4 Cara Menghitung ROA, Rumus, & Indikatornya
Cara menghitung ROA adalah ketika rumus laba bersih ÷ total aset ×100%, lengkap dengan contoh dan cara membaca persentasenya.
Table of Contents
Mengelola sebuah bisnis bukan hanya soal memastikan operasional berjalan lancar, tetapi juga memahami seberapa efisien perusahaan Anda dalam mengubah aset yang ada menjadi keuntungan nyata.
Bagi Anda para pelaku usaha maupun praktisi HRD, memahami kesehatan finansial perusahaan adalah langkah krusial agar setiap kebijakan SDM yang diambil sejalan dengan pertumbuhan profitabilitas organisasi.
Berikut adalah panduan lengkap mengenai cara menghitung ROA dan mengapa metrik ini sangat penting bagi efisiensi pengelolaan administrasi karyawan Anda.
Apa Itu ROA?

Return on Assets atau ROA adalah rasio profitabilitas yang menunjukkan seberapa efektif sebuah perusahaan menggunakan total asetnya untuk menghasilkan laba bersih.
Sederhananya, ROA memberikan gambaran kepada Anda tentang berapa banyak keuntungan yang dihasilkan dari setiap rupiah yang diinvestasikan pada aset perusahaan.
Menurut sumber finansial terkemuka yang dikutip dari The Motley Fool, Return on Assets(ROA) digunakan untuk mengukur seberapa efisien sebuah perusahaan menghasilkan laba dari aset yang dimilikinya, dan biasanya dinyatakan dalam bentuk persentase.
Angka ROA yang lebih tinggi menunjukkan efisiensi penggunaan aset yang lebih baik. Secara umum, ROA di atas 5% dianggap baik, karena menunjukkan bahwa perusahaan mampu menghasilkan laba yang layak dibandingkan total asetnya.
Lebih jauh, ROA di atas 10% bahkan dianggap sangat baik, terutama ketika diukur terhadap perusahaan lain di industri yang sama. Karena struktur aset berbeda antar sektor, angka “baik” ini sering dibandingkan dengan rata-rata industri untuk analisis yang lebih adil.
KantorKu HRIS bantu kelola absensi, payroll, cuti, slip gaji, dan BPJS dalam satu aplikasi.
Komponen Utama dalam Perhitungan ROA
Sebelum masuk ke teknis cara menghitung Return on Assets (ROA), penting bagi Anda untuk memahami dua komponen utama yang membentuk rasio ini. ROA pada dasarnya mengukur seberapa efisien perusahaan dalam memanfaatkan seluruh asetnya untuk menghasilkan laba.
Jika salah satu dari dua komponen ini tidak akurat, maka hasil perhitungan ROA juga tidak akan mencerminkan kondisi keuangan yang sebenarnya.
Berikut penjelasan lengkapnya:
1. Laba Bersih (Net Income)
Laba bersih adalah keuntungan akhir yang diperoleh perusahaan setelah dikurangi seluruh biaya dan kewajiban dalam satu periode tertentu (biasanya per tahun atau per kuartal).
Komponen yang sudah dikurangkan dalam laba bersih meliputi:
- Biaya operasional (gaji, sewa, listrik, pemasaran, dll.)
- Harga pokok penjualan (HPP)
- Beban penyusutan (depresiasi)
- Beban bunga pinjaman
- Pajak perusahaan
Karena sudah dikurangi semua beban, laba bersih sering disebut sebagai bottom line dalam laporan laba rugi.
Contoh sederhana:
Jika perusahaan memiliki pendapatan Rp1 miliar tetapi setelah semua biaya hanya tersisa Rp100 juta, maka angka Rp100 juta itulah yang digunakan dalam perhitungan ROA.
Baca Juga: Mengenal Pentingnya Laporan Laba Rugi bagi Bisnis dan Contohnya
2. Total Aset (Total Assets)
Total aset adalah seluruh sumber daya ekonomi yang dimiliki dan dikuasai perusahaan untuk menjalankan operasionalnya. Aset ini biasanya terbagi menjadi dua kategori besar:
a. Aset Lancar (Current Assets)
Aset yang dapat dicairkan atau digunakan dalam waktu kurang dari satu tahun, seperti:
- Kas dan setara kas
- Piutang usaha
- Persediaan barang
- Investasi jangka pendek
b. Aset Tidak Lancar/Aset Tetap (Non-Current Assets)
Aset yang digunakan untuk jangka panjang, seperti:
- Bangunan dan tanah
- Mesin dan peralatan
- Kendaraan operasional
- Perangkat lunak dan hak paten
- Investasi jangka panjang
Mengapa total aset digunakan dalam ROA? Karena ROA mengukur efektivitas seluruh sumber daya perusahaan. Semakin besar laba yang dihasilkan dibandingkan total asetnya, maka semakin efisien perusahaan tersebut.
Baca Juga: Cash Advance Karyawan: Syarat, Ketentuan, Cara Mengelola & Alternatif
Rumus Dasar ROA
Setelah memahami dua komponen utamanya, sekarang kita masuk ke rumus dasar Return on Assets (ROA).
Secara umum, rumus ROA adalah:
ROA = Laba Bersih ÷ Total Aset × 100%
Rumus ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar laba yang mampu dihasilkan perusahaan dari seluruh aset yang dimilikinya.
Langkah-langkah cara Menghitung ROA
Secara teknis, perhitungan Return on Assets (ROA) tergolong sederhana. Namun, agar hasilnya akurat dan bisa dijadikan dasar pengambilan keputusan, Anda perlu memastikan data keuangan yang digunakan valid dan berasal dari periode yang sama.
Berikut langkah-langkah sistematis yang bisa Anda ikuti:
1. Tentukan Laba Bersih Perusahaan
Langkah pertama adalah mencari angka laba bersih (net income). Anda bisa melihatnya pada laporan laba rugi (income statement) di akhir periode akuntansi, misalnya:
- Tahunan
- Kuartalan
- Bulanan (untuk analisis internal)
Pastikan yang digunakan adalah laba bersih setelah pajak, bukan:
- Laba kotor
- Laba operasional
- Pendapatan total
Gunakan periode yang konsisten. Jika Anda menggunakan total aset tahunan, maka laba bersih juga harus dari periode tahunan yang sama.
2. Hitung Total Aset
Langkah berikutnya adalah mengetahui total aset perusahaan. Data ini terdapat pada neraca keuangan (balance sheet).
Total aset mencakup:
- Aset lancar (kas, piutang, persediaan)
- Aset tetap (bangunan, mesin, kendaraan)
- Aset tidak berwujud (software, lisensi, hak paten)
- Investasi jangka panjang
Pastikan Anda menjumlahkan seluruh aset, bukan hanya modal kerja atau aset tertentu saja. Untuk hasil yang lebih akurat, Anda bisa menggunakan:
Rata-rata Total Aset = (Aset awal periode + Aset akhir periode) ÷ 2
Metode ini lebih representatif jika terjadi perubahan aset yang signifikan selama periode berja
3. Bagi Laba Bersih dengan Total Aset
Setelah kedua angka diperoleh, gunakan rumus berikut:
ROA = Laba Bersih ÷ Total Aset × 100%
Contoh sederhana:
- Laba bersih: Rp150.000.000
- Total aset: Rp1.500.000.000
Maka:
ROA = 150.000.000 ÷ 1.500.000.000 × 100%
ROA = 10%
Hasil pembagian biasanya berupa angka desimal yang kemudian dikonversi ke dalam bentuk persentase agar lebih mudah dianalisis.
4. Analisis dