Cara Menghitung Turnover Karyawan, Ini Rumus & Contoh Analisisnya

Simak cara menghitung turnover karyawan dengan rumus sederhana. Ketahui juga penyebab, dampak bagi bisnis, dan strategi untuk mengurangi turnover.

KantorKu HRIS
Ditulis oleh
KantorKu HRIS • 16 Februari 2026
Key Takeaways
Turnover karyawan adalah persentase karyawan yang keluar dalam periode tertentu.
Hitung turnover secara rutin (bulanan, kuartalan, tahunan) untuk melihat tren.
Jangan hanya hitung jumlah resign, gunakan persentase agar lebih akurat.
Bandingkan hasil dengan standar industri untuk menilai sehat atau tidak.
Analisis profil dan alasan karyawan keluar untuk menemukan akar masalah.

Turnover karyawan yang tinggi dapat menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan bisnis Anda jika tidak segera ditangani. 

Menurut studi dari Work Institute, biaya untuk mengganti satu orang karyawan bisa mencapai 33% dari gaji tahunan mereka yang mencakup biaya rekrutmen, pelatihan, hingga hilangnya produktivitas. 

Anda tidak bisa hanya mengandalkan insting atau sekadar menghitung jumlah orang yang resign setiap bulannya untuk memahami kondisi riil di lapangan. 

Diperlukan perhitungan dengan rumus khusus supaya Anda memiliki data yang valid sebagai panduan dalam mengambil langkah strategis.

Untuk itu, mari pahami lebih lanjut bagaimana cara menghitung turnover karyawan serta berapa angka yang tergolong baik atau buruk bagi kesehatan organisasi Anda!

Apa itu Turnover Karyawan?

Turnover karyawan atau staff turnover rate adalah metrik yang menunjukkan persentase karyawan yang meninggalkan perusahaan dalam periode waktu tertentu, baik secara sukarela (resign) maupun tidak sukarela (PHK). 

Angka ini berfungsi sebagai indikator kesehatan budaya kerja, tingkat kepuasan karyawan, dan efektivitas kepemimpinan di dalam perusahaan.

Idealnya, Anda perlu memantau angka ini secara berkala, baik bulanan, kuartal, maupun tahunan, untuk melihat tren yang terjadi. 

Dengan memahami turnover, Anda bisa mengidentifikasi apakah ada masalah pada proses onboarding, skema kompensasi, atau mungkin keterbatasan jenjang karier yang membuat talenta terbaik Anda memilih pergi.

Banner KantorKu HRIS
Cegah Turnover Sejak Dini dengan Analisis 9-Box-Matrix!

KantorKu HRIS memiliki 9-box-matrix yang terintegrasi OKR/KPI untuk pemetaan performa vs potensi secara lebih mudah.

Data yang Dibutuhkan Sebelum Menghitung Turnover Karyawan

Sebelum Anda memasukkan angka ke dalam rumus, ada beberapa data yang harus dikumpulkan agar hasilnya akurat. 

Berikut adalah data yang Anda butuhkan:

1. Jumlah Karyawan Aktif di Awal Periode

Tentukan jumlah total karyawan yang bekerja pada hari pertama dari periode waktu yang Anda pilih (misalnya tanggal 1 Januari untuk hitungan tahunan).

Contoh: 

Jika Anda ingin menghitung turnover tahunan untuk tahun 2025, maka data yang diambil adalah jumlah karyawan pada tanggal 1 Januari 2025, misal sebanyak 100 orang.

2. Jumlah Karyawan Aktif di Akhir Periode

Hitung berapa banyak karyawan yang masih aktif bekerja pada hari terakhir di periode tersebut (misalnya tanggal 31 Januari).

Contoh:

Pada tanggal 31 Januari 2025, setelah adanya karyawan yang keluar dan masuk, jumlah karyawan yang tersisa adalah 110 orang.

3. Jumlah Karyawan yang Keluar 

Catat total karyawan yang berhenti bekerja selama periode tersebut, baik karena mengundurkan diri, pensiun, maupun pemutusan hubungan kerja.

Contoh: 

Selama periode Januari 2025, tercatat ada 10 karyawan yang meninggalkan perusahaan.

Rumus Dasar Menghitung Turnover Karyawan

Menghitung persentase turnover sebenarnya cukup sederhana karena Anda hanya perlu membagi jumlah karyawan yang keluar dengan rata-rata jumlah karyawan, lalu mengubahnya menjadi persentase.

