Apa Itu Inflasi? Ini Penyebab, Jenis, & Dampaknya bagi Perusahaan
Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa yang terjadi secara umum dan terus-menerus. Ini penyebab dan cara menghadapinya bagi bisnis.
Table of Contents
Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam periode tertentu.
Bagi pelaku usaha maupun HRD, kondisi ini bisa memengaruhi biaya operasional, strategi gaji, sampai stabilitas tenaga kerja.
Namun perlu ditekankan bahwa kenaikan satu atau dua barang saja belum tentu disebut inflasi jika belum meluas ke barang dan jasa lain.
Maka untuk menghadapi inflasi, Anda bisa menentukan strategi yang pas. Berikut akan dikupas tuntas mulai dari penyebab, jenis hingga cara mengatasi dampak inflasi dalam perusahaan!
Apa Itu Inflasi?

Inflasi adalah kondisi ketika harga barang dan jasa secara umum terus naik dalam jangka waktu tertentu.
Jadi, inflasi bukan hanya soal satu barang yang mahal, melainkan perubahan harga yang terasa lebih luas dalam kehidupan sehari-hari, misalnya bahan makanan, transportasi, sewa, listrik, hingga biaya operasional perusahaan.
Inflasi indonesia biasanya dipantau lewat perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK), karena indikator ini membantu melihat pergerakan biaya hidup masyarakat secara umum.
Banyak orang masih mengira inflasi berarti semua barang mahal. Padahal, inflasi naik artinya laju kenaikan harga sedang lebih tinggi dibanding periode sebelumnya, bukan berarti harga langsung melonjak pada semua barang sekaligus.
Adapun kebalikan dari inflasi adalah deflasi. Arti deflasi adalah penurunan harga secara umum. Kondisi deflasi sering disebabkan oleh melemahnya daya beli masyarakat.
Bagi perusahaan, memahami inflasi penting karena dampaknya bisa menjalar ke banyak hal, seperti meningkatnya tuntutan penyesuaian upah hingga penurunan margin usaha.
Dengan fitur kalkulasi gaji dan rekap data absensi otomatis dari KantorKu HRIS, HR bisa memiliki lebih banyak waktu untuk pengembangan SDM.
Penyebab Inflasi
Inflasi bisa muncul karena permintaan yang terlalu tinggi, biaya produksi yang naik, gangguan pasokan sampai faktor kebijakan moneter.
Oleh karena itu, Anda perlu memahami penyebab inflasi guna membantu perusahaan menentukan langkah yang lebih tepat. Umumnya berikut penyebab inflasi yang sering terjadi:
1. Permintaan Meningkat Lebih Cepat dari Pasokan
Saat masyarakat dan bisnis sama-sama belanja lebih banyak, sementara barang dan jasa belum bisa diproduksi lebih cepat, harga cenderung naik.
Bagi perusahaan, kondisi ini bisa terlihat saat bahan baku, jasa vendor, atau kebutuhan operasional menjadi lebih mahal karena rebutan permintaan pasar.
2. Biaya Produksi Naik
Kenaikan biaya produksi juga salah satu penyebab inflasi yang dekat dengan operasional bisnis.
Ketika harga bahan baku, pajak, atau upah naik, perusahaan biasanya terdorong menyesuaikan harga jual agar margin tidak tertekan.
3. Gangguan Rantai Pasok
Gangguan ini bisa berasal dari cuaca ekstrem, konflik geopolitik, keterlambatan pengiriman, pembatasan ekspor, atau masalah distribusi domestik.
Dampaknya bagi bisnis bisa berupa stok menipis hingga jadwal produksi terganggu yang pada akhirnya membuat cash flow ikut tertekan.
4. Nilai Tukar Melemah
Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya barang impor cenderung naik. Ini berpengaruh pada perusahaan yang bergantung pada bahan baku, mesin, software, atau komponen dari luar negeri.
Dari sini muncul tekanan harga yang disebut imported inflation atau inflasi impor. Contoh efeknya terlihat dari bahan baku impor lebih mahal dan biaya pengadaan perangkat meningkat.
5. Ekspektasi Kenaikan Harga
Saat pekerja, perusahaan, dan konsumen sama-sama memperkirakan harga akan naik terus, mereka akan menyesuaikan keputusan sejak awal.
Karyawan meminta kenaikan upah, vendor menaikkan tarif, dan perusahaan menyesuaikan harga jual sebelum tekanan biaya benar-benar terjadi.
6. Kebijakan Moneter
Inflasi juga dapat berkaitan dengan pertumbuhan jumlah uang beredar yang terlalu cepat dibanding kapasitas produksi ekonomi. Akibat inflasi BI ini bisa memicu perubahan suku bunga.
7. Kenaikan Harga Energi dan Komoditas
Harga minyak, gas, pangan, dan komoditas lain punya pengaruh besar terhadap inflasi. Saat harga komoditas naik, banyak sektor akan ikut terdampak karena biaya produksi dan transportasi ikut meningkat.
Jenis-Jenis Inflasi
Selain penyebab, Anda juga perlu mengetahui berbagai jenis inflasi yang umum terjadi. Perbedaan jenis inflasi terlihat dari beberapa sudut, seperti penyebab, tingkat keparahan, sumbernya, dan bagaimana pengendaliannya.
Mari bedah satu per satu di bawah ini!
Jenis Inflasi Berdasarkan Penyebabnya
Dengan memahami penyebab, Anda bisa lebih mudah membedakan apakah inflasi dipicu oleh lonjakan permintaan, kenaikan biaya, atau ekspektasi terus berulang. Adapun jenisnya yaitu:
1. Demand Pull Inflation (Tarikan Permintaan)
Demand pull inflation terjadi ketika permintaan pasar meningkat lebih cepat daripada kemampuan pasokan untuk memenuhinya.
Dalam kondisi ini, barang atau jasa menjadi relatif langka daripada jumlah pembeli, sehingga harga terdorong naik.
Ciri-cirinya:
- Konsumsi masyarakat meningkat
- Permintaan pasar naik tajam
- Kapasitas produksi belum mampu mengejar
- Perusahaan menaikkan harga karena pasar masih mau membeli
Contoh sederhananya adalah ketika produk tertentu sedang sangat diminati, pesanan membludak, tetapi kapasitas produksi belum siap. Dalam situasi itu, harga cenderung naik karena pasar bersedia membayar lebih.
2. Cost Push Inflation (Dorongan Biaya)
Cost push inflation muncul ketika biaya produksi naik lebih dulu, lalu kenaikan itu diteruskan ke harga jual.
Ini adalah jenis inflasi yang sering dirasakan langsung oleh perusahaan karena sumber tekanannya berasal dari sisi operasional.
Jenis inflasi ini biasanya dipengaruhi oleh:
- Harga energi meningkat
- Bahan baku naik
- Ongkos logistik lebih mahal
- Upah naik,
- Pajak atau biaya kepatuhan bertambah
3. Built-in Inflation (Inflasi Ekspektasi)
Built-in inflation terjadi ketika masyarakat dan perusahaan menganggap harga akan terus naik, lalu menyesuaikan perilaku ekonominya berdasarkan asumsi tersebut. Dari sinilah muncul spiral upah-harga.
Prosesnya biasanya seperti ini:
- Harga naik
- Karyawan meminta kenaikan gaji
- Biaya perusahaan naik
- Perusahaan menaikkan harga
- Lalu harga kembali naik
Baca Juga: 10 Tanda-tanda Perusahaan akan Layoff: Hiring Freeze hingga C-Level yang Resign
Jenis Inflasi Berdasarkan Tingkat Keparahannya
Selain dibedakan dari penyebabnya, inflasi juga bisa dibagi berdasarkan seberapa parah kenaikannya.
Tidak semua inflasi berdampak sama. Ada inflasi yang masih tergolong wajar, tetapi ada juga yang begitu tinggi. Berikut penjelasannya:
1. Inflasi Ringan
Inflasi ringan adalah kenaikan harga pada level yang masih relatif terkendali. Dalam kondisi ini, bisnis biasanya masih bisa menyesuaikan harga, gaji, dan anggaran tanpa guncangan besar.
Dampaknya cenderung menyebabkan daya beli turun perlahan, biaya usaha naik bertahap, dan perusahaan masih punya waktu beradaptasi.
2. Inflasi Sedang
Inflasi sedang terjadi saat kenaikan harga mulai terasa lebih nyata dalam kehidupan sehari-hari dan dalam kegiatan bisnis.
Pada tahap ini, perusahaan biasanya mulai lebih sering melakukan penyesuaian anggaran. Pasalnya, dampak yang mungkin dirasakan seperti tekanan penyesuaian upah dan margin semakin tipis.
3. Inflasi Berat
Inflasi berat adalah kondisi ketika harga naik cukup cepat dan mulai mengganggu stabilitas perencanaan usaha. Dalam situasi ini, perusahaan sering kesulitan mempertahankan efisiensi dan kestabilan anggaran.
Tanda-tandanya seperti perubahan harga sangat cepat, biaya operasional sulit diprediksi dan cash flow lebih tertekan.
4. Hiperinflasi
Hiperinflasi adalah kondisi ekstrem ketika harga naik sangat cepat dan nilai uang jatuh tajam. Situasi ini bisa merusak fungsi normal ekonomi karena masyarakat dan bisnis kehilangan kepercayaan pada stabilitas harga.
Dampaknya nilai uang melemah drastis, harga berubah hampir terus-menerus, dan perencanaan bisnis menjadi sulit.
Jenis Inflasi Berdasarkan Sumbernya
Inflasi bisa berasal dari faktor dalam negeri atau dari luar negeri. Anda perlu memahami ini karena strategi penanganannya bisa berbeda tergantung asal tekanannya. Adapun jenisnya mencakup:
1. Inflasi Domestik
Inflasi domestik adalah inflasi yang berasal dari faktor-faktor dalam negeri. Sumbernya bisa dari distribusi yang terganggu, hasil produksi menurun, konsumsi masyarakat meningkat, atau biaya operasional lokal yang naik.
Contohnya seperti pasokan pangan berkurang, ongkos distribusi antarwilayah naik, dan permintaan domestik naik.
Inflasi domestik bisa memengaruhi harga bahan baku lokal, ongkos distribusi regional, hingga biaya kebutuhan kantor.
2. Inflasi Impor
Inflasi impor terjadi ketika kenaikan harga datang dari luar negeri, lalu masuk ke pasar domestik melalui perdagangan internasional.
Biasanya jenis ini dipicu oleh harga komoditas global, kurs, atau biaya impor. Dampaknya akan lebih terasa pada bisnis yang memakai bahan baku atau perangkat dari luar negeri.
Bisnis pun menanggung akibat seperti bahan baku impor naik, komponen produksi lebih mahal, dan harga jual di pasar lokal ikut terdorong.
Jenis Inflasi Berdasarkan Pengendaliannya
Sebagian inflasi terjadi secara terbuka dan mudah terlihat oleh pasar. Sebagian lain tampak tertahan karena ada intervensi tertentu, misalnya pengendalian harga.
Keduanya sama-sama penting dipahami karena dapat memengaruhi keputusan bisnis dan administrasi HR. Berikut penjelasannya:
1. Inflasi Terbuka (Open Inflation)
Inflasi terbuka adalah kondisi ketika kenaikan harga berlangsung secara nyata dan terlihat di pasar.
Harga barang dan jasa berubah mengikuti tekanan permintaan, biaya, dan kondisi ekonomi tanpa banyak penekanan administratif.
Konsumen biasanya langsung merasakan kenaikan dan perusahaan pun harus lebih cepat menyesuaikan harga jual.
2. Inflasi Tertutup (Suppressed Inflation)
Inflasi tertutup terjadi saat tekanan harga sebenarnya ada, tetapi belum tampak sepenuhnya karena ada pembatasan atau intervensi tertentu, seperti kontrol harga atau subsidi besar.
Jika penahanannya dilepas, tekanan harga bisa muncul sekaligus. Bagi pelaku usaha, kondisi ini perlu diwaspadai karena risiko kenaikan mendadak bisa muncul dan perusahaan perlu menyiapkan anggaran lebih waspada.
Cara Mengukur Inflasi

Secara umum, inflasi diukur dengan menggunakan pengukuran yang paling dikenal yaitu Indeks Harga Konsumen (IHK) atau CPI.
Pengukuran ini dilakukan dengan memantau barang dan jasa yang umum dibeli rumah tangga, lalu membandingkan perubahannya dari waktu ke waktu.
Cara mengukur inflasi biasanya melibatkan beberapa indikator berikut:
1. Indeks Harga Konsumen (IHK)
Indeks Harga Konsumen digunakan untuk mengukur perubahan harga dari sekeranjang barang dan jasa yang umum dibeli rumah tangga.
Cara ini paling sering dipakai untuk melihat inflasi dari sisi konsumen karena menggambarkan perubahan biaya hidup masyarakat secara umum.
Contohnya, jika harga beras, telur, ongkos transportasi, dan sewa rumah sama-sama naik dalam periode tertentu, maka IHK akan menunjukkan adanya inflasi.
2. Inflasi Inti (Core Inflation)
Inflasi inti mengukur kecenderungan kenaikan harga yang lebih mendasar dengan mengecualikan komponen yang sangat bergejolak, seperti pangan dan energi.
Biasanya cara ini dipakai untuk melihat apakah tekanan inflasi bersifat sementara atau benar-benar menjadi tren yang lebih stabil.
Contohnya, ketika harga cabai atau bensin naik tajam karena faktor musiman, inflasi inti membantu melihat apakah harga kebutuhan lain juga ikut naik secara lebih luas.
3. Indeks Harga Produsen (Producer Price Index atau PPI)
Indeks Harga Produsen mengukur perubahan harga dari sisi produsen, yaitu harga barang dan jasa sebelum sampai ke konsumen akhir.
Angka ini bisa memberi sinyal awal bahwa biaya produksi sedang meningkat dan berpotensi diteruskan menjadi kenaikan harga jual.
Contohnya, jika harga bahan baku makanan naik di tingkat produsen, maka besar kemungkinan harga produk akhirnya juga akan naik.
4. Deflator PDB (GDP Deflator)
Selain IHK, ekonomi juga mengenal ukuran yang lebih luas seperti deflator PDB/GDP untuk melihat perubahan harga pada cakupan ekonomi yang lebih besar.
Deflator PDB digunakan untuk mengukur perubahan harga semua barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu perekonomian, sehingga cakupannya lebih luas dibanding IHK.
Namun indikator ini tidak selalu dipakai pelaku usaha harian, tetapi penting untuk analisis makro.
Dampak Inflasi terhadap Perusahaan
Inflasi bisa memengaruhi konsumen dan menekan perusahaan dari banyak sisi. Jika tidak diantisipasi, bisnis dapat menghadapi penurunan margin dan administrasi SDM yang makin rumit. Adapun beberapa dampak inflasi terhadap perusahaan yang sering muncul yaitu:
1. Biaya Operasional Perusahaan Meningkat
Inflasi membuat perusahaan harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk menjalankan operasional sehari-hari.
Kenaikan ini bisa terjadi pada listrik, transportasi, bahan baku, hingga sewa. Perusahaan pun harus menyesuaikan anggaran agar kegiatan usaha tetap berjalan stabil.
2. Margin Keuntungan Menyempit
Saat biaya produksi naik tetapi harga jual tidak bisa langsung dinaikkan, margin keuntungan perusahaan akan tertekan.
Kondisi ini sering terjadi pada bisnis yang berada di pasar kompetitif dan tidak leluasa menaikkan harga. Jika berlangsung terus, laba usaha bisa turun meski penjualan tetap berjalan.
3. Daya Beli Karyawan Menurun
Inflasi membuat nilai riil gaji karyawan ikut menurun karena harga kebutuhan hidup naik. Walaupun nominal gaji tetap sama, kemampuan membeli barang dan jasa menjadi lebih kecil dibanding sebelumnya.
4. Tekanan Kenaikan Gaji Semakin Besar
Ketika inflasi berlangsung, karyawan cenderung mengharapkan penyesuaian pendapatan agar standar hidup mereka tetap terjaga.
Perusahaan pun menghadapi tekanan lebih besar dalam kebijakan kompensasi. Jika tidak dikelola dengan baik, situasi ini bisa memicu ketidakpuasan internal.
Baca Juga: Begini Cara Mudah Menghitung Presentase Kenaikan Gaji Karyawan!
5. Perencanaan Anggaran Menjadi Lebih Sulit
Harga barang dan jasa bisa berubah lebih cepat, sehingga asumsi anggaran yang dibuat di awal tahun menjadi kurang akurat. Akibatnya, perusahaan perlu lebih sering meninjau ulang budget dan forecast.
6. Nilai Uang Tunai Menurun
Dalam kondisi inflasi, uang tunai yang disimpan perusahaan akan memiliki daya beli yang lebih rendah dari waktu ke waktu.
Artinya, jumlah uang yang sama tidak lagi bisa membeli kebutuhan operasional sebanyak sebelumnya.
7. Stabilitas Bisnis Terganggu
Ketidakpastian harga membuat penetapan harga jual, perencanaan ekspansi, hingga kebijakan SDM menjadi lebih rumit.
Dalam jangka panjang, hal ini bisa mengganggu stabilitas usaha jika tidak diimbangi dengan sistem pengelolaan yang rapi.
Dengan fitur kalkulasi gaji dan rekap data absensi otomatis dari KantorKu HRIS, HR bisa memiliki lebih banyak waktu untuk pengembangan SDM.
Cara Mengatasi Dampak Inflasi dalam Perusahaan
Perusahaan tidak selalu bisa mengendalikan inflasi, tetapi bisa mengurangi dampaknya melalui sejumlah langkah. Adapun langkah yang bisa dilakukan yaitu:
1. Evaluasi Struktur Biaya secara Berkala
Perusahaan perlu meninjau biaya operasional secara rutin agar tahu pos mana yang paling terdampak inflasi.
Dengan evaluasi ini, manajemen bisa menentukan biaya yang harus ditekan, dinegosiasikan, atau dioptimalkan agar cash flow tetap sehat saat harga terus berubah.
2. Susun Kebijakan Gaji yang Lebih Terukur
Penyesuaian gaji sebaiknya dilakukan berdasarkan data dan kemampuan perusahaan, bukan sekadar reaksi sesaat.
Dengan begitu, perusahaan bisa tetap menjaga keseimbangan antara kesejahteraan tim dan kesehatan bisnis.
3. Tingkatkan Produktivitas melalui KPI yang Jelas
Di tengah inflasi, perusahaan perlu memastikan setiap biaya tenaga kerja menghasilkan output yang optimal. KPI yang jelas membantu manajemen menilai kontribusi karyawan secara lebih objektif.
4. Rapikan Administrasi Payroll dan Absensi
Saat tekanan biaya meningkat, kesalahan dalam payroll, absensi, lembur, dan tunjangan bisa membuat pengeluaran perusahaan semakin tidak efisien.
Karena itu, administrasi HR perlu lebih rapi. Proses yang tertata akan membantu perusahaan mengurangi human error dan mempercepat pengambilan keputusan.
5. Gunakan Sistem HRIS untuk Efisiensi Kerja
HRIS seperti KantorKu HRIS dapat membantu perusahaan mengelola data karyawan, absensi, payroll, KPI, dan administrasi SDM dalam satu sistem yang lebih terintegrasi.
Sistem HRIS dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi beban kerja manual, karena mampu melakukan perhitungan gaji otomatis, rekap absen langsung ke payroll hingga approval cuti tanpa form cetak.
Dengan proses yang lebih cepat, perusahaan pun bisa mengalokasikan pengeluaran untuk HR untuk operasional lain yang lebih penting.
Kelola Gaji Stabil di Tengah Inflasi lewat KantorKu HRIS!
Inflasi adalah suatu tantangan bagi bisnis jika tidak dikelola dengan baik karena menyebabkan biaya operasional naik.
Salah satu upaya untuk menghemat pengeluaran yaitu mengotomatisasi administrasi HR dengan software payroll seperti KantorKu HRIS.
Dengan menggunakan KantorKu HRIS, Anda bisa menghitung gaji secara otomatis bahkan monitoring KPI dari satu dashboard tanpa micromanage, sehingga lebih cepat dan HR bisa lebih fokus mengembangkan SDM yang ada.

Agar lebih paham cara kerjanya, mari lihat fitur berikut:
- Kalkulasi Gaji Otomatis: Hitung otomatis gaji bersih, tunjangan, dan bonus sesuai aturan ketenagakerjaan terbaru.
- Potong Pajak PPh 21 & BPJS Otomatis: Melakukan pemotongan iuran wajib secara otomatis sesuai regulasi terbaru untuk menghindari denda keterlambatan pelaporan.
- Sinkronisasi Data: Menghubungkan data absensi dan lembur langsung ke sistem payroll untuk memastikan pembayaran upah yang sesuai.
- Dashboard Analitik Biaya SDM: Menyajikan laporan statistik penggajian dan anggaran secara visual untuk memudahkan perencanaan finansial di masa inflasi.
- Transfer Gaji Sekali Klik: Memfasilitasi pembayaran gaji ke ribuan rekening karyawan secara instan dengan aplikasi pembayaran gaji karyawan.
Dengan dukungan kalkulator gaji dari KantorKu HRIS, Anda dapat mengelola gaji dan administrasi HR lainnya secara lebih efisien.
Langsung saja book demo gratis sekarang juga untuk mencoba sendiri bagaimana KantorKu HRIS mengoptimalkan manajemen payroll Anda!
Dengan fitur kalkulasi gaji dan rekap data absensi otomatis dari KantorKu HRIS, HR bisa memiliki lebih banyak waktu untuk pengembangan SDM.
Referensi:
What is Inflation and How Does the FED Evaluate Changes in the Rate of Inflation? | The Fed
Related Articles
PPh Final: Aturan, Tarif, & Cara Menghitungnya di Perusahaan
Apa Itu CTO? Ini Tugas, Peluang Karier, & Skill yang Dibutuhkan