Apa Itu Yield Produksi? Definisi, Jenis, Rumus, & Cara Menghitungnya
Yield produksi adalah indikator efisiensi proses produksi yang mengukur output dibanding input. Pelajari jenis-jenis yield & cara menghitungnya!
Table of Contents
Yield produksi adalah salah satu indikator penting yang menentukan seberapa efisien proses produksi dalam bisnis Anda berjalan.
Baik di industri manufaktur, agribisnis, maupun sektor lainnya, memahami yield produksi akan membantu Anda mengukur output dibandingkan dengan input yang digunakan.
Di artikel ini, kita akan membahas secara mendalam tentang yield produksi, jenis-jenisnya, cara menghitungnya, serta faktor yang memengaruhi yield. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai hal ini, Anda bisa mulai mengoptimalkan proses produksi di perusahaan Anda.
Mari simak selengkapnya berikut ini!
Apa Itu Yield Produksi?

Yield produksi adalah rasio atau persentase antara jumlah output yang dihasilkan dibandingkan dengan jumlah input yang digunakan dalam proses produksi.
Dengan kata lain, yield menunjukkan tingkat keberhasilan produksi dalam menghasilkan produk yang memenuhi standar kualitas.
Umumnya, yield produksi yang tinggi berarti lebih banyak produk yang dihasilkan dengan biaya dan sumber daya yang lebih sedikit. Sebaliknya, yield yang rendah mengindikasikan pemborosan dalam proses produksi yang bisa berujung pada peningkatan biaya.
Beberapa poin penting terkait yield produksi:
- Mengukur efisiensi operasional
- Menunjukkan tingkat kualitas produksi
- Membantu identifikasi pemborosan
- Digunakan dalam berbagai industri (manufaktur, pertanian, dll)
- Menjadi dasar pengambilan keputusan bisnis
Menurut referensi dari Investopedia, yield digunakan untuk mengukur output efektif dibandingkan dengan total potensi output dalam proses produksi.
Baca Juga: Laba Adalah: Pengertian, Jenis, Rumus, & Cara Menghitungnya
Dengan KantorKu HRIS, kelola absensi, payroll, dan data karyawan secara terpusat untuk mendukung efisiensi produksi.
Jenis-Jenis Yield Produksi
Dalam praktiknya, yield produksi memiliki beberapa jenis yang digunakan sesuai kebutuhan analisis bisnis. Masing-masing metrik ini memberikan sudut pandang berbeda tentang kinerja proses produksi:
1. First Pass Yield (FPY)
First Pass Yield mengukur persentase unit produk yang berhasil diproses dengan benar pada percobaan pertama tanpa perlu pengerjaan ulang (rework). FPY sangat berguna untuk mengevaluasi efisiensi setiap tahap produksi.
FPY dihitung dengan rumus:
FPY (%) = (Jumlah Produk Tanpa Cacat pada Proses Pertama ÷ Total Unit yang Diproses) × 100%
Angka FPY tinggi menunjukkan bahwa proses tersebut stabil dan sedikit memerlukan perbaikan.
2. Final Yield (FY)
Final Yield (yang kadang disebut Overall Yield) adalah persentase unit baik yang dihasilkan dari keseluruhan proses produksi, setelah semua tahapan selesai, termasuk rework.
Final Yield memberi gambaran output akhir perusahaan. Rumusnya:
Final Yield (%) = (Total Unit Baik Setelah Inspeksi Akhir ÷ Total Unit yang Mulai Diproses) × 100%
Nilai final yield tinggi berarti secara keseluruhan banyak produk yang layak jual, tetapi bisa menutupi biaya dan waktu yang terpakai untuk perbaikan.
3. Rolled Throughput Yield (RTY)
RTY mengukur efektivitas keseluruhan dari serangkaian proses berurutan dalam satu lini produksi.
RTY dihitung dengan mengalikan FPY dari tiap-tiap tahapan proses. Ini menunjukkan probabilitas satu unit melewati semua tahapan produksi tanpa cacat sama sekali.
Sebagai contoh, jika ada tiga proses berturut-turut dengan FPY masing-masing 90%, 95%, dan 98%, maka RTY = 0,90 × 0,95 × 0,98 ≈ 83,8%.
RTY yang rendah menandakan adanya akumulasi kerugian kecil di setiap tahap yang patut diperbaiki.
4. Yield Berdasarkan Berat/Volume
Beberapa industri, seperti makanan dan bahan kimia, mengukur yield berdasarkan rasio berat atau volume bahan. Rumusnya adalah berat produk jadi dibagi berat bahan baku.
Misalnya di industri pengolahan, bila 500 kg bahan baku menghasilkan 300 kg produk layak, yield-nya 60%. Pendekatan ini berguna untuk produksi di mana kehilangan berat (seperti pembuangan limbah) diukur langsung.
5. Yield Berbasis Waktu
Selain metode di atas, perusahaan juga sering mengukur yield produksi per periode waktu tertentu (misalnya per jam atau per hari) untuk tujuan penjadwalan dan perencanaan.
