnya adalah masalah kepemimpinan, kompensasi, atau budaya kerja yang tidak sehat.
Contoh:
Angka turnover Anda 15%. Namun, dari hasil exit interview, 8 dari 10 karyawan yang keluar menyebutkan alasan yang sama, “Merasa tidak memiliki otonomi karena gaya kepemimpinan manajer yang mikro-manajemen”.
Data ini memberitahu Anda bahwa masalahnya bukan pada gaji, melainkan pada kualitas kepemimpinan di level manajerial.
3. Hubungan Turnover dengan Siklus Hidup Karyawan
Analisislah kapan karyawan cenderung memilih pergi. Apakah terjadi di beberapa bulan pertama, tepat setelah satu tahun, atau saat sudah mencapai masa kerja rata-rata X tahun?
Contoh:
Data menunjukkan banyak karyawan keluar di bulan ke-4 bekerja sesaat setelah menyelesaikan masa probation. Analisis ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian dengan realitas pekerjaan sehari-hari.
4. Perbandingan Turnover Sukarela vs. Tidak Sukarela
Bedah angka Anda untuk melihat perbandingan antara karyawan yang keluar atas kemauan sendiri (voluntary) dan mereka yang diberhentikan (involuntary).
Contoh:
Perusahaan memiliki angka turnover 20%. Setelah dibedah, ternyata 18% adalah Involuntary Turnover atau PHK karena performa buruk.
Analisis ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak punya masalah retensi, melainkan masalah pada kualitas rekrutmen.
Baca Juga: Panduan PHK bagi HR: Jenis, Alasan yang Sah dan Prosedur sesuai UU
Faktor Penyebab Turnover Karyawan yang Tinggi

Tingginya angka turnover di sebuah perusahaan biasanya tidak terjadi karena akumulasi berbagai masalah.
Berikut adalah beberapa faktor yang menyebabkan karyawan memilih untuk meninggalkan posisi mereka:
1. Kurangnya Tujuan
Perusahaan yang tidak memiliki misi yang jelas sering kali memiliki tingkat turnover yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang mampu menghubungkan pekerjaan karyawan dengan dampak yang nyata terhadap karier mereka.
2. Kompensasi dan Benefit yang Tidak Kompetitif
Upah adalah alasan paling umum orang berpindah kerja. Jika gaji di perusahaan Anda di bawah rata-rata pasar, kompetitor akan mudah membajak talenta terbaik Anda dengan iming-iming kenaikan finansial yang lebih baik.
3. Beban Kerja Berlebihan (Overworked)
Jika karyawan rutin bekerja lebih dari 50 jam seminggu atau terus-menerus dihubungi saat akhir pekan, mereka akan segera mencari lingkungan yang lebih menghargai keseimbangan hidup.
4. Kepemimpinan yang Buruk
Ada istilah bahwa “karyawan tidak meninggalkan perusahaan, mereka meninggalkan manajer”. Manajer yang toksik, suka bermain pilih kasih, atau tidak kompeten dalam mengelola orang adalah penggerak turnover yang umum terjadi.
5. Minimnya Apresiasi dan Feedback
Karyawan yang tidak pernah mendapatkan pengakuan atas prestasi mereka akan merasa tidak terlihat. Tanpa umpan balik yang membangun, mereka mudah kehilangan arah dan motivasi untuk memberikan performa terbaik.
6. Ketiadaan Peluang Pertumbuhan Karier
Jika karyawan merasa posisi mereka stagnan dan tidak ada masa depan untuk naik jabatan atau belajar skill baru, mereka akan mulai melirik peluang di tempat lain yang menawarkan pengembangan diri.
7. Budaya Kerja yang Membosankan
Pekerjaan yang repetitif tanpa tantangan baru membuat karyawan kehilangan antusiasme. Hal ini bisa karena kurangnya proyek yang mendorong kreativitas, membuat karyawan berbakat merasa bakat mereka tersia-siakan.
KantorKu HRIS memiliki 9-box-matrix yang terintegrasi OKR/KPI untuk pemetaan performa vs potensi secara lebih mudah.
Dampak Turnover Karyawan yang Tinggi
Jangan menyepelekan angka turnover yang terus merangkak naik, karena dampaknya bisa melumpuhkan perusahaan secara perlahan.
Ketahui dampak turnover karyawan yang tinggi bagi perusahaan:
1. Penurunan Pendapatan
Kehilangan karyawan berbakat, terutama di bagian penjualan atau layanan pelanggan, bisa membuat klien lama berpindah ke kompetitor. Akibatnya, Anda harus mencari pengganti dan mengeluarkan biaya rekrutmen yang turut menguras margin keuntungan.
2. Penurunan Produktivitas
Saat seorang karyawan berpengalaman keluar, beban kerjanya akan dialihkan ke staf yang tersisa.
Hal ini menciptakan stres tambahan bagi tim yang sering kali berujung pada menurunnya kualitas kerja.
3. Kesulitan dalam Rekrutmen
Perusahaan dengan turnover tinggi akan mendapatkan reputasi buruk. Kandidat berkualitas tinggi biasanya akan riset terlebih dahulu dan ragu untuk melamar jika melihat banyak orang keluar dalam waktu singkat.
4. Moral Karyawan Menurun
Kehilangan rekan kerja dekat bisa menurunkan semangat kerja mereka yang ditinggalkan. Hal ini menciptakan siklus negatif di mana karyawan yang tersisa mulai mempertanyakan apakah mereka juga harus mengundurkan diri.
5. Hilangnya Pengetahuan Institusi
Saat karyawan senior keluar, mereka membawa pergi pengetahuan berharga tentang sistem, klien, dan cara kerja internal. Butuh waktu bulanan bagi karyawan baru untuk mencapai level pemahaman yang sama yang tentu saja menghambat akselerasi bisnis.
Cara Mengurangi Turnover Karyawan
Jika hasil perhitungan menunjukkan angka turnover di kantor Anda cukup tinggi, terdapat beberapa strategi yang bisa Anda terapkan untuk meningkatkan retensi, yaitu:
1. Temukan Talenta yang Tepat
Pastikan proses rekrutmen tidak hanya fokus pada skill teknis, tetapi juga kesesuaian nilai personal dengan budaya perusahaan.
Gunakan pertanyaan wawancara perilaku untuk memahami karakter asli kandidat atau culture fit test untuk memastikan kecocokan dengan budaya perusahaan .
2. Berikan Pengalaman Onboarding yang Memuaskan
Retensi dimulai sejak hari pertama karyawan bergabung. Berikan pemahaman yang jelas mengenai misi perusahaan dan bagaimana peran mereka memberikan nilai tambah agar karyawan merasa memiliki tujuan sejak awal.
3. Berikan Apresiasi dan Reward
Karyawan yang merasa dihargai cenderung lebih produktif dan loyal. Oleh karena itu, jangan ragu memberikan ucapan selamat atau penghargaan kecil saat karyawan berhasil mencapai target melampaui ekspektasi.
4. Bangun Jenjang Karier yang Jelas
Jangan sampai karyawan merasa posisi mereka stagnan. Lakukan pertemuan rutin untuk membahas tujuan karier mereka dan tunjukkan bagaimana perusahaan dapat membantu mereka mencapai target tersebut.
5. Jaga Work-Life Balance
Beberapa cara untuk menjaga work-life balance yaitu menawarkan sistem kerja fleksibel (seperti hybrid) atau tunjangan yang mendukung kesehatan mental dan fisik.
Kebijakan jam kerja yang seimbang seringkali menjadi pertimbangan karyawan untuk tetap bertahan di sebuah perusahaan.
6. Program Pembelajaran dan Pengembangan
Investasikan anggaran untuk pelatihan, konferensi, atau sertifikasi bagi karyawan. Hal ini tidak hanya meningkatkan kompetensi tim, tetapi juga menunjukkan bahwa perusahaan peduli pada pertumbuhan mereka.
7. Analisis dengan 9-Box-Matrix
Gunakan matriks 9-Box talent management untuk memetakan karyawan berdasarkan performa (current results) dan potensi (future growth).
Dengan alat ini, Anda bisa mengidentifikasi siapa top talent yang butuh perhatian ekstra dan pengembangan strategis agar mereka tetap loyal dan tidak diambil oleh kompetitor.
Supaya lebih mudah, Anda bisa menggunakan 9-box-matrix melalui aplikasi KPI dari KantorKu HRIS.
Software ini secara otomatis memetakan data absensi, skor KPI, hingga hasil penilaian kompetensi karyawan Anda ke dalam 9-Box Matrix.

Jadi, Anda bisa langsung melakukan analisis. Selain itu, KantorKu HRIS juga memiliki beberapa modul penting lainnya, seperti:
- Review Kinerja secara Online: Mengelola penilaian karyawan secara online, sehingga Anda tidak perlu berurusan dengan data yang tercecer.
- KPI & OKR: HR dan manajemen dapat menetapkan indikator kinerja (KPI) dan target (OKR) untuk memastikan seluruh tim bergerak searah menuju target perusahaan.
- Evaluasi Kolaboratif & 360° Feedback: Melibatkan karyawan melalui self-assessment dan umpan balik dari berbagai pihak agar hasil penilaian lebih adil.
- Feedback Transparan: Menyediakan sistem umpan balik sehingga karyawan tahu poin kekuatan mereka dan area mana yang perlu ditingkatkan.
- Rencana Pengembangan Karier: Menghubungkan hasil tinjauan kinerja dengan program pelatihan, sehingga evaluasi berdampak bagi kemajuan karier karyawan.
Ingin segera coba analisis karyawan dengan 9-box-matrix? Silakan book demo gratis untuk mencoba memetakan top talent di peursahaan Anda sebelum terjadi risiko turnover tinggi.
KantorKu HRIS memiliki 9-box-matrix yang terintegrasi OKR/KPI untuk pemetaan performa vs potensi secara lebih mudah.
Related Articles
Employee of the Month Program: Manfaat, Kriteria, & Ide Reward
Equal Employment Opportunity Adalah: Prinsip, Contoh & Cara Membuat