Berikut rumus dasar menghitung turnover karyawan:

Rumus Turnover Karyawan: (Jumlah Karyawan Keluar/Rata-rata Jumlah Karyawan) x 100

Lantas, bagaimana cara mendapatkan angka-angka tersebut? Berikut panduannya:

  • Jumlah Karyawan Keluar: Didapat dari laporan rekapitulasi data resign atau pemberhentian kerja selama periode tertentu.
  • Rata-rata Jumlah Karyawan: Angka ini didapatkan dengan menjumlahkan Karyawan Awal Periode dan Karyawan Akhir Periode, kemudian hasilnya dibagi dua. Jadi rumusnya Awal + Akhir/2.

Contoh Cara Menghitung Turnover Karyawan

Agar Anda tidak bingung dalam mengaplikasikan rumus di atas, mari ikuti cara menghitung turnover karyawan melalui skenario berikut:

1. Hitung Rata-rata Jumlah Karyawan

Langkah pertama adalah mencari angka rata-rata tenaga kerja Anda selama periode tertentu untuk mendapatkan baseline yang adil.

Contoh:

Perusahaan Anda memiliki 100 karyawan di awal tahun dan 110 karyawan di akhir tahun setelah melakukan beberapa rekrutmen.

Rata-rata Karyawan = (100 + 110)/2 = 105

2. Masukkan ke Rumus Utama

Setelah mendapatkan angka rata-rata, bagi jumlah karyawan yang keluar dengan angka tersebut.

Contoh:

Jika selama setahun ada 10 karyawan yang keluar, maka perhitungannya:

Turnover Rate = 10/105 x 100 = 9,5%

Jika ingin menghitung otomatis, Anda bisa menggunakan kalkulator turnover karyawan gratis dari KantorKu HRIS.

Apa yang Dianalisa dari Angka Turnover Karyawan?

Setelah mendapatkan angka dari perhitungan sebelumnya, Anda kini memiliki data yang siap dibedah lebih dalam. 

Angka turnover tidak akan memberikan solusi jika hanya dilihat sebagai angka mati. Oleh karena itu, Anda perlu melakukan analisis mendalam untuk bisa menarik kesimpulan. 

Berikut beberapa aspek yang perlu dianalisa dari angka turnover karyawan Anda:

1. Profil Karyawan yang Sering Resign

Anda perlu menganalisis profil dari karyawan yang cenderung meninggalkan perusahaan. Apakah mereka berasal dari kelompok usia tertentu, departemen spesifik, memiliki tingkat pendidikan tertentu, atau memegang status jabatan tertentu? 

Contoh: 

Setelah mengecek data satu tahun terakhir, Anda menyadari bahwa 70% karyawan yang resign adalah mereka yang berusia 22–26 tahun (Gen Z) dari Departemen IT. 

Dengan pola ini, Anda bisa menyimpulkan bahwa mungkin ada masalah pada skema jenjang karier atau ekspektasi kerja khusus untuk talenta muda di tim IT.

2. Alasan di Balik Keluarnya Karyawan

Anda harus menyelidiki alasan di balik keluarnya karyawan. Gunakan data dari exit interview untuk mendapat informasi yang mendalam. 

Dari sini, Anda bisa mengetahui apakah penyebabnya adalah masalah kepemimpinan, kompensasi, atau budaya kerja yang tidak sehat.

Contoh:

Angka turnover Anda 15%. Namun, dari hasil exit interview, 8 dari 10 karyawan yang keluar menyebutkan alasan yang sama, “Merasa tidak memiliki otonomi karena gaya kepemimpinan manajer yang mikro-manajemen”. 

Data ini memberitahu Anda bahwa masalahnya bukan pada gaji, melainkan pada kualitas kepemimpinan di level manajerial.

3. Hubungan Turnover dengan Siklus Hidup Karyawan 

Analisislah kapan karyawan cenderung memilih pergi. Apakah terjadi di beberapa bulan pertama, tepat setelah satu tahun, atau saat sudah mencapai masa kerja rata-rata X tahun? 

Contoh: 

Data menunjukkan banyak karyawan keluar di bulan ke-4 bekerja sesaat setelah menyelesaikan masa probation. Analisis ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian dengan realitas pekerjaan sehari-hari.

4. Perbandingan Turnover Sukarela vs. Tidak Sukarela

Bedah angka Anda untuk melihat perbandingan antara karyawan yang keluar atas kemauan sendiri (voluntary) dan mereka yang diberhentikan (involuntary). 

Contoh:

Perusahaan memiliki angka turnover 20%. Setelah dibedah, ternyata 18% adalah Involuntary Turnover atau PHK karena performa buruk. 

Analisis ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak punya masalah retensi, melainkan masalah pada kualitas rekrutmen.

Baca Juga: Panduan PHK bagi HR: Jenis, Alasan yang Sah dan Prosedur sesuai UU

Faktor Penyebab Turnover Karyawan yang Tinggi

Tingginya angka turnover di sebuah perusahaan biasanya tidak terjadi karena akumulasi berbagai masalah. 

Berikut adalah beberapa faktor yang menyebabkan karyawan memilih untuk meninggalkan posisi mereka:

1. Kurangnya Tujuan

Perusahaan yang tidak memiliki misi yang jelas sering kali memiliki tingkat turnover yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang mampu menghubungkan pekerjaan karyawan dengan dampak yang nyata terhadap karier mereka.

2. Kompensasi dan Benefit yang Tidak Kompetitif

Upah adalah alasan paling umum orang berpindah kerja. Jika gaji di perusahaan Anda di bawah rata-rata pasar, kompetitor akan mudah membajak talenta terbaik Anda dengan iming-iming kenaikan finansial yang lebih baik.

3. Beban Kerja Berlebihan (Overworked)

Jika karyawan rutin bekerja lebih dari 50 jam seminggu atau terus-menerus dihubungi saat akhir pekan, mereka akan segera mencari lingkungan yang lebih menghargai keseimbangan hidup.

4. Kepemimpinan yang Buruk

Ada istilah bahwa “karyawan tidak meninggalkan perusahaan, mereka meninggalkan manajer”. Manajer yang toksik, suka bermain pilih kasih, atau tidak kompeten dalam mengelola orang adalah penggerak turnover yang umum terjadi.

5. Minimnya Apresiasi dan Feedback

Karyawan yang tidak pernah mendapatkan pengakuan atas prestasi mereka akan merasa tidak terlihat. Tanpa umpan balik yang membangun, mereka mudah kehilangan arah dan motivasi untuk memberikan performa terbaik.

6. Ketiadaan Peluang Pertumbuhan Karier

Jika karyawan merasa posisi mereka stagnan dan tidak ada masa depan untuk naik jabatan atau belajar skill baru, mereka akan mulai melirik peluang di tempat lain yang menawarkan pengembangan diri.

7. Budaya Kerja yang Membosankan

Pekerjaan yang repetitif tanpa tantangan baru membuat karyawan kehilangan antusiasme. Hal ini bisa karena kurangnya proyek yang mendorong kreativitas, membuat karyawan berbakat merasa bakat mereka tersia-siakan.

Banner KantorKu HRIS
Cegah Turnover Sejak Dini dengan Analisis 9-Box-Matrix!

KantorKu HRIS memiliki 9-box-matrix yang terintegrasi OKR/KPI untuk pemetaan performa vs potensi secara lebih mudah.

Dampak Turnover Karyawan yang Tinggi

Jangan menyepelekan angka turnover yang terus merangkak naik, karena dampaknya bisa melumpuhkan perusahaan secara perlahan. 

Ketahui dampak turnover karyawan yang tinggi bagi perusahaan:

1. Penurunan Pendapatan

Kehilangan karyawan berbakat, terutama di bagian penjualan atau layanan pelanggan, bisa membuat klien lama berpindah ke kompetitor. Akibatnya, Anda harus mencari pengganti dan mengeluarkan biaya rekrutmen yang turut menguras margin keuntungan.

2. Penurunan Produktivitas

Saat seorang karyawan berpengalaman keluar, beban kerjanya akan dialihkan ke staf yang tersisa. 

Hal ini menciptakan stres tambahan bagi tim yang sering kali berujung pada menurunnya kualitas kerja.

3. Kesulitan dalam Rekrutmen

Perusahaan dengan turnover tinggi akan mendapatkan reputasi buruk. Kandidat berkualitas tinggi biasanya akan riset terlebih dahulu dan ragu untuk melamar jika melihat banyak orang keluar dalam waktu singkat.

4. Moral Karyawan Menurun

Kehilangan rekan kerja dekat bisa menurunkan semangat kerja mereka yang ditinggalkan. Hal ini menciptakan siklus negatif di mana karyawan yang tersisa mulai mempertanyakan apakah mereka juga harus mengundurkan diri.

5. Hilangnya Pengetahuan Institusi

Saat karyawan senior keluar, mereka membawa pergi pengetahuan berharga tentang sistem, klien, dan cara kerja internal. Butuh waktu bulanan bagi karyawan baru untuk mencapai level pemahaman yang sama yang tentu saja menghambat akselerasi bisnis.

Cara Mengurangi Turnover Karyawan

Jika hasil perhitungan menunjukkan angka turnover di kantor Anda cukup tinggi, terdapat beberapa strategi yang bisa Anda terapkan untuk meningkatkan retensi, yaitu:

1. Temukan Talenta yang Tepat 

Pastikan proses rekrutmen tidak hanya fokus pada skill teknis, tetapi juga kesesuaian nilai personal dengan budaya perusahaan. 