Metode ini melihat seberapa banyak output yang dihasilkan dalam jangka waktu tertentu dibandingkan dengan kapasitas, sehingga memudahkan pengoptimalan jadwal dan tenaga kerja.
Baca Juga: Laba Kotor Adalah: Rumus, Cara Hitung & Fungsinya bagi Bisnis
Cara Menghitung Yield Produksi

Untuk memahami performa produksi secara akurat, Anda perlu mengetahui langkah-langkah perhitungannya:
1. Tentukan Jumlah Input dan Output
Identifikasi semua input yang digunakan (misalnya berat bahan baku, jumlah jam kerja, atau unit awal proses) serta output aktual yang dihasilkan.
Misalnya, catat total berat bahan baku dan total produk layak jual yang keluar dari proses produksi.
2. Terapkan Rumus Yield Produksi
Gunakan rumus yield sesuai kebutuhan. Rumus dasar yang paling umum adalah:
Yield (%) = (Jumlah Unit Baik ÷ Total Unit yang Diproses) × 100%
Contohnya, jika 100 unit bahan baku menghasilkan 85 unit produk jadi memenuhi standar, maka yield = (85÷100)×100% = 85%.
Khusus industri kelapa sawit, yield dihitung berdasarkan berat CPO yang dihasilkan dibandingkan berat TBS yang dipanen
3. Pertimbangkan Kualitas Output
Pastikan dalam perhitungan hanya dihitung produk yang memenuhi standar kualitas. Produk cacat atau rusak biasanya tidak dimasukkan dalam jumlah output baik.
Dengan fokus pada produk berkualitas, Anda dapat menghitung yield kualitas, yaitu persentase produk layak jual dari total produk yang dihasilkan.
4. Analisis dan Bandingkan Hasil
Bandingkan nilai yield yang didapat dengan target atau data historis. Yield tinggi menunjukkan proses efisien, sedangkan yield rendah mungkin menandakan masalah.
Misalnya, jika yield menurun dibanding periode sebelumnya, periksa apakah terjadi peningkatan bahan baku cacat atau kesalahan operasional.
5. Lakukan Tindakan Perbaikan
Jika yield di bawah target, identifikasi akar masalah (lihat faktor di bawah). Setelah itu, ambil langkah perbaikan yang tepat. Misalnya memperbaiki mesin, menambah pelatihan operator, atau memperbaiki pengaturan proses produksi.
Baca Juga: Gaji Karyawan Termasuk ke Dalam Biaya Operasional atau Produksi? Cari Tahu di Sini!
Gunakan KantorKu HRIS untuk memantau absensi, manajemen KPI, dan laporan kinerja secara real-time, sehingga yield produksi lebih maksimal.
Faktor yang Memengaruhi Yield Produksi
Yield produksi dipengaruhi oleh banyak hal di lingkungan produksi. Memahami faktor-faktor ini penting agar perusahaan bisa meningkatkan efisiensi dan mengurangi produk cacat. Beberapa faktor utama meliputi:
1. Kualitas Bahan Baku
Bahan baku yang kurang berkualitas cenderung menghasilkan lebih banyak produk cacat atau limbah. Sebaliknya, bahan baku premium bisa menurunkan tingkat reject dan meningkatkan yield.
2. Desain Proses Produksi
Proses yang rumit atau tidak terstandarisasi bisa menyebabkan variasi output tinggi. Proses yang sederhana dan jelas membantu mengurangi kesalahan dan meningkatkan hasil produksi.
3. Keterampilan Tenaga Kerja
SDM yang terampil, berpengalaman, dan termotivasi mampu menjalankan proses dengan lebih tepat. Kemampuan operator dan manajemen SDM menjadi kunci untuk mengurangi kesalahan manusia.
4. Kondisi Lingkungan Kerja
Lingkungan produksi yang nyaman dan sesuai standar (suhu, kelembaban, kebersihan) mendukung performa mesin dan pekerja. Suhu ekstrem atau kualitas udara buruk bisa menurunkan kualitas output.
5. Permintaan Pasar dan Perubahan Produk
Perubahan permintaan pelanggan dapat memengaruhi proses produksi. Misalnya, desain produk baru mungkin memerlukan penyesuaian proses agar yield tetap optimal.
Baca Juga: Industri Manufaktur Adalah: Jenis, Ciri-ciri & Contoh Perusahaannya
Cara Meningkatkan Yield Produksi

Untuk meningkatkan yield produksi, ada beberapa strategi perbaikan proses yang bisa diterapkan:
1. Menerapkan Sistem Manajemen Kualitas
Manajemen mutu yang kuat, seperti ISO 9001, Six Sigma, atau Total Quality Management, membantu menstandarisasi proses dan meminimalkan produk cacat.
Contohnya, implementasi Lean Six Sigma oleh PT. Sharp Semiconductor berhasil meningkatkan yield dari 92,17% menjadi 99,88%.
