Neraca Saldo Adalah: Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Cara Membuatnya
Neraca saldo adalah daftar saldo akhir semua akun untuk memastikan keseimbangan penyusunan laporan keuangan perusahaan. Cek cara buatnya!
Table of Contents
- Apa Itu Neraca Saldo?
- Fungsi Neraca Saldo bagi Bisnis
- Jenis-Jenis Neraca Saldo
- Komponen Utama dalam Neraca Saldo
- Struktur Lengkap Komponen Neraca Saldo (Tabel Utuh)
- PT Maju Jaya Sentosa
- Cara Membuat Neraca Saldo
- Mengapa Neraca Saldo Tidak Seimbang?
- Proses HR yang Berbelit Bikin Fokus Keuangan Terganggu? Saatnya Pakai KantorKu HRIS!
Table of Contents
- Apa Itu Neraca Saldo?
- Fungsi Neraca Saldo bagi Bisnis
- Jenis-Jenis Neraca Saldo
- Komponen Utama dalam Neraca Saldo
- Struktur Lengkap Komponen Neraca Saldo (Tabel Utuh)
- PT Maju Jaya Sentosa
- Cara Membuat Neraca Saldo
- Mengapa Neraca Saldo Tidak Seimbang?
- Proses HR yang Berbelit Bikin Fokus Keuangan Terganggu? Saatnya Pakai KantorKu HRIS!
Neraca saldo adalah daftar yang berisi seluruh saldo akun buku besar perusahaan pada suatu periode tertentu, yang disusun secara sistematis untuk memastikan bahwa total saldo debit dan kredit berada dalam keadaan seimbang.
Secara umum, bentuk neraca saldo disajikan dalam format tabel dengan kolom nama akun, debit, dan kredit, sehingga memudahkan proses pengecekan kebenaran pencatatan transaksi akuntansi.
Dalam praktiknya, neraca saldo sering digunakan sebagai alat awal untuk menyusun laporan keuangan, seperti laporan laba rugi, neraca, dan laporan perubahan ekuitas.
Dokumen ini juga berfungsi untuk mendeteksi adanya kesalahan pencatatan, baik dari sisi pengelompokan akun maupun penjumlahan saldo.
Karena perannya yang krusial, neraca saldo sangat dibutuhkan oleh akuntan, staf keuangan, auditor, pemilik usaha, hingga manajer yang ingin memantau kondisi keuangan perusahaan secara akurat.
Untuk memahami lebih dalam mengenai pengertian, fungsi, bentuk, contoh, serta cara menyusun neraca saldo dengan benar, simak pembahasan lengkapnya pada artikel di bawah ini.
Apa Itu Neraca Saldo?

Neraca saldo adalah sebuah daftar yang memuat seluruh saldo akhir dari setiap akun yang terdapat dalam buku besar perusahaan pada periode tertentu. Daftar ini disusun untuk memastikan bahwa total saldo debit dan total saldo kredit berada dalam kondisi seimbang.
Anda dapat membayangkannya sebagai sebuah checkpoint atau titik pemeriksaan awal atas kesehatan pencatatan keuangan. Jika pada tahap ini terjadi ketidaksesuaian angka, maka laporan keuangan lanjutan seperti laporan laba rugi, neraca, maupun arus kas hampir pasti akan mengandung kesalahan.
Menurut artikel di Enerpize, trial balance memang berguna untuk memeriksa keseimbangan antara debit dan kredit, tetapi studi menunjukkan 59% akuntan membuat lebih dari satu kesalahan setiap bulan saat menyiapkan neraca saldo, yang bisa termasuk kesalahan entri data, pencatatan di kolom yang salah, atau entri yang hilang.
Artinya, meskipun neraca saldo seimbang, masih banyak kesalahan yang terjadi dalam praktik akuntansi.
Dalam lingkup profesional akuntansi, neraca saldo berfungsi sebagai alat verifikasi matematis terhadap sistem pembukuan berpasangan (double-entry bookkeeping), di mana setiap transaksi harus dicatat minimal pada dua akun dengan jumlah debit dan kredit yang sama.
Melalui neraca saldo, akuntan dapat memastikan bahwa seluruh transaksi telah diposting ke buku besar dengan benar dan tidak ada kesalahan penjumlahan maupun pengelompokan akun.
Secara lebih rinci, neraca saldo memiliki peran dan karakteristik sebagai berikut:
- Merangkum seluruh akun buku besar, baik akun aset, kewajiban, ekuitas, maupun pendapatan.
- Menguji keseimbangan debit dan kredit.
- Menjadi dasar penyusunan laporan keuangan, seperti laporan laba rugi.
- Membantu mendeteksi kesalahan pencatatan.
- Digunakan sebagai alat kontrol internal terutama dalam proses audit.
Bagi pemilik usaha, manajer keuangan, maupun auditor, pemahaman tentang neraca saldo sangat krusial karena menjadi dasar pengambilan keputusan bisnis yang berbasis data keuangan.
KantorKu HRIS bantu kelola absensi, payroll, cuti, slip gaji, dan BPJS dalam satu aplikasi.
Fungsi Neraca Saldo bagi Bisnis
Sebagai pelaku usaha atau HRD yang juga memegang tanggung jawab dalam mengelola anggaran departemen, Anda perlu menyadari bahwa neraca saldo disusun untuk menciptakan akurasi data yang absolut.
Dokumen ini memastikan bahwa setiap rupiah yang keluar dan masuk telah tercatat secara berpasangan, sehingga total debit akan selalu sama dengan total kredit. Tanpa fungsi ini, bisnis Anda ibarat berjalan di dalam kabut tanpa navigasi yang jelas.
Selain menjamin keseimbangan angka, neraca saldo memiliki peran strategis dalam keberlangsungan administrasi perusahaan Anda:
- Validasi Keandalan Data: Memastikan bahwa pemindahan data dari jurnal umum ke buku besar tidak mengalami distorsi.
- Penyaringan Error: Menjadi “filter” pertama untuk menemukan angka-angka ganjil sebelum diproses menjadi laporan pajak atau laba rugi.
- Efisiensi Waktu Operasional: Mempercepat kerja tim finansial karena data sudah terkelompokkan secara sistematis berdasarkan saldo akhirnya.
- Transparansi Anggaran: Memudahkan HRD atau Manajer dalam melihat sisa saldo akun beban, seperti beban gaji atau tunjangan karyawan, secara real-time.
Berikut adalah beberapa fungsi neraca saldo yang wajib Anda ketahui:
1. Sebagai Alat Monitoring Saldo Akun Secara Berkala
Fungsi neraca saldo yang pertama adalah memungkinkan Anda untuk memantau pergerakan saldo pada setiap akun secara spesifik tanpa harus membuka lembar buku besar satu per satu.
Dengan memantau laporan neraca saldo, Anda bisa melihat apakah posisi kas, piutang, atau utang perusahaan masih dalam batas aman.
Monitoring yang rutin akan membantu Anda mendeteksi jika ada akun yang membengkak tidak wajar, sehingga tindakan korektif bisa segera diambil sebelum berdampak pada arus kas (cash flow).
Baca Juga: 15 Aplikasi untuk Proses Bisnis Lebih Mudah, Ada MailChimp & Trello
2. Mempermudah Penyusunan Laporan Keuangan Final
Neraca saldo adalah bahan baku utama dalam dapur akuntansi. Tanpanya, penyusunan laporan laba rugi, laporan perubahan modal, hingga neraca akhir akan menjadi sangat rumit dan rentan kesalahan.
Karena semua akun sudah terangkum dalam satu daftar yang rapi, Anda tinggal memindahkan angka-angka tersebut ke format laporan keuangan yang diinginkan. Hal ini sangat krusial terutama saat periode penutupan buku akhir tahun yang biasanya sangat sibuk.
3. Mendeteksi Kesalahan Pencatatan dan Posting Sejak Dini
Dalam proses akuntansi manual maupun semi-digital, risiko human error seperti salah ketik angka atau salah memasukkan posisi akun sering terjadi.
Neraca saldo berfungsi sebagai alarm; jika jumlah debit dan kredit tidak seimbang, itu adalah sinyal bahwa ada kesalahan dalam posting dari jurnal ke buku besar.
Deteksi dini ini mencegah kesalahan tersebut “beranak-pinak” hingga ke laporan keuangan yang akan dipresentasikan kepada investor atau direksi.
4. Meningkatkan Efisiensi dan Akurasi Proses Audit
Bagi perusahaan yang sedang berkembang, audit adalah hal yang lumrah. Neraca saldo yang rapi akan sangat membantu auditor (baik internal maupun eksternal) dalam melacak sumber transaksi.
Dokumentasi yang terstruktur menunjukkan bahwa perusahaan Anda memiliki kontrol internal yang baik.
Jenis-Jenis Neraca Saldo
Dalam siklus akuntansi yang lengkap, Anda tidak hanya akan bertemu dengan satu jenis laporan saja. Terdapat beberapa jenis-jenis neraca saldo yang muncul di tahapan yang berbeda-beda untuk memastikan validitas data perusahaan Anda.
Memahami perbedaan ketiganya sangat penting bagi Anda sebagai pelaku usaha agar tidak salah dalam membaca data keuangan yang sedang disajikan oleh tim admin atau akuntan.
Simak 3 jenis neraca saldo yang kerap digunakan oleh banyak perusahaan hingga saat ini:
1. Neraca Saldo Sebelum Penyesuaian
Neraca saldo sebelum penyesuaian adalah daftar saldo yang dibuat setelah semua transaksi dalam satu periode selesai diposting ke buku besar.
Contoh neraca saldo sebelum penyesuaian berfungsi untuk mengecek apakah ada kesalahan dalam input data dari jurnal umum sebelum Anda melangkah ke tahap yang lebih kompleks.
- Dibuat sesaat setelah semua transaksi rutin dicatat ke buku besar.
- Menjadi deteksi dini untuk kesalahan matematis dalam kolom debit dan kredit.
- Belum mencerminkan kondisi aset atau beban yang bersifat akrual (masih berjalan).
- Data pada tahap ini biasanya masih bersifat mentah dan memerlukan verifikasi lebih lanjut.
2. Neraca Saldo Setelah Penyesuaian
Setelah Anda memasukkan jurnal penyesuaian (seperti penyusutan aset, biaya sewa yang jatuh tempo, atau sisa perlengkapan), Anda perlu menyusun neraca ini.
Oleh karena itu, neraca saldo setelah penyesuaian adalah gambaran paling nyata dan akurat dari kondisi keuangan perusahaan Anda pada periode tersebut.
Data dari laporan inilah yang nantinya akan langsung digunakan untuk menyusun Laporan Laba Rugi dan Neraca Akhir.
- Mencerminkan nilai aset, liabilitas, dan ekuitas yang sudah diperbarui.
- Memasukkan akun-akun penyesuaian seperti biaya penyusutan, beban dibayar di muka, dan pendapatan diterima di muka.
- Memberikan akurasi data yang lebih tinggi untuk keperluan analisis performa bisnis.
- Menjadi rujukan utama dalam pembuatan laporan keuangan formal bagi pihak eksternal.
3. Neraca Saldo Penutup
Neraca saldo penutup disusun di akhir periode akuntansi, tepat setelah jurnal penutup dibuat. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa buku besar memiliki keseimbangan untuk awal periode berikutnya.
Hal ini penting karena akun-akun nominal (pendapatan dan beban) harus dikosongkan (nol) agar tidak bercampur dengan data keuangan di tahun atau bulan yang baru.
- Hanya berisi akun-akun riil (aset, utang, dan modal).
- Memastikan saldo akun pendapatan dan beban telah dipindahkan ke modal/laba ditahan (menjadi nol).
- Berfungsi sebagai saldo awal untuk memulai pembukuan di periode akuntansi selanjutnya.
- Menjamin konsistensi data keuangan perusahaan dari tahun ke tahun secara berkelanjutan.
Komponen Utama dalam Neraca Saldo
Untuk memahami sebuah laporan neraca saldo, Anda perlu mengenali bagian-bagian teknis yang membentuknya.
Komponen ini merupakan standar akuntansi yang berlaku universal, baik digunakan dalam bisnis manufaktur yang kompleks maupun pada neraca saldo perusahaan jasa. Tanpa pemahaman pada komponen-komponen ini, Anda akan kesulitan melakukan analisis jika terjadi ketidakseimbangan angka pada laporan akhir.
Selain kolom-kolom standar, setiap komponen ini mencerminkan integritas dari sistem pencatatan keuangan yang Anda jalankan.
Berikut beberapa komponen utama neraca saldo:
1. Nomor Akun (Account Code)
Nomor akun adalah kode unik berupa angka yang diberikan pada setiap akun untuk mengidentifikasi kategori dan klasifikasinya secara cepat. Dalam sistem akuntansi, pengkodean ini membantu dalam pengurutan laporan agar lebih terorganisir.
- Berfungsi sebagai identitas unik agar tidak terjadi tumpang tindih antar akun.
- Memudahkan proses pencarian data dalam sistem aplikasi atau buku besar.
- Biasanya disusun secara numerik, misalnya awalan angka 1 untuk aset (101 untuk Kas), angka 2 untuk liabilitas, dan seterusnya.
- Menjamin konsistensi pelaporan dari satu periode ke periode berikutnya.
Contoh Penulisan: 111 untuk Kas
- 211 untuk Utang Usaha
- 511 untuk Beban Gaji
2. Nama Akun (Account Description)
Nama akun adalah judul atau label yang diberikan pada setiap akun untuk mendeskripsikan jenis transaksi yang dicatat di dalamnya.
Penggunaan nama akun yang jelas sangat membantu HRD atau pelaku usaha dalam membaca alokasi dana secara langsung.
- Memberikan keterangan spesifik mengenai isi dari saldo tersebut.
- Harus ditulis secara konsisten sesuai dengan daftar akun (Chart of Accounts) yang telah ditetapkan perusahaan.
- Membantu pihak non-akuntan (seperti manajemen) untuk memahami pos-pos pengeluaran atau pendapatan.
- Mencakup seluruh akun yang memiliki saldo, baik itu akun riil maupun akun nominal.
Contoh Penulisan: Piutang Usaha
- Modal Pemilik
- Pendapatan Jasa
3. Kolom Debit
Kolom debit berada di sisi kiri laporan dan digunakan untuk mencatat saldo akhir dari akun-akun yang memiliki saldo normal di sisi debit.
Dalam materi neraca saldo, pemahaman mengenai posisi saldo normal sangat krusial agar tidak terjadi kesalahan input.
Berikut beberapa kriteria dari kolom debit dalam neraca saldo:
- Tempat mencatat nilai saldo akhir untuk kelompok Aset (Harta) dan Beban (Pengeluaran).
- Mencerminkan penambahan nilai pada aset atau peningkatan beban yang dikeluarkan perusahaan.
- Total dari kolom ini nantinya akan diadu dengan total kolom kredit untuk memastikan keseimbangan.
- Dalam konteks HRD, akun seperti “Beban Pelatihan Karyawan” atau “Beban Gaji” akan selalu berada di kolom ini.
Contoh Penulisan:
Jika saldo kas di buku besar berakhir di angka Rp50.000.000, maka angka tersebut ditulis di sisi kiri seperti tabel berikut:
Nomor Akun Nama Akun Debit (Rp) Kredit (Rp) 101 Kas 50.000.000 – 501 Beban Gaji 10.000.000 –
4. Kolom Kredit
Kolom kredit berada di sisi kanan laporan dan berfungsi sebagai tempat mencatat saldo akhir dari akun-akun yang memiliki saldo normal di sisi kredit. Kolom ini mencerminkan dari mana sumber dana atau kewajiban perusahaan berasal.
- Tempat mencatat nilai saldo akhir untuk kelompok Liabilitas (Utang), Ekuitas (Modal), dan Pendapatan.
- Mencerminkan sumber pembiayaan bisnis atau perolehan hasil dari penjualan/jasa.
- Saldo yang tertera di sini harus selaras dengan bukti transaksi pada buku besar masing-masing akun.
- Akun seperti “Utang Gaji” atau “Pendapatan Jasa” secara otomatis akan dikategorikan ke dalam kolom ini.
Contoh Penulisan:
Jika perusahaan memiliki utang bank sebesar Rp20.000.000, maka angka tersebut diletakkan di sisi kanan (kolom kredit) seperti tabel berikut:
Nomor Akun Nama Akun Debit (Rp) Kredit (Rp) 201 Utang Bank – 20.000.000 401 Pendapatan Jasa – 35.000.000
5. Periode Laporan (Header)
Meski sering dianggap tak penting, header laporan adalah komponen wajib yang menunjukkan identitas perusahaan dan waktu pembuatan laporan tersebut. Tanpa komponen ini, sebuah neraca saldo kehilangan validitas hukum dan administratifnya.
- Mencantumkan nama resmi perusahaan di bagian paling atas.
- Menjelaskan jenis laporan (Neraca Saldo).
- Menyebutkan tanggal atau periode penutupan (misal: “Per 31 Desember 2024”).
- Memberikan konteks bagi pembaca mengenai relevansi data yang disajikan.
Contoh Penulisan:
Header diletakkan di bagian paling atas tabel secara terpusat (center), mencakup nama perusahaan, nama laporan, dan periode penutupan.
Contoh Visualisasi Header:
| PT Maju Jaya Sentosa |
| Neraca Saldo |
| Per 31 Desember 2024 |
Struktur Lengkap Komponen Neraca Saldo (Tabel Utuh)
Jika semua komponen di atas disatukan, maka bentuk contoh neraca saldo yang rapi akan terlihat seperti di bawah ini. Anda bisa menggunakan format ini baik untuk neraca saldo perusahaan jasa maupun dagang:
PT Maju Jaya Sentosa
Neraca Saldo
Per 31 Desember 2024
Cara Membuat Neraca Saldo
Cara membuat neraca saldo ini sebenarnya cukup sistematis jika Anda mengikuti langkah-langkah yang benar. Ketelitian dalam setiap tahapan akan menentukan kualitas laporan keuangan final Anda.
Jika Anda ingin tahu seperti apa cara membuat neraca saldo, berikut telah kami buatkan panduan detail untuk menyusunnya agar hasil akhirnya akurat.
Langkah 1: Menghitung Total Saldo di Setiap Akun Buku Besar
Sebelum masuk ke tabel neraca, Anda harus menjumlahkan semua mutasi atau transaksi yang telah diposting ke dalam buku besar selama satu periode. Tahap ini bertujuan untuk mencari “angka sisa” yang akan menjadi saldo akhir.
a. Proses Hitung:
Carilah selisih antara total kolom debit dan total kolom kredit pada masing-masing akun.
b. Penentuan Posisi:
Jika total debit lebih besar, maka akun tersebut memiliki saldo debit. Sebaliknya, jika kredit lebih besar, maka saldo akhirnya adalah kredit.
c. Verifikasi:
Pastikan tidak ada transaksi di jurnal umum yang terlewat atau belum diposting ke buku besar agar angka yang muncul adalah angka yang valid.
Langkah 2: Memasukkan Nama Akun dan Nomornya ke Kolom Neraca Saldo
Langkah berikutnya adalah menyiapkan lembar kerja atau format tabel neraca saldo. Tabel ini harus memiliki empat kolom utama: Nomor Akun, Nama Akun, Debit, dan Kredit.
a. Urutan Standar:
Masukkan daftar akun secara berurutan sesuai kategori akuntansi. Urutan yang benar dimulai dari:
- Aset (1)
- Liabilitas/Utang (2)
- Ekuitas/Modal (3)
- Pendapatan (4),
- hingga Beban (5).
b. Profesionalisme:
Menuliskan nomor akun (kode) sangat penting untuk memudahkan pelacakan jika di kemudian hari ditemukan angka yang tidak sinkron.
c. Kerapihan:
Pastikan penulisan nama akun sesuai dengan yang ada di buku besar agar tidak membingungkan pembaca laporan.
Langkah 3: Memindahkan Saldo Akhir dari Buku Besar
Setelah tabel siap, pindahkan angka saldo akhir yang sudah Anda dapatkan pada Langkah 1 ke kolom debit atau kredit yang sesuai. Di tahap ini, Anda harus memahami rumus neraca saldo berdasarkan saldo normal akun.
a. Kaidah Saldo Normal:
Ingatlah prinsip dasar: Aset dan Beban berada di kolom Debit, sedangkan Utang, Modal, dan Pendapatan berada di kolom Kredit.
b. Ketelitian Input:
Periksa kembali apakah angka yang Anda tulis sudah sesuai. Kesalahan penempatan nol (misalnya 1.000.000 menjadi 100.000) adalah penyebab paling umum kegagalan dalam menyusun laporan ini.
c. Pengecekan Akun Nol:
Jika suatu akun memiliki saldo akhir nol (setelah debit dan kredit dikurangkan), Anda boleh memilih untuk tidak mencantumkannya atau tetap mencantumkannya dengan angka 0.
