8 Tahapan Go Live HRIS, Panduan dari Data Cleansing hingga Hyper-Care

Pahami tahapan go live HRIS, mulai dari data cleansing hingga masa hyper-care. Cek juga estimasi waktu, risiko, dan tips agar lancar!

KantorKu HRIS
Ditulis oleh
KantorKu HRIS • 05 Maret 2026
Key Takeaways
Go live HRIS adalah momen resmi sistem SDM baru mulai digunakan untuk operasional harian.
Persiapan go live bisa memakan waktu 4–12 minggu, sementara peluncuran aktif hanya 1–3 hari.
Data cleansing wajib dilakukan untuk mencegah error payroll dan laporan setelah sistem aktif.
Checklist final sebelum go live harus mencakup validasi data, akses login, dan kesiapan server.
Risiko utama saat go live meliputi salah hitung gaji, sistem lambat, dan data tidak konsisten.

Mempersiapkan sistem baru bagi karyawan memerlukan strategi yang tepat agar operasional perusahaan tidak terganggu saat transisi dilakukan.

Anda perlu memahami bahwa untuk melakukan go live HRIS, Anda perlu berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk tim IT.

Dalam fase ini, semua data dan proses yang telah diuji akan mulai digunakan operasional sehari-hari, seperti penggajian hingga persetujuan cuti.

Mari pahami lebih dalam mengenai proses ini agar implementasi teknologi di perusahaan Anda berjalan mulus tanpa kendala!

Apa Itu Go Live HRIS?

Go live HRIS adalah titik di mana sistem manajemen SDM yang baru resmi tersedia dan mulai digunakan oleh seluruh anggota organisasi. 

Secara teknis, go live bekerja dengan mengaktifkan seluruh modul yang telah dikonfigurasi, seperti absensi, payroll, dan database, sehingga karyawan bisa mulai melakukan self-service

Durasi proses go live itu sendiri biasanya memakan waktu beberapa hari hingga satu minggu untuk pemindahan akhir, tetapi persiapannya sendiri bisa memakan waktu 4 hingga 12 minggu. 

Proses ini dilakukan secara kolaboratif oleh tim HR, tim IT, dan pihak vendor sebagai penyedia sistem. 

Agar siap untuk Go Live, beberapa hal yang perlu disiapkan meliputi:

  • Data karyawan yang tervalidasi.
  • Hak akses pengguna sesuai peran masing-masing.
  • Kesiapan tim support untuk menjawab kendala pengguna di minggu pertama.
  • Konfirmasi kesiapan sistem penggajian agar tidak ada keterlambatan pembayaran.
Banner KantorKu HRIS
Pakai KantorKu HRIS Sekarang!

KantorKu HRIS bantu kelola absensi, payroll, cuti, slip gaji, dan BPJS dalam satu aplikasi.

Mengapa Tahapan Go Live HRIS Penting bagi HRD?

HRD perlu tahu setiap tahapan dalam proses ini agar dapat menyiapkan segala kebutuhan, estimasi waktu penyelesaian proyek, dan menyiapkan rencana cadangan jika terjadi kendala. 

Memahami tahapan ini memastikan transisi dari sistem manual ke digital tidak menciptakan kekacauan operasional.

Mari pahami beberapa alasan mengapa tahapan ini perlu dilakukan:

  1. Memastikan waktu dan perhitungan payroll selama masa transisi agar hak karyawan tidak terlambat.
  2. Menghindari risiko data yang “kotor” atau salah format masuk ke sistem produksi yang bisa merusak laporan kepemimpinan.
  3. Dengan tahapan yang jelas, karyawan menjadi tidak bingung saat pertama kali menggunakan sistem baru.
  4. Menjamin bahwa sistem HR baru bisa terhubung dengan lancar ke sistem pihak ketiga lainnya tanpa error.
  5. Membantu HR mengetahui kapan bantuan intensif dari vendor berakhir dan kapan tim internal harus mulai mandiri.

Baca Juga: 25+ Rekomendasi Aplikasi HRIS Terbaik di Indonesia

Gambaran Umum Timeline Implementasi HRIS

Mari lihat gambaran umum atau timeline implementasi HRIS bagi Anda yang sebelumnya masih menggunakan sistem manual seperti pencatatan Excel atau formulir kertas:

Tahapan Estimasi Waktu Tujuan Utama
Tahap 1: Perencanaan & Kick-Off 1–2 Minggu Menentukan ruang lingkup proyek dan pembentukan tim lintas divisi.
Tahap 2: Data Cleansing & Preparation 2–4 Minggu Membersihkan data lama dan menyeragamkan format agar siap masuk sistem.
Tahap 3: System Configuration 3–5 Minggu Mengatur kebijakan perusahaan, rumus gaji, dan struktur organisasi di sistem.
Tahap 4: Data Migration 1–2 Minggu Memindahkan seluruh data master karyawan ke dalam sistem HRIS.
Tahap 5: User Acceptance Test (UAT) 2–3 Minggu Menguji seluruh proses dari ujung ke ujung untuk menemukan dan memperbaiki bug.
Tahap 6: Training & Change Mgmt 2–3 Minggu Sosialisasi dan pelatihan cara penggunaan sistem kepada semua karyawan.
Tahap 7: Go Live HRIS 1–3 Hari Peluncuran resmi sistem untuk penggunaan operasional harian.
Tahap 8: Hyper-Care Support 2–4 Minggu Pendampingan intensif pasca peluncuran untuk menangani keluhan awal.

Tahap 1: Perencanaan dan Kick-Off Project

Ini adalah tahap awal untuk menyatukan persepsi antara manajemen perusahaan dan pihak penyedia sistem. 

Tujuannya agar pengerjaan proyek memiliki alur yang jelas, tanggung jawab yang terbagi rata, dan target yang terukur. Tahapannya terbagi menjadi:

1. Penentuan Scope dan Modul HRIS

Scope atau ruang lingkup adalah batasan fitur yang akan dipasang dalam sistem. Perusahaan harus menentukan modul mana saja yang menjadi prioritas untuk dijalankan terlebih dahulu.

Misalnya, perusahaan memutuskan hanya menggunakan modul Absensi dan Payroll terlebih dahulu. 

Modul lain seperti “Rekrutmen” atau “Manajemen Kinerja” ditunda pengerjaannya sampai sistem absensi stabil.

2. Pembentukan Project Team (HR, IT, Finance, Vendor)

Proses go live HRIS tidak bisa dikerjakan oleh satu orang saja. Perlu ada tim khusus yang terdiri dari HR, IT, vendor dan finance agar sistem yang dibuat bisa mengakomodasi kepentingan semua departemen.

  • Divisi HR: Bertanggung jawab atas validasi data karyawan dan kebijakan aturan kerja.
  • Divisi IT: Memastikan kesiapan infrastruktur internet, keamanan data, dan perangkat pendukung.
  • Divisi Finance: Memastikan perhitungan gaji, pajak, dan bonus di dalam sistem sudah sesuai dengan anggaran dan aturan keuangan.
  • Vendor: Bertindak sebagai penyedia teknologi yang membantu mengatur pengaturan sistem sesuai permintaan perusahaan.

3. Penyusunan Timeline dan Milestone

Agar pengerjaan proyek tidak terbengkalai, tim harus membuat jadwal kerja yang rinci. Milestone adalah target yang harus dicapai dalam periode tertentu sebelum lanjut ke tahap berikutnya.

Jadi, buatlah jadwal mulai dari pengerjaan awal hingga target sistem mulai digunakan secara resmi.

Misalnya,

  • Minggu ke-2: Seluruh data karyawan sudah selesai diverifikasi.
  • Minggu ke-4: Rumus gaji dan BPJS sudah selesai dimasukkan ke sistem.
  • Minggu ke-8: Sistem mulai dibuka untuk seluruh karyawan (Go Live).

Tahap 2: Data Cleansing dan Data Preparation

Tahap ini adalah fase “bersih-bersih”. Tujuannya agar sistem baru tidak mengalami error atau salah hitung karena data yang berantakan dari Excel lama.

1. Audit dan Validasi Data Karyawan

Tahap ini memastikan hanya data orang yang benar-benar masih bekerja yang dimasukkan ke sistem. Adapun tugas yang harus dilakukan mencakup:

  • Hapus Data Lama: Sisir database dan hapus nama karyawan yang sudah resign agar tidak memakan kuota lisensi sistem.
  • Cek Duplikasi: Pastikan tidak ada satu orang yang memiliki dua nomor induk (NIK) yang berbeda.
  • Verifikasi Data Wajib: Pastikan setiap orang sudah punya NIK, NPWP, dan nomor rekening yang benar.

2. Standarisasi Format Data

Tahapan berikutnya yaitu menyeragamkan cara penulisan agar sistem bisa membaca data secara otomatis tanpa bingung. Pada tahap ini, Anda perlu melakukan:

  • Seragamkan Tanggal: Ubah semua format tanggal lahir dan tanggal masuk kerja menjadi satu jenis, misalnya menjadi DD/MM/YYYY.
  • Normalisasi Teks: Pastikan penulisan nama tidak ada yang menggunakan simbol aneh atau huruf kecil semua.
  • Gunakan Kode Seragam: Jika di Excel lama tertulis “Pria” dan “Laki-laki”, ubah semuanya menjadi satu kode tetap, misalnya “L”.

3. Mapping Struktur Organisasi dan Payroll

Selanjutnya lakukan mapping struktur organisasi dan payroll. Tujuannya untuk mengelompokkan karyawan sesuai jabatan dan cara mereka dibayar. Di sini, terdapat beberapa tugas yang perlu dilakukan yaitu:

  • Mapping Atasan (Superior): Tentukan setiap karyawan melapor ke siapa agar alur persetujuan cuti di aplikasi otomatis terbentuk.
  • Grup Kelompok Gaji: Pisahkan siapa yang gajinya bulanan, harian, atau yang memiliki skema lembur khusus.

Contoh kasusnya, menentukan bahwa tim Sales diletakkan di bawah Manager Sales, sehingga jika mereka absen lewat aplikasi, Manager tersebut yang mendapatkan notifikasinya.

4. Backup dan Keamanan Data

Sebelum data diunggah ke sistem HRIS, Anda wajib melakukan pencadangan data untuk mengantisipasi risiko kehilangan data selama proses migrasi. Berikut yang perlu dilakukan:

  • Pencadangan File Master: Menyimpan salinan terakhir dari Excel yang sudah bersih ke dalam penyimpanan sekunder yang aman dan terenkripsi.
  • Protokol Privasi: Membatasi akses terhadap file migrasi ini hanya kepada personel kunci (seperti Manajer HR) guna mencegah kebocoran data sensitif karyawan.

Tahap 3: System Configuration dan Customization

Tahap ini adalah tahapan untuk menyetel “otak” sistem agar bekerja sesuai dengan aturan dan kebijakan unik di perusahaan Anda. Pada tahap ini terbagi menjadi alur berikut:

1. Setup Struktur Organisasi

HR perlu melakukan struktur organisasi kantor secara digital, mulai dari memasukkan daftar divisi seperti Marketing, Finance, IT, hingga Operasional.

Lalu, melakukan positioning untuk memasukkan setiap jabatan ke departemennya masing-masing agar laporan organisasi terlihat rapi.

2. Pengaturan Role & Access

Bagian ini bertujuan mengatur siapa saja yang boleh melihat data sensitif dan siapa yang hanya boleh absen. 

Tugas yang harus dilakukan yaitu dengan menentukan staf HR yang bisa melihat semua data gaji dan staf IT yang hanya bisa mengurus kendala teknis.

Lalu, atur agar karyawan biasa hanya bisa melihat data pribadi dan slip gajinya sendiri tanpa bisa melihat gaji rekan kerjanya.

3. Konfigurasi Payroll, Pajak, dan BPJS

Penjelasannya yaitu memasukkan rumus hitungan uang agar gaji tidak perlu dihitung manual lagi setiap bulan. Di sini, Anda perlu mengatur:

  • Rumus Lembur: Masukkan aturan lembur perusahaan (misal: berapa rupiah per jam).
  • Aturan Pajak: Masukkan metode PPh 21 (Nett, Gross, atau Gross Up) agar potongan pajak otomatis akurat.
  • Aturan BPJS: Masukkan persentase iuran BPJS sesuai aturan pemerintah agar sistem otomatis memotong gaji setiap bulan.

4. Setting Kebijakan Cuti dan Absensi

Tahapan ini berfungsi untuk mendigitalisasi aturan waktu kerja agar karyawan tetap disiplin jam kerja dan kuota istirahat mereka terjaga dengan baik. 

HR pun tidak perlu lagi melakukan rekapitulasi manual saat ada karyawan yang mengambil cuti atau izin. Hal yang perlu dilakukan yaitu:

  • Manajemen Jatah Cuti: Memasukkan berbagai jenis cuti (tahunan, melahirkan, atau sakit) beserta jumlah kuota dan aturan hangusnya jatah tersebut.
  • Konfigurasi Jadwal Kerja & Shift: Mengatur jam masuk dan pulang kantor, toleransi keterlambatan, serta skema shift bagi divisi yang bekerja secara bergantian (seperti operasional atau security).
Banner KantorKu HRIS
Pakai KantorKu HRIS Sekarang!

KantorKu HRIS bantu kelola absensi, payroll, cuti, slip gaji, dan BPJS dalam satu aplikasi.

Tahap 4: Data Migration

Tahapan go live HRIS berikutnya bisa dibilang seperti “pindah rumah”. Data yang sudah rapi (Tahap 2) akan dimasukkan ke dalam sistem yang sudah disetel (Tahap 3). Di sini, Anda perlu:

1. Import Data Master Karyawan

Dimulai dari Memindahkan data dari Excel ke dalam aplikasi secara massal agar tidak perlu mengetik satu per satu. 

Data karyawan perlu diunggah menggunakan template yang sudah disediakan vendor. Lalu lanjut dengan input dokumen seperti hasil scan KTP/Kontrak jika diperlukan agar database lengkap.

2. Validasi Hasil Migrasi

Setelah melakukan import data, lakukan lagi pengecekan ulang untuk memastikan tidak ada data yang tertukar atau hilang saat proses pindah.

Misalnya jika di Excel ada 100 karyawan, pastikan di dasbor aplikasi juga muncul 100 karyawan.

Lalu lakukan spot check, yaitu dengan pilih 5 nama secara acak, buka profilnya, dan pastikan nomor rekening serta gaji mereka sudah sesuai dengan data asli.

3. Trial Data Testing

Lakukan uji coba skala kecil untuk melihat apakah sistem HRIS Anda sudah menghasilkan angka yang benar. 

Coba jalankan simulasi gajian untuk 1 tim kecil, lalu bandingkan hasilnya dengan hitungan manual bulan lalu.

Bisa juga coba masukkan data “Terlambat” pada satu akun karyawan, lalu lihat apakah sistem otomatis memotong gajinya sesuai aturan yang Anda masukkan di Tahap 3.

Tahap 5: User Acceptance Test (UAT)

Tahap ini merupakan fase uji coba kelayakan di mana tim HR dan perwakilan divisi menguji sistem secara menyeluruh untuk memastikan tidak ada kesalahan hitung atau fungsi yang rusak sebelum dibuka untuk umum.

1. Simulasi Proses HR End-to-End

Proses ini bertujuan menguji seluruh alur kerja dari awal sampai akhir seperti operasional sungguhan di kantor agar tidak ada tahapan yang terputus. Biasanya beberapa simulasi yang diuji yaitu:

  • Skenario Karyawan Baru: Mencoba memasukkan data karyawan baru dan memastikan nama mereka otomatis muncul di daftar absensi serta terdaftar di payroll.
  • Skenario Resign: Mengetes proses penonaktifan karyawan untuk memastikan gajinya otomatis berhenti dan sisa cutinya terhitung dengan benar.
  • Alur Persetujuan: Melakukan pengujian pengajuan cuti dari akun staf dan memverifikasi apakah notifikasi masuk ke akun manajer yang tepat secara real-time.

2. Testing Payroll dan Absensi

Ini adalah bagian paling krusial karena berkaitan dengan hak finansial karyawan, sehingga angka yang keluar dari sistem harus 100% akurat dari perhitungan manual.

Beberapa testing yang dilakukan mencakup:

  • Parallel Run: Menghitung gaji bulan berjalan menggunakan Excel dan sistem baru secara bersamaan, lalu membandingkan hasilnya hingga tidak ada selisih satu rupiah pun.
  • Tes Parameter Pajak & BPJS: Memastikan logika pemotongan PPh 21 dan iuran BPJS sudah sesuai dengan regulasi pemerintah terbaru.
  • Tes Integrasi Presensi: Mencoba melakukan absensi lewat HP atau mesin fingerprint untuk mengecek apakah data keterlambatan langsung memotong komponen gaji secara otomatis.

3. Identifikasi dan Perbaikan Bug

Selama pengetesan, tim akan mencatat semua kendala teknis atau error yang ditemukan untuk segera diperbaiki oleh tim pengembang atau vendor. 

Sebaiknya buat Bug Log yang berisi daftar kendala, seperti tombol yang tidak berfungsi atau laporan yang tidak bisa diunduh, untuk dilaporkan ke pihak teknis.

Lalu lakukan uji coba ulang pada fitur yang sebelumnya rusak untuk memastikan perbaikan sudah sempurna dan tidak merusak fitur lainnya.

Tahap 6: Training dan Change Management

Sistem yang canggih tidak akan berguna jika penggunaanya tidak paham cara mengoperasikannya. 

Tahap ini bertujuan untuk mengedukasi agar transisi dari cara lama ke cara baru berjalan tanpa hambatan.

1. Training HR Admin

Tim HR diberikan pelatihan intensif karena mereka adalah pemegang kendali yang harus mengelola data dan sistem setiap harinya.

HR admin perlu mempelajari cara mengedit data master, membatalkan transaksi yang salah, dan menarik laporan bulanan untuk kebutuhan manajemen.

Bahkan, bekali juga tim HR dengan pengetahuan teknis dasar agar mereka bisa menjadi pusat bantuan bagi karyawan yang mengalami kendala.

2. Training Karyawan (ESS – Employee Self Service)

Fokus pada tahap ini adalah memastikan semua karyawan bisa menggunakan aplikasi di HP atau laptop mereka untuk urusan administrasi mandiri.

Anda bisa:

  • Membuat materi edukasi sederhana berupa PDF atau video tutorial singkat mengenai cara absen dan cara melihat slip gaji.
  • Mengadakan pertemuan atau webinar untuk mendemonstrasikan langkah-langkah penggunaan aplikasi.

3. Komunikasi Internal Go Live

Tahap ini berfungsi untuk mengelola ekspektasi karyawan dan mengumumkan kapan sistem baru resmi diberlakukan sepenuhnya.

Informasikan juga kontak bantuan yang bisa dihubungi jika karyawan mengalami kesulitan akses pada hari-hari pertama penggunaan.

Baca Juga: 10 Rekomendasi Aplikasi Software HRIS untuk Enterprise, Lokal & Global! 

Tahap 7: Go Live HRIS

Ini adalah momen penentu di mana sistem lama resmi dihentikan dan sistem HRIS baru mulai digunakan untuk operasional harian perusahaan.

1. Checklist Sebelum Go Live

Sebelum menekan tombol aktif, tim HR harus memastikan seluruh persiapan teknis dan administratif sudah benar-benar selesai agar tidak ada proses yang terhambat.

Di sini, Anda perlu melakukan pengecekan terakhir pada data master karyawan untuk memastikan tidak ada perubahan mendadak.

Selanjutnya pastikan seluruh akun karyawan sudah terdaftar telah menerima email aktivasi atau detail login masing-masing.

2. Monitoring Hari Pertama Go Live

Tim proyek harus bersiaga penuh di hari pertama go live untuk memantau aktivitas pengguna dan memastikan sistem berjalan lancar di bawah beban kerja.

Anda perlu mengawasi apakah proses absen masuk di jam-jam sibuk berjalan lancar tanpa ada kendala server.

Jika memungkinkan, kamu menyediakan tim khusus di kantor yang bisa langsung didatangi karyawan kalau mereka bingung saat pertama kali mencoba sistem.

3. Mitigasi Risiko

Meskipun persiapan sudah matang, tim harus selalu memiliki rencana cadangan untuk mengatasi situasi darurat yang mungkin muncul secara tiba-tiba.

Tahap 8: Hyper-Care dan Post Go Live Support

Setelah peluncuran berhasil, perusahaan memasuki masa pendampingan intensif (Hyper-Care) untuk memastikan sistem tetap stabil dan pengguna semakin mahir menggunakannya.

1. Pendampingan Intensif dari Vendor

Selama beberapa minggu pertama gajian, pihak vendor biasanya akan memberikan pengawasan ekstra untuk membantu HR menangani kasus-kasus khusus yang baru muncul.

Vendor perlu memberikan jalur komunikasi agar setiap kendala yang ditemukan pasca-peluncuran mendapatkan penanganan paling cepat.

2. Monitoring Error dan Issue

Tim HR mengumpulkan semua laporan kendala yang dialami karyawan untuk dianalisis dan diperbaiki secara permanen.

Catat jenis kendala yang sering muncul, misalnya gagal GPS atau salah hitung potongan pajak tertentu.

Lalu lakukan penyelesaian masalah berdasarkan skala prioritas, dahulukan hal yang berkaitan dengan payroll dibandingkan tampilan menu.

3. Evaluasi Performa Sistem

Setelah satu bulan berjalan, dilakukan penilaian untuk melihat apakah sistem HRIS ini benar-benar memberikan efisiensi yang diharapkan.

4. Feedback User

Dengarkan pengalaman karyawan dan manajer selama menggunakan sistem adalah cara terbaik untuk meningkatkan kenyamanan penggunaan di masa depan.

Minta masukan dari karyawan mengenai kemudahan fitur self-service (ESS) di aplikasi mereka. Jika ada, catat ide atau fitur yang diinginkan karyawan untuk pengembangan sistem.

Risiko yang Sering Terjadi Saat Go Live HRIS

Saat momen peluncuran tiba, sangat mungkin terjadi beberapa risiko atau masalah yang tidak terduga. 

Anda perlu mengetahui risiko ini sejak dini agar bisa dicegah atau setidaknya tahu cara mengatasinya:

1. Perlawanan Karyawan terhadap Perubahan

Karyawan mungkin enggan menggunakan sistem baru karena merasa lebih nyaman dengan cara lama atau merasa sistem baru terlalu rumit. 

Cara Mengatasi: Lakukan change management dengan menjelaskan manfaat sistem dan sediakan saluran feedback yang terbuka.

2. Kesalahan Perhitungan Payroll

Munculnya perbedaan nominal gaji atau pajak akibat konfigurasi rumus yang belum sempurna di lingkungan produksi. 

Cara Mengatasi: Lakukan audit data secara berkala di awal peluncuran dan siapkan tim audit khusus untuk menangani komplain gaji secara cepat.

3. Kehilangan Karyawan Kunci

Keluarnya staf HR yang memahami seluk-beluk sistem baru tepat setelah go live dapat menghambat penyelesaian masalah internal. 

Cara Mengatasi: Pastikan ada transfer pengetahuan yang terdokumentasi dengan baik dan libatkan lebih dari satu admin sistem.

4. Kinerja Sistem yang Lambat

Sistem mendadak down atau lambat saat diakses oleh ribuan karyawan secara bersamaan pada hari pertama. 

Cara Mengatasi: Validasi kapasitas server dengan vendor dan pastikan tersedia akses via mobile yang lebih ringan.

5. Data Inskonsisten 

Data yang masuk ternyata masih berantakan karena proses pembersihan data di awal kurang maksimal. 

Cara Mengatasi: Lakukan audit data lebih awal dan sesering mungkin, serta jangan ragu menunda go live jika data belum benar-benar “bersih”.

Baca Juga: Sistem HRIS: Pengertian, Fungsi, Fitur, dan Contoh

FAQ Seputar Go Live HRIS

Terdapat beberapa pertanyaan yang sering diajukan saat mempersiapkan transisi sistem ke digital. Mari simak jawabannya di bawah ini:

1. Berapa lama idealnya masa hyper-care dilakukan? 

Masa hyper-care idealnya berlangsung selama satu siklus penggajian penuh, atau sekitar 2 hingga 4 minggu setelah sistem diluncurkan. Tujuannua untuk memastikan semua modul, terutama payroll, sudah berjalan stabil.

2. Apakah go live bisa dilakukan secara bertahap? 

Ya, Anda bisa memilih strategi phased rollout dengan mengaktifkan modul penting dulu seperti absensi. Modul yang lebih kompleks seperti penilaian kinerja bisa menyusul setelah karyawan terbiasa.

3. Siapa yang harus mengambil keputusan “go” atau “no-go”? 

Keputusan ini diambil melalui rapat antara pimpinan departemen terkait. Mereka harus memastikan tidak ada bug kritikal yang masih tersisa di tahap pengujian.

4. Apa yang harus dilakukan jika terjadi eror saat gajian pertama di sistem baru? 

Segera aktifkan rencana cadangan yang telah disiapkan sebelumnya. Tim hyper-care harus memprioritaskan perbaikan rumus payroll agar distribusi gaji tidak tertunda lebih lama.

5. Bagaimana cara memastikan semua karyawan sudah bisa login

Tim HR perlu melakukan pemantauan statistik akses pada hari pertama peluncuran. Gunakan pengumuman internal untuk mengingatkan karyawan melakukan aktivasi akun secara serentak.

Dapatkan Pendampingan Account Manager Personal untuk Go Live dengan KantorKu HRIS!

Proses go live bisa sangat membingungkan, apalagi jika dilakukan oleh tim non-teknis tanpa panduan yang tepat. 

Kabar baiknya, Anda bisa mendapatkan dukungan Account Manager personal jika menggunakan KantorKu HRIS.

KantorKu HRIS menyediakan Account Manager khusus untuk mendampingi Anda go live dari awal perencanaan sampai sistem benar-benar siap pakai untuk karyawan Anda. 

Dashboard Utama KantorKu HRIS

Tidak heran, kini KantorKu HRIS telah digunakan oleh 5.000+ perusahaan, termasuk Tzu Chi Hospital, Pertamina, dan English 1.

Terdapat beberapa modul HR unggulan yang bisa Anda dapatkan, yaitu:

  1. ATS/Recruitment: Dilengkapi integrasi LinkedIn dan screening berbasis AI untuk mengotomatisasi pencarian talenta.
  2. Organization & Self Service: Data karyawan terpusat di satu server cloud dan terintegrasi dengan modul-modul lainnya.
  3. Shift & Attendance: Pantau kehadiran melalui GPS atau sidik jari serta pengelolaan lembur yang terintegrasi payroll.
  4. Payroll, Tax, BPJS: Perhitungan gaji otomatis beserta pajak, BPJS dan terintegrasi dengan data absensi.
  5. Reimburse: Sistem klaim biaya yang mandiri dengan pelacakan anggaran dan alur approval yang fleksibel.
  6. OKR & KPI: Monitor progres kinerja tim dengan fitur pengingat dalam aplikasi.
  7. Appraisal/360: Lakukan evaluasi kinerja menyeluruh dengan formulir khusus dan matriks 9-kotak.
  8. Analytics: Dapatkan statistik kehadiran, lembur, hingga performa karyawan dalam satu dasbor visual.

Ingin mendapatkan dukungan Account Manager untuk sukseskan tahapan go live HRIS di perusahaan Anda? 

Book demo gratis sekarang agar Anda bisa segera dihubungkan dengan personel ahli kami yang siap membantu!

Banner KantorKu HRIS
Pakai KantorKu HRIS Sekarang!

KantorKu HRIS bantu kelola absensi, payroll, cuti, slip gaji, dan BPJS dalam satu aplikasi.

Bagikan

Related Articles

Cara Lapor SPT Tahunan 2026 di Coretax untuk WP Pribadi, Mudah!

Pahami cara lapor SPT Tahunan Nihil di Coretax 2026. Panduan ini membahas dari login, tarik data bukti potong, hingga aktivasi Passphrase!
05 Maret 2026

30+ Cara Nego Gaji via WA, Email & Langsung, Ini Contoh Kalimatnya!

Panduan cara nego gaji yang sopan setelah offering letter melalui WhatsApp, email atau langsung. Lengkap dengan draf email dan contoh kalimatnya.
05 Maret 2026

Berapa Jumlah Tanggungan Pajak yang Bisa Diklaim? Cek Aturannya!

Jumlah tanggungan adalah penentu besarnya potongan PPh 21. Pahami aturan, batasan tanggungan, pihak yang termasuk dan cara validasi datanya!
05 Maret 2026