2. Peningkatan Keterampilan Tenaga Kerja
Memberikan pelatihan dan pengembangan karyawan membantu operator mengenali masalah lebih cepat dan meminimalkan kesalahan operasional.
3. Modernisasi Peralatan dan Teknologi
Mengadopsi teknologi terbaru, seperti automasi, robotik, atau sensor canggih, membuat proses lebih presisi dan konsisten.
Terlebih lagi, mesin modern beroperasi lebih andal dan dapat langsung menaikkan yield produksi.
4. Pemeliharaan Preventif
Melakukan maintenance rutin pada mesin dan peralatan mencegah kerusakan mendadak dan downtime yang bisa menurunkan hasil produksi.
5. Evaluasi dan Peningkatan Berkelanjutan
Monitoring yield secara rutin dan menganalisis data membantu menemukan area bermasalah. Pendekatan continuous improvement (misal Kaizen) memungkinkan perbaikan proses terus-menerus, sehingga yield produksi meningkat secara bertahap.
Baca Juga: 5 Cara Menghitung Laba Rugi Perusahaan & Contoh Mudah Perhitungannya
Peran HR dalam Meningkatkan Yield Produksi
Meski yield produksi biasanya dianggap urusan operasional, divisi HR juga punya peran penting dalam mendukung efektivitas produksi.
HR membantu memastikan tim produksi kompeten, termotivasi, dan bekerja secara efisien. Berikut beberapa peran HR yang dapat meningkatkan yield:
1. Rekrutmen Tenaga Kerja Kompeten
HR bertanggung jawab merekrut karyawan yang tepat dan sesuai budaya perusahaan. Memilih kandidat dengan cultural fit yang baik membantu menciptakan tim solid dan produktif.
Proses rekrutmen yang matang juga meminimalkan turnover dan memastikan tim produksi memiliki keterampilan yang dibutuhkan.
2. Onboarding dan Pengembangan Keterampilan
Program onboarding terstruktur membantu karyawan baru cepat beradaptasi dan memahami tugas mereka.
Selain itu, pelatihan lanjutan meningkatkan kemampuan SDM dalam mengoperasikan mesin dan proses, sehingga mengurangi kesalahan saat produksi.
Baca Juga: Apa itu Onboarding Karyawan? Pelajari Proses dan Persiapannya!
3. Pengelolaan Absensi dan Jam Kerja
HR mengelola absensi karyawan agar kehadiran dan jam kerja tercatat dengan akurat. Dengan aplikasi absensi karyawan berbasis online, data bisa dipantau secara real-time, memaksimalkan penggunaan tenaga kerja, dan meminimalkan kecurangan.
Sistem absensi digital juga mempermudah perhitungan lembur dan mengurangi kesalahan administrasi yang bisa memengaruhi efisiensi produksi.
4. Manajemen Kinerja dan Penghargaan
Program penghargaan dan pengakuan mendorong motivasi kerja karyawan. Pemberian penghargaan atas kinerja baik (misal sertifikat atau acara penganugerahan) dapat meningkatkan engagement dan produktivitas tim.
HR bisa mengimplementasikan sistem penilaian kinerja dan reward yang transparan untuk mendorong karyawan bekerja lebih disiplin dan efisien.
5. Penggunaan Sistem HRIS Terintegrasi
HR dapat memanfaatkan aplikasi HRIS (Human Resource Information System) untuk mengotomatisasi banyak tugas administratif. HRIS mengintegrasikan absensi, payroll, manajemen data karyawan, dan laporan kinerja dalam satu platform.
Dengan memahami peran HR dalam mendukung yield produksi, mulai dari rekrutmen tenaga kerja kompeten, onboarding, hingga manajemen kinerja dan penghargaan, Anda dapat memastikan tim produksi bekerja lebih efektif dan efisien.
Untuk mengelola semua aspek ini secara terpusat dan lebih mudah, penggunaan sistem digital menjadi solusi yang tepat.
Dengan software HRIS dari KantorKu HRIS, Anda bisa mengotomatisasi absensi karyawan, payroll, penilaian kinerja (KPI), dan manajemen data SDM lainnya dalam satu platform.
Sistem ini membantu HR menghemat waktu, mengurangi kesalahan, dan memberikan insight analitik untuk meningkatkan produktivitas organisasi.
Jangan tunggu lama! Book demo gratis sekarang dan rasakan kemudahan mengelola HR, absensi, payroll, dan KPI secara efisien.
Mulai gunakan aplikasi HRIS ini sekarang juga untuk memastikan pekerjaan HR lebih cepat, akurat, dan minim risiko.
Dengan KantorKu HRIS, automasi absensi, payroll, dan penilaian kinerja (KPI) membuat pekerjaan HR lebih cepat.
Referensi
Related Articles
Current Ratio Adalah: Definisi, Rumus, & Cara Mengukurnya
Expenses Adalah: Pengertian, Jenis, Contoh, & Cara Mengelolanya