Langkah 4: Menjumlahkan Total Kolom Debit dan Kredit
Setelah semua akun dan saldonya terinput dengan rapi, saatnya melakukan kalkulasi akhir. Anda harus menjumlahkan seluruh angka di kolom debit dari atas ke bawah, lalu lakukan hal yang sama untuk kolom kredit.
a. Metode Hitung:
Sangat disarankan menggunakan spreadsheet seperti Excel atau aplikasi akuntansi untuk meminimalisir kesalahan hitung manual (kalkulator).
b. Pemisahan Penjumlahan:
Lakukan penjumlahan secara terpisah untuk kolom debit dan kredit. Jangan menggabungkannya di tengah proses.
c. Fokus pada Cakupan Baris Akun:
Pastikan seluruh baris akun, mulai dari baris pertama hingga akun terakhir di bagian beban, sudah tercakup sepenuhnya ke dalam rentang (range) rumus penjumlahan total Anda.
Kesalahan yang sering terjadi adalah adanya satu atau dua baris akun di bagian tengah yang tidak sengaja terlewati atau tidak masuk dalam formula “SUM”, sehingga mengakibatkan laporan terlihat tidak seimbang meskipun angka di buku besar sudah benar.
Langkah 5: Memastikan Hasil Akhirnya Balance (Seimbang)
Inilah tahap yang paling mendebarkan bagi setiap akuntan atau pemilik usaha. Anda harus melihat apakah angka total di bawah kolom debit sama dengan angka di bawah kolom kredit.
a. Indikator Keberhasilan:
Jika total debit = total kredit, maka laporan Anda dinyatakan balance atau seimbang secara matematis.
b. Tindakan Jika Tidak Seimbang:
Jika ada selisih, jangan panik. Periksa kembali pembagian saldo normal pada Langkah 3 atau periksa apakah ada transaksi di buku besar yang salah dijumlahkan.
c. Kaitan dengan Bisnis:
Keseimbangan dalam neraca saldo merupakan sebuah bukti bahwa administrasi keuangan bisnis Anda dikelola dengan disiplin.
Laporan yang seimbang memberikan kepercayaan diri bagi Anda saat harus menunjukkan kondisi finansial kepada mitra bisnis, bank untuk pengajuan kredit, atau investor.
Dengan data yang akurat, Anda dapat mengambil keputusan strategis seperti penambahan karyawan atau ekspansi kantor berdasarkan fondasi keuangan yang nyata.
KantorKu HRIS bantu kelola absensi, payroll, cuti, slip gaji, dan BPJS dalam satu aplikasi.
Mengapa Neraca Saldo Tidak Seimbang?
Sering kali, meskipun Anda sudah merasa sangat teliti, hasil contoh neraca saldo yang dibuat tetap tidak menunjukkan angka yang sama antara sisi kiri dan kanan. Hal ini merupakan fenomena yang lumrah dalam akuntansi manual.
Kelelahan ini sering menyerang HRD atau staf keuangan yang harus menginput data absensi, lembur, dan transaksi harian secara bersamaan.
Berikut adalah rincian faktor penyebabnya:
1. Kesalahan Memindahkan Angka (Transposisi dan Slide Error)
Human error adalah bentuk kesalahan yang paling sering terjadi. Kesalahan ini terbagi menjadi dua jenis teknis: transposisi (angka tertukar posisi) dan slide (salah meletakkan titik desimal).
Contoh:
- Seharusnya Anda menuliskan Rp500.000, namun tertulis Rp50.000 (kekurangan nol).
Contoh:
- Angka di buku besar adalah Rp450.000, tapi dipindahkan ke neraca saldo sebagai Rp540.000 (angka 4 dan 5 tertukar).
Solusi:
Lakukan pengecekan ulang dengan cara menghitung selisih antara debit dan kredit. Jika selisihnya habis dibagi 9, biasanya terjadi kesalahan transposisi angka.
Baca Juga: 7 Kesalahan Umum Hitung Pajak di Payroll & Cara Menghindarinya!
2. Salah Meletakkan Kolom Saldo Normal
Setiap akun memiliki “rumah” aslinya masing-masing. Terkadang, karena terburu-buru, saldo yang seharusnya berada di sisi kredit justru dimasukkan ke sisi debit, atau sebaliknya.
Kesalahan ini akan mengakibatkan selisih sebesar dua kali lipat dari nilai akun yang salah letak tersebut.
Selalu pastikan Anda merujuk pada kaidah saldo normal. Kaidah saldo yang dimaksud yaitu:
- Aset/Beban di Debit
- Utang/Modal/Pendapatan di Kredit.
Contoh:
Saldo “Utang Usaha” sebesar Rp2.000.000 yang seharusnya di Kredit, justru Anda tulis di kolom Debit. Ini akan membuat kolom debit lebih besar Rp4.000.000 dari yang seharusnya.
3. Transaksi yang Belum Terposting ke Buku Besar
Terkadang, proses pencatatan berhenti di Jurnal Umum dan lupa dipindahkan (posting) ke Buku Besar. Jika saldo di buku besar tidak mencerminkan transaksi terbaru, maka otomatis neraca saldo Anda akan pincang.
- Hal ini sering terjadi pada transaksi yang dilakukan mendekati akhir periode penutupan buku.
- Pastikan setiap entri jurnal memiliki tanda “Post Ref” atau referensi posting yang jelas untuk menandakan bahwa data sudah berpindah ke buku besar.
- Periksa apakah ada lembaran jurnal yang terselip atau belum dijumlahkan.
4. Kesalahan Hitung di Dalam Buku Besar Itu Sendiri
Sebelum dipindahkan ke neraca saldo, Anda harus menjumlahkan seluruh mutasi di buku besar. Jika rumus penjumlahan di buku besar salah, maka angka saldo akhirnya pun akan salah.
Disarankan untuk menggunakan alat bantu hitung digital guna menghindari human error pada tahap kalkulasi ini.
Kesalahan Matematis:
- Salah menjumlahkan kolom debit atau kredit di dalam akun buku besar individu.
Kesalahan Saldo Awal:
- Lupa memasukkan saldo sisa dari periode bulan sebelumnya ke dalam perhitungan bulan berjalan.
5. Pencatatan Ganda (Double Entry Error)
Meskipun jarang menyebabkan ketidakseimbangan jika dilakukan secara simetris, pencatatan satu sisi transaksi sebanyak dua kali akan membuat neraca saldo tidak akurat secara nilai total, meskipun angka debit dan kreditnya terlihat sama (balance tapi salah).
- Namun, jika Anda hanya melakukan double entry pada satu sisi (misal debit dicatat dua kali, kredit hanya sekali), maka laporan akan langsung tidak seimbang.
- Verifikasi setiap bukti transaksi (invoice atau kuitansi) untuk memastikan tidak ada nomor referensi ganda.
Baca Juga: 10 Aplikasi Gaji Terbaik di Indonesia Tahun 2026
Proses HR yang Berbelit Bikin Fokus Keuangan Terganggu? Saatnya Pakai KantorKu HRIS!
Pusing karena sulit menyeimbangkan neraca saldo atau merasa waktu Anda habis hanya untuk mengurus administrasi SDM yang berantakan?
Sebagai pemilik usaha atau HRD, fokus Anda seharusnya pada pertumbuhan bisnis, bukan terjebak dalam tumpukan kertas absensi dan perhitungan manual yang rawan salah.

Jika Anda membutuhkan aplikasi HRIS yang mempermudah pekerjaan HR, maka Anda sudah berada di tempat yang tepat.
Saatnya gunakan KantorKu HRIS! Sistem yang bisa membantu Anda untuk mengelola absensi, KPI, hingga payroll secara otomatis dan akurat.
Kini, sudah saatnya Anda beralih ke aplikasi HRIS ketika terbesit untuk beralih ke sistem HR yang lebih modern dari cara manual yang melelahkan.
Kunjungi KantorKu HRIS sekarang dan temukan bagaimana teknologi dapat memberikan ketenangan dalam mengelola administrasi bisnis Anda!
Apakah Anda ingin kami bantu untuk menjadwalkan free trial secara lebih mudah? Yuk, dapatkan demo gratis hari ini!
KantorKu HRIS bantu kelola absensi, payroll, cuti, slip gaji, dan BPJS dalam satu aplikasi.
Sumber:
Enerpize. What Is a Trial Balance: A Comprehensive Guide.
Related Articles
Mengenal Pentingnya Laporan Laba Rugi bagi Bisnis dan Contohnya
Neraca Keuangan: Pengertian, Jenis, Komponen & Contohnya!