Gunakan pertanyaan wawancara perilaku untuk memahami karakter asli kandidat atau culture fit test untuk memastikan kecocokan dengan budaya perusahaan .

2. Berikan Pengalaman Onboarding yang Memuaskan

Retensi dimulai sejak hari pertama karyawan bergabung. Berikan pemahaman yang jelas mengenai misi perusahaan dan bagaimana peran mereka memberikan nilai tambah agar karyawan merasa memiliki tujuan sejak awal.

3. Berikan Apresiasi dan Reward

Karyawan yang merasa dihargai cenderung lebih produktif dan loyal. Oleh karena itu, jangan ragu memberikan ucapan selamat atau penghargaan kecil saat karyawan berhasil mencapai target melampaui ekspektasi.

4. Bangun Jenjang Karier yang Jelas

Jangan sampai karyawan merasa posisi mereka stagnan. Lakukan pertemuan rutin untuk membahas tujuan karier mereka dan tunjukkan bagaimana perusahaan dapat membantu mereka mencapai target tersebut.

5. Jaga Work-Life Balance

Beberapa cara untuk menjaga work-life balance yaitu menawarkan sistem kerja fleksibel (seperti hybrid) atau tunjangan yang mendukung kesehatan mental dan fisik. 

Kebijakan jam kerja yang seimbang seringkali menjadi pertimbangan karyawan untuk tetap bertahan di sebuah perusahaan.

6. Program Pembelajaran dan Pengembangan

Investasikan anggaran untuk pelatihan, konferensi, atau sertifikasi bagi karyawan. Hal ini tidak hanya meningkatkan kompetensi tim, tetapi juga menunjukkan bahwa perusahaan peduli pada pertumbuhan mereka.

7. Analisis dengan 9-Box-Matrix

Gunakan matriks 9-Box talent management untuk memetakan karyawan berdasarkan performa (current results) dan potensi (future growth). 

Dengan alat ini, Anda bisa mengidentifikasi siapa top talent yang butuh perhatian ekstra dan pengembangan strategis agar mereka tetap loyal dan tidak diambil oleh kompetitor.

Supaya lebih mudah, Anda bisa menggunakan 9-box-matrix melalui aplikasi KPI dari KantorKu HRIS.

Software ini secara otomatis memetakan data absensi, skor KPI, hingga hasil penilaian kompetensi karyawan Anda ke dalam 9-Box Matrix

Tampilan 9-Box-Matrix KantorKu HRIS

Jadi, Anda bisa langsung melakukan analisis. Selain itu, KantorKu HRIS juga memiliki beberapa modul penting lainnya, seperti:

  • Review Kinerja secara Online: Mengelola penilaian karyawan secara online, sehingga Anda tidak perlu berurusan dengan data yang tercecer.
  • KPI & OKR: HR dan manajemen dapat menetapkan indikator kinerja (KPI) dan target (OKR) untuk memastikan seluruh tim bergerak searah menuju target perusahaan.
  • Evaluasi Kolaboratif & 360° Feedback: Melibatkan karyawan melalui self-assessment dan umpan balik dari berbagai pihak agar hasil penilaian lebih adil.
  • Feedback Transparan: Menyediakan sistem umpan balik sehingga karyawan tahu poin kekuatan mereka dan area mana yang perlu ditingkatkan.
  • Rencana Pengembangan Karier: Menghubungkan hasil tinjauan kinerja dengan program pelatihan, sehingga evaluasi berdampak bagi kemajuan karier karyawan.

Ingin segera coba analisis karyawan dengan 9-box-matrix? Silakan book demo gratis untuk mencoba memetakan top talent di peursahaan Anda sebelum terjadi risiko turnover tinggi.

Banner KantorKu HRIS
Cegah Turnover Sejak Dini dengan Analisis 9-Box-Matrix!

KantorKu HRIS memiliki 9-box-matrix yang terintegrasi OKR/KPI untuk pemetaan performa vs potensi secara lebih mudah.

kantorku hris
Bagikan

Related Articles

Employee of the Month Program: Manfaat, Kriteria, & Ide Reward

Employee of the Month program adalah program apresiasi untuk mengakui kinerja terbaik karyawan. Temukan manfaat, kriteria penilaian, dan ide reward!
21 Februari 2026

Equal Employment Opportunity Adalah: Prinsip, Contoh & Cara Membuat

Equal employment opportunity adalah konsep yang menjamin kesetaraan setiap individu tanpa diskriminasi SARA. Ini prinsip, contoh & cara membuatnya.
19 Februari 2026

Employee Assistance Program: Manfaat, Layanan & Cara Implementasi

Employee assistance program adalah layanan untuk mengatasi masalah pribadi karyawan demi menjaga produktivitas. Ini manfaat, model & implementasinya.
19 Februari 2026