10 Template Checklist Maintenance Mesin, Gedung, & Alat [Gratis Download]
Kumpulan template checklist maintenance gedung, mesin, alat, kendaraan, dan lainnya. Tersedia template word dan PDF siap unduh secara gratis.
Table of Contents
- Pentingnya Checklist Maintenance dalam Perusahaan
- Jenis-Jenis Checklist Maintenance
- Struktur Template Checklist Maintenance
- Komponen dalam Template Checklist Maintenance
- Cara Membuat Template Checklist Maintenance
- 10 Contoh Template Checklist Maintenance
- Download Contoh Template Checklist Maintenance
- Kelola KPI/OKR Lebih Praktis & Terpantau lewat KantorKu HRIS!
Table of Contents
- Pentingnya Checklist Maintenance dalam Perusahaan
- Jenis-Jenis Checklist Maintenance
- Struktur Template Checklist Maintenance
- Komponen dalam Template Checklist Maintenance
- Cara Membuat Template Checklist Maintenance
- 10 Contoh Template Checklist Maintenance
- Download Contoh Template Checklist Maintenance
- Kelola KPI/OKR Lebih Praktis & Terpantau lewat KantorKu HRIS!
Template checklist maintenance dibutuhkan perusahaan agar proses perawatan aset, fasilitas, hingga perangkat kerja dapat dilakukan secara lebih teratur.
Tanpa adanya checklist, aktivitas maintenance sering bergantung pada ingatan teknisi atau kebiasaan masing-masing tim, sehingga ada risiko pemeriksaan yang terlewat.
Checklist maintenance juga membantu perusahaan menjaga operasional tetap aman, efisien, dan terdokumentasi.
Selain checklist maintenance, perusahaan juga perlu dukungan aplikasi database karyawan perusahaan agar dokumen kerja tersimpan lebih rapi.
Melalui artikel ini, Anda akan memahami pentingnya checklist maintenance, jenis-jenisnya, struktur, komponen, hingga cara membuatnya yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan!
Pentingnya Checklist Maintenance dalam Perusahaan

Checklist maintenance berfungsi sebagai panduan kerja agar proses pemeriksaan dan perawatan dilakukan secara konsisten.
Checklist maintenance membantu mengurangi downtime dan meningkatkan keselamatan kerja. Adapun beberapa alasan mengapa checklist maintenance perlu digunakan:
1. Mengurangi Risiko Kerusakan Mendadak
Checklist maintenance membantu teknisi menemukan tanda-tanda awal kerusakan sebelum menjadi masalah besar.
Misalnya, suara mesin yang tidak biasa, kebocoran kecil, kabel yang mulai rusak, atau getaran berlebih pada alat kerja.
2. Membuat Proses Maintenance Lebih Konsisten
Tanpa checklist, setiap teknisi bisa memiliki cara pemeriksaan yang berbeda. Akibatnya, kualitas maintenance menjadi tidak seragam.
Dengan checklist, semua teknisi mengikuti SOP yang sama. Checklist juga membantu karyawan baru memahami standar kerja perusahaan.
Konsistensi kerja teknisi juga dapat dievaluasi lebih objektif melalui aplikasi penilaian kinerja pegawai, terutama jika perusahaan memiliki target maintenance dan standar tertentu.
3. Meningkatkan Keselamatan Kerja
Checklist membantu perusahaan memeriksa komponen penting seperti rem, tombol darurat, kabel listrik, APAR, alarm, jalur evakuasi, hingga alat pelindung diri.
Jika aspek keselamatan tidak diperiksa secara rutin, risiko kecelakaan kerja bisa meningkat. Hal ini tentu dapat merugikan karyawan dan perusahaan.
4. Membantu Efisiensi Biaya Operasional
Perawatan rutin lebih hemat dibandingkan perbaikan setelah aset rusak parah. Dengan checklist maintenance, perusahaan bisa mengetahui kapan suatu komponen perlu dibersihkan, dilumasi, disetel ulang, atau diganti.
Perawatan yang terjadwal juga membantu perusahaan menghindari biaya darurat yang biasanya lebih mahal.
5. Memudahkan Dokumentasi dan Audit
Checklist maintenance membantu perusahaan memiliki bukti bahwa pemeriksaan sudah dilakukan.
Dokumentasi ini berguna untuk audit internal, evaluasi kinerja teknisi, klaim garansi, asuransi, maupun kepatuhan terhadap standar keselamatan.
Tidak hanya checklist maintenance, proses administrasi karyawan juga bisa dibuat lebih mandiri dengan aplikasi employee self service sehingga pengajuan cuti, lembur, dan akses slip gaji lebih praktis.
Pakai fitur KPI & OKR KantorKu HRIS untuk menetapkan target maintenance serta memantau pencapaian tim teknisi secara lebih terstruktur dan terukur.
Jenis-Jenis Checklist Maintenance
Setiap perusahaan memiliki kebutuhan maintenance yang berbeda. Ada perusahaan yang lebih fokus pada mesin produksi, dan ada yang fokus pada kendaraan operasional.
Mari simak beberapa jenis checklist maintenance yang umum digunakan:
1. General Preventive Maintenance Checklist
General preventive maintenance checklist digunakan untuk pemeriksaan rutin pada berbagai aset perusahaan.
Checklist ini biasanya mencakup pemeriksaan kondisi fisik, kebersihan, pelumasan, suara tidak normal, getaran, cairan, filter, dan fungsi keselamatan dasar.
Checklist ini berguna untuk:
- Mencegah kerusakan mendadak
- Memperpanjang usia aset
- Menjaga performa alat
- Mengurangi biaya perbaikan
- Membuat perawatan lebih terjadwal
2. Facility Safety Checklist
Checklist ini biasanya mencakup jalur evakuasi, APAR, signage keselamatan, lampu darurat, lantai, tangga, handrail, hingga area kerja yang berpotensi menimbulkan kecelakaan.
Jenis checklist ini penting bagi semua jenis perusahaan, termasuk kantor, gudang, pabrik, retail, sekolah, dan fasilitas layanan publik.
Checklist ini umumnya memeriksa:
- Jalur keluar darurat
- Ketersediaan APAR
- Kondisi tanda keselamatan
- Lampu emergency
- Area licin atau rusak
- Kepatuhan penggunaan APD
3. HVAC System Inspection Checklist
HVAC system inspection checklist digunakan untuk memeriksa sistem pemanas, ventilasi, dan pendingin udara.
Checklist ini membantu memastikan kualitas udara, kenyamanan ruangan, dan efisiensi energi tetap terjaga.
Checklist HVAC biasanya mencakup:
- Pembersihan atau penggantian filter
- Pemeriksaan ducting
- Kalibrasi thermostat
- Pemeriksaan kebocoran refrigerant
- Pembersihan coil
- Pemeriksaan suhu dan tekanan
4. Heavy Equipment Inspection Checklist
Heavy equipment inspection checklist digunakan untuk memeriksa alat berat sebelum digunakan.
Jenis checklist ini umum dipakai dalam industri konstruksi, tambang, logistik, perkebunan, dan manufaktur berat.
Checklist ini membantu perusahaan:
- Mengurangi risiko kecelakaan
- Menjaga alat berat tetap siap pakai
- Menghindari kerusakan mahal
- Mendokumentasikan pemeriksaan harian
- Memastikan operator bertanggung jawab atas unit yang digunakan
5. Electrical Safety Checklist
Checklist ini penting karena masalah listrik dapat menyebabkan kebakaran, kerusakan aset, atau cedera serius.
Pemeriksaan kelistrikan sebaiknya dilakukan oleh teknisi yang memahami standar keselamatan listrik.
Checklist ini biasanya mencakup:
- Kabel terbuka atau rusak
- Panel listrik
- Grounding
- Label panel
- Stop kontak
- Risiko beban berlebih
- Prosedur keamanan listrik
6. Fire Safety Equipment Checklist
Fire safety equipment checklist digunakan untuk memastikan semua perlengkapan keselamatan kebakaran berfungsi dengan baik.
Checklist ini mencakup APAR, alarm kebakaran, smoke detector, sprinkler, hydrant, pintu darurat, dan jalur evakuasi.
Checklist ini membantu memantau:
- Tekanan APAR
- Masa berlaku service tag
- Fungsi alarm
- Kondisi smoke detector
- Akses pintu darurat
- Jalur evakuasi bebas hambatan
7. Vehicle Maintenance Checklist
Jenis checklist ini berguna bagi bisnis logistik, distribusi, sales lapangan, rental kendaraan, field service, dan perusahaan dengan armada operasional.
Checklist dapat dilakukan harian, mingguan, atau sebelum kendaraan digunakan untuk perjalanan jauh.
Item yang sering diperiksa antara lain:
- Tekanan ban
- Kondisi rem
- Lampu kendaraan
- Oli mesin
- Air radiator
- Wiper
- Surat kendaraan
- Perlengkapan keselamatan
8. Warehouse Safety & Racking Inspection Checklist
Warehouse safety & racking inspection checklist digunakan untuk menjaga keselamatan area gudang.
Checklist ini memeriksa rak penyimpanan, jalur forklift, area loading dock, marka pejalan kaki, kebersihan lorong, dan keamanan penyimpanan barang.
Checklist ini membantu perusahaan:
- Mencegah rak roboh
- Mengurangi risiko forklift accident
- Menjaga lorong tetap aman
- Memastikan barang tersusun rapi
- Mengurangi potensi cedera karyawan
9. Production Line Equipment Audit
Production line equipment audit digunakan untuk memeriksa seluruh komponen dalam lini produksi.
Checklist ini biasanya digunakan di pabrik, industri makanan dan minuman, assembly line, dan manufaktur.
Tujuannya adalah memastikan setiap komponen produksi bekerja sesuai standar. Jika salah satu bagian tidak berfungsi, kualitas produk bisa menurun atau proses produksi terhenti.
Checklist ini umumnya memeriksa:
- Sensor dan aktuator
- Conveyor
- Safety guard
- Emergency stop
- Tekanan pneumatic atau hydraulic
- Kalibrasi mesin
- Kualitas output produksi
10. Building Exterior and Grounds Checklist
Building exterior and grounds checklist digunakan untuk memeriksa area luar bangunan. Pemeriksaan ini mencakup atap, dinding luar, drainase, parkiran, pagar, lampu luar ruangan, CCTV, dan area pejalan kaki.
Area luar yang tidak dirawat bisa menyebabkan kebocoran, genangan, risiko terpeleset, atau gangguan keamanan.
Checklist ini berguna untuk:
- Mencegah kerusakan bangunan
- Menjaga keamanan area luar
- Mengurangi risiko kecelakaan
- Menjaga tampilan kantor atau fasilitas
- Mengidentifikasi masalah setelah hujan besar atau badai
Baca Juga: 20 Contoh KPI Operasional dan GA Lengkap dengan Cara Mengukurnya
Struktur Template Checklist Maintenance
Struktur template checklist maintenance membantu perusahaan membuat dokumen yang mudah dipahami dan digunakan oleh teknisi.
Adapun struktur yang sebaiknya ada dalam template checklist maintenance template Word, Excel, maupun PDF yaitu:
1. Informasi Dokumen
Bagian ini berisi identitas dasar dokumen checklist. Tujuannya agar setiap checklist mudah dikenali, terutama jika perusahaan memiliki banyak aset atau lokasi kerja.
Informasi dokumen juga membantu arsip lebih rapi. Dengan begitu, tim maintenance dapat mencari checklist berdasarkan periode, lokasi, atau jenis aset.
Contoh:
| Field | Penulisan |
| Nama Dokumen | Checklist Maintenance Mesin Produksi |
| Periode | Januari 2026 |
| Lokasi | Area Produksi Lantai 1 |
| Departemen | Maintenance |
| Penanggung Jawab | Supervisor Maintenance |
2. Identitas Aset
Identitas aset berfungsi untuk memastikan checklist digunakan pada aset yang tepat. Bagian ini penting karena perusahaan bisa memiliki banyak mesin atau perangkat dengan tipe serupa.
Dengan identitas aset yang jelas, riwayat perawatan dapat dilacak lebih mudah. Hal ini juga berguna untuk klaim garansi, audit internal, dan perencanaan penggantian aset.
Contoh:
| Field | Penulisan |
| Nama Aset | Mesin Packaging A |
| Kode Aset | MCH-PKG-001 |
| Nomor Seri | SN-2026-0098 |
| Lokasi Unit | Ruang Produksi 2 |
| Tanggal Instalasi | 10 Januari 2024 |
| Manufacturer | ABC Machinery |
3. Jadwal dan Frekuensi Maintenance
Bagian ini menjelaskan kapan maintenance dilakukan dan seberapa sering pemeriksaan harus dijalankan. Frekuensi dapat dibuat harian, mingguan, bulanan, kuartalan, semesteran, atau tahunan.
Penjadwalan penting agar maintenance tidak dilakukan secara acak. Dengan jadwal yang jelas, perusahaan bisa memastikan setiap aset diperiksa sesuai kebutuhan dan tingkat risikonya.
Contoh:
| Field | Penulisan |
| Tanggal Pemeriksaan | 15 Januari 2026 |
| Frekuensi | Bulanan |
| Jenis Maintenance | Preventive Maintenance |
| Jadwal Berikutnya | 15 Februari 2026 |
| Prioritas | Tinggi |
4. Daftar Item Pemeriksaan
Daftar item pemeriksaan adalah inti dari checklist maintenance. Bagian ini berisi tugas teknis yang harus dilakukan oleh teknisi.
Agar mudah digunakan, item pemeriksaan harus ditulis spesifik. Hindari instruksi yang terlalu umum seperti “cek mesin”, karena teknisi bisa menafsirkannya berbeda.
Contoh:
| No | Item Pemeriksaan | Standar Pemeriksaan |
| 1 | Cek kondisi belt | Tidak retak, tidak kendur |
| 2 | Cek level oli | Sesuai batas indikator |
| 3 | Cek suara mesin | Tidak ada suara abnormal |
| 4 | Bersihkan filter | Filter bebas debu dan sumbatan |
| 5 | Uji emergency stop | Tombol berfungsi normal |
5. Kolom Status Pemeriksaan
Kolom status dipakai untuk mencatat hasil pemeriksaan. Status ini membantu melihat apakah aset dalam kondisi baik, perlu perbaikan, perlu penggantian, atau tidak perlu diperiksa.
Status yang jelas membuat laporan lebih mudah dipahami oleh supervisor. Jika ada item bermasalah, perusahaan dapat segera menentukan tindak lanjut.
Contoh:
| Status | Arti |
| OK | Kondisi baik |
| Perlu Perbaikan | Ada masalah yang perlu ditangani |
| Ganti | Komponen perlu diganti |
| N/A | Tidak berlaku untuk aset tersebut |
| Pending | Pemeriksaan belum selesai |
6. Kolom Catatan dan Temuan
Kolom catatan digunakan untuk mencatat hal-hal yang tidak cukup dijelaskan melalui status. Misalnya, teknisi menemukan suara mesin agak kasar, belt mulai aus, atau ada komponen yang perlu dicek ulang minggu depan.
Catatan ini penting untuk tindak lanjut. Tanpa catatan, supervisor mungkin hanya melihat status tanpa memahami konteks masalah yang ditemukan.
Contoh:
| Item | Status | Catatan |
| Cek belt conveyor | Perlu Perbaikan | Belt mulai aus di sisi kanan |
| Cek pelumasan bearing | OK | Sudah dilumasi ulang |
| Cek panel kontrol | Pending | Menunggu teknisi listrik |
7. Dokumentasi dan Bukti Pemeriksaan
Dokumentasi dapat berupa foto, tanda tangan, atau lampiran pendukung. Bukti pemeriksaan berguna untuk audit, laporan ke manajemen, dan validasi bahwa maintenance benar-benar dilakukan.
Contoh:
| Field | Penulisan |
| Foto Sebelum Maintenance | Terlampir |
| Foto Setelah Maintenance | Terlampir |
| Dokumen Pendukung | Laporan teknisi |
| Tanda Tangan Teknisi | Nama & tanda tangan |
| Tanda Tangan Supervisor | Nama & tanda tangan |
8. Tindak Lanjut Maintenance
Bagian tindak lanjut digunakan jika ada item yang tidak sesuai standar. Misalnya, perlu penggantian komponen, pemesanan spare part, pengecekan lanjutan, atau penghentian sementara penggunaan aset.
Tindak lanjut membuat checklist lebih berguna karena tidak berhenti pada pencatatan masalah. Perusahaan bisa melihat langkah berikutnya secara jelas.
Contoh:
| Temuan | Tindak Lanjut | PIC | Deadline |
| Belt aus | Ganti belt conveyor | Teknisi A | 20 Januari 2026 |
| Panel panas | Pemeriksaan listrik lanjutan | Teknisi Listrik | 18 Januari 2026 |
| Filter kotor | Bersihkan dan ganti filter | Teknisi B | Selesai |
Komponen dalam Template Checklist Maintenance
Komponen checklist maintenance adalah elemen yang harus ada agar dokumen dapat digunakan secara efektif.
Komponen ini membantu teknisi mengetahui apa yang harus diperiksa, kapan diperiksa, siapa yang bertanggung jawab, dan hasil pemeriksaannya. Beberapa komponen yang perlu ada yaitu:
1. Identifikasi Aset
Identifikasi aset mencakup nama aset, kode aset, nomor seri, merek, lokasi, dan departemen pemilik aset.
Komponen ini berguna agar checklist tidak tertukar antara satu aset dengan aset lain. Jika suatu aset sering rusak, data tersebut bisa menjadi dasar untuk evaluasi atau penggantian.
Contoh informasi yang dicatat:
- Nama mesin atau perangkat
- Kode aset
- Nomor seri
- Lokasi aset
- Departemen pengguna
- Tanggal instalasi
2. Informasi Jadwal Maintenance
Informasi jadwal menjelaskan kapan pemeriksaan dilakukan dan seberapa sering maintenance harus dijalankan. Jadwal ini dapat berupa harian, mingguan, bulanan, kuartalan, atau tahunan.
Dengan jadwal ini, perusahaan dapat menghindari maintenance yang terlambat. Jadwal juga membantu supervisor memastikan teknisi menjalankan tugas sesuai periode yang ditentukan.
Contoh jadwal maintenance:
- Harian untuk kendaraan atau alat berat
- Mingguan untuk mesin produksi intensif
- Bulanan untuk fasilitas kantor
- Kuartalan untuk sistem HVAC
- Tahunan untuk pemeriksaan besar
3. Item Pemeriksaan Teknis
Item pemeriksaan teknis adalah daftar tugas yang harus dilakukan oleh teknisi. Komponen ini harus ditulis secara spesifik.
Alih-alih menulis “cek mesin”, sebaiknya menulis “cek kondisi belt, cek level oli, cek suara abnormal, dan uji tombol emergency stop”. Tujuannya guna mengurangi risiko salah tafsir.
4. Status Perawatan
Status perawatan digunakan untuk mencatat hasil dari setiap item pemeriksaan. Status ini membuat checklist lebih mudah dibaca dan diprioritaskan.
Contoh status yang bisa digunakan:
- OK
- Perlu Perbaikan
- Perlu Penggantian
- Tidak Berlaku
- Belum Dikerjakan
- Butuh Pemeriksaan Lanjutan
5. Nama Teknisi dan Validasi
Nama teknisi diperlukan untuk menunjukkan siapa yang melakukan pemeriksaan. Validasi ini penting agar setiap pekerjaan memiliki penanggung jawab yang jelas.
Selain nama teknisi, perusahaan juga bisa menambahkan tanda tangan supervisor atau PIC terkait. Hal ini berguna untuk memastikan hasil pemeriksaan sudah dicek dan disetujui.
Validasi biasanya mencakup:
- Nama teknisi
- Jabatan
- Tanggal pengerjaan
- Tanda tangan teknisi
- Nama supervisor
- Tanda tangan supervisor
Jika perusahaan ingin memantau kontribusi teknisi secara lebih terukur, hasil checklist dan target kerja dapat dikaitkan dengan aplikasi KPI agar evaluasi performa lebih berbasis data.
6. Catatan Tambahan dan Rekomendasi
Catatan tambahan digunakan untuk mencatat temuan yang tidak cukup dijelaskan melalui status.
Rekomendasi membantu perusahaan menentukan langkah berikutnya. Tanpa rekomendasi, checklist hanya menjadi laporan kondisi tanpa arahan tindakan.
Contoh catatan tambahan:
- “Filter perlu diganti pada pemeriksaan berikutnya.”
- “Belt mulai retak, disarankan penggantian minggu depan.”
- “Panel kontrol perlu dicek teknisi listrik.”
- “Mesin masih bisa digunakan, tetapi perlu monitoring harian.”
Cara Membuat Template Checklist Maintenance
Template yang baik harus mudah digunakan oleh teknisi. Anda bisa membuat checklist dalam Word, PDF, maupun Excel.
Jika belum pernah membuatnya, mari simak cara membuat template checklist maintenance sebagai berikut:
1. Tentukan Tujuan Checklist Maintenance
Tentukan dulu tujuan checklist. Apakah checklist digunakan untuk preventive maintenance, inspeksi keselamatan, pemeriksaan kendaraan, audit fasilitas, atau perawatan mesin produksi.
Tujuan ini akan menentukan isi checklist. Jika tujuannya untuk keselamatan, maka item pemeriksaan harus fokus pada potensi bahaya. Jika tujuannya untuk mesin produksi, maka itemnya harus lebih teknis.
2. Tentukan Aset yang Akan Diperiksa
Setelah tujuan jelas, tentukan aset yang akan masuk ke dalam checklist. Jangan membuat checklist terlalu umum untuk semua aset karena setiap aset memiliki kebutuhan yang berbeda.
Misalnya, checklist kendaraan tentu berbeda dengan checklist AC atau gudang. Semakin spesifik aset yang diperiksa, semakin mudah teknisi menjalankan checklist.
3. Tentukan Frekuensi Pemeriksaan
Frekuensi pemeriksaan perlu disesuaikan dengan tingkat risiko dan intensitas penggunaan aset.
Aset yang digunakan setiap hari biasanya membutuhkan pemeriksaan lebih sering dibandingkan aset yang jarang digunakan.
4. Buat Daftar Tugas Pemeriksaan yang Spesifik
Daftar tugas adalah bagian utama dari checklist. Tugas harus ditulis dengan jelas agar teknisi tahu apa yang harus dilakukan dan standar apa yang harus dicapai.
Gunakan instruksi yang dapat diperiksa secara langsung, seperti “cek kebocoran oli”, “bersihkan filter”, “uji tombol emergency stop”, atau “periksa tekanan ban”.
Contoh:
| No | Item Pemeriksaan | Standar | Status | Catatan |
| 1 | Cek level oli | Sesuai indikator | OK | – |
| 2 | Cek kebocoran | Tidak ada kebocoran | Perlu Perbaikan | Ada rembesan kecil |
| 3 | Bersihkan filter | Filter bersih | OK | Sudah dibersihkan |
5. Siapkan Kolom Status, Catatan, dan Tindak Lanjut
Checklist yang baik akan mencatat apakah tugas selesai, tetapi juga mencatat kondisi aset dan langkah berikutnya. Bagian ini membuat checklist lebih berguna untuk pengambilan keputusan.
Jika ada temuan kerusakan, supervisor bisa langsung melihat siapa yang bertanggung jawab dan kapan perbaikan harus dilakukan.
6. Tambahkan Kebutuhan Spare Part dan Tools
Maintenance sering tertunda karena teknisi tidak memiliki alat atau spare part yang dibutuhkan. Karena itu, template sebaiknya mencantumkan daftar spare part dan tools yang diperlukan.
Komponen ini membantu perusahaan menyiapkan kebutuhan sebelum maintenance dilakukan. Hasilnya, pekerjaan bisa selesai lebih cepat dan risiko downtime bisa dikurangi.
7. Simpan dalam Format yang Sesuai Kebutuhan
Setelah checklist selesai dibuat, simpan dalam format yang sesuai dengan cara kerja perusahaan.
Jika teknisi mencetak dokumen untuk pemeriksaan lapangan, PDF bisa menjadi pilihan. Jika ingin diedit dan dihitung otomatis, Excel lebih praktis.
Baca Juga: Contoh Penilaian Kinerja Karyawan serta Indikator & Metodenya [+Template!]
10 Contoh Template Checklist Maintenance
Setiap template dapat disesuaikan kembali dengan kebutuhan operasional perusahaan. Agar lebih mudah memahami checklist maintenance, berikut beberapa contoh template yang bisa dijadikan referensi:
1. Template Checklist Maintenance Bangunan
Checklist maintenance bangunan digunakan untuk memastikan kondisi gedung tetap aman, nyaman, dan layak digunakan.
Adapun contoh template checklist maintenance bangunan yang bisa dijadikan referensi:

2. Template Checklist Preventive Maintenance
Dengan checklist ini, tim maintenance bisa memantau kondisi aset secara rutin berdasarkan jadwal pemeriksaan yang sudah ditentukan.

Pakai fitur KPI & OKR KantorKu HRIS untuk menetapkan target maintenance serta memantau pencapaian tim teknisi secara lebih terstruktur dan terukur.
3. Template Checklist Maintenance Preventif Mesin
Checklist maintenance preventif mesin membantu memastikan mesin tetap bekerja optimal dan tidak mudah mengalami downtime. Lihat contoh template yang bisa digunakan untuk kebutuhan maintenance preventif mesin.

4. Template Checklist Maintenance Mingguan
Checklist maintenance mingguan cocok untuk pemeriksaan rutin yang dilakukan dalam periode singkat. Format ini membantu tim mencatat kondisi aset dari minggu ke minggu agar potensi kerusakan bisa lebih cepat terdeteksi.

5. Template Checklist Maintenance Genset
Genset perlu diperiksa secara berkala agar siap digunakan saat terjadi pemadaman listrik atau kondisi darurat. Simak contoh template checklist maintenance genset berikut ini.

6. Template Checklist Maintenance Mobil Operasional
Checklist ini biasanya mencakup kondisi ban, rem, oli, lampu, aki, air radiator, hingga kelengkapan kendaraan. Berikut contoh template checklist maintenance mobil operasional yang bisa menjadi referensi:

7. Template Checklist Maintenance Alat Bantu PLN
Checklist ini dapat digunakan untuk mencatat kondisi alat, kelayakan fungsi, kebersihan, serta potensi kerusakan sebelum alat digunakan.

8. Template Checklist Maintenance Mesin Press
Mesin press perlu dicek secara berkala karena bekerja dengan tekanan tinggi dan berisiko menimbulkan kerusakan jika tidak dirawat dengan baik. Adapun contoh template checklist maintenance mesin press yang bisa dijadikan panduan.

9. Template Checklist Maintenance Terperinci
Checklist maintenance terperinci cocok digunakan ketika perusahaan membutuhkan dokumentasi pemeriksaan yang lebih lengkap. Lihat contoh template checklist maintenance berikut:

10. Template Checklist Maintenance Mesin Gerinda
Mesin gerinda perlu diperiksa secara rutin untuk memastikan alat tetap aman dan presisi saat digunakan. Adapun contoh template checklist maintenance mesin gerinda yang bisa Anda lihat:

Download Contoh Template Checklist Maintenance

Anda bisa mulai menggunakan template yang sudah rapi seperti gambar di atas jika tidak ingin menyusun dari awal.
Anda dapat menggunakan template ini untuk berbagai kebutuhan, seperti pemeriksaan fasilitas, mesin, kendaraan, gudang, perangkat kerja, maupun preventive maintenance.
Jika Anda sedang membutuhkan free template checklist maintenance ini, silakan isi formulir yang tersedia di bawah ini.
Kelola KPI/OKR Lebih Praktis & Terpantau lewat KantorKu HRIS!
Checklist maintenance membantu perusahaan menjaga aset dan operasional tetap berjalan lancar.
Namun, di sisi lain, perusahaan juga perlu mengelola administrasi HR. Daripada masih mengelolanya secara manual, sebaiknya gunakan KantorKu HRIS.
Untuk kebutuhan pengelolaan performa, KantorKu HRIS juga menyediakan aplikasi KPI yang membantu perusahaan memantau target kerja karyawan secara lebih objektif.

Dengan sistem ini, Anda dapat melihat progress KPI, memberikan feedback, dan mengevaluasi performa karyawan dengan data yang lebih jelas.
KantorKu HRIS juga membantu perusahaan melalui berbagai fitur berikut:
- KPI & OKR: Pantau target kerja tim agar evaluasi performa tidak hanya berdasarkan asumsi.
- Penilaian Kinerja Lebih Objektif: Fitur untuk mengelola review, feedback, dan evaluasi karyawan.
- Database Karyawan Terpusat: Simpan data identitas, dokumen kerja, jabatan, dan riwayat karyawan di database.
- Administrasi Mandiri untuk Karyawan: Permudah pengajuan cuti, lembur, dan akses slip gaji secara mandiri oleh karyawan.
- Data Karyawan Lebih Rapi: Mulai digitalisasi HR dengan aplikasi database karyawan gratis agar data tidak lagi tercecer di banyak file.
Jika selama ini Anda mulai merasa pengelolaan HR manual semakin menyita waktu, ini saat yang tepat untuk book demo gratis aplikasi KantorKu HRIS.
Dengan sistem yang terintegrasi ini, pekerjaan HR menjadi lebih ringkas, dan keputusan perusahaan bisa dibuat berdasarkan informasi yang lebih jelas!
Pakai fitur KPI & OKR KantorKu HRIS untuk menetapkan target maintenance serta memantau pencapaian tim teknisi secara lebih terstruktur dan terukur.
Referensi:
A Guide To Preventive Maintenance Checklists | Fiix
Maintenance Checklists for Safer and More Reliable Operations | Eworkoders
Related Articles
10 Template Biaya Rekrutmen Sederhana, PDF, Word, Excel [+Gratis Download]
10 Contoh Budgeting Perusahaan Excel hingga Word [+Gratis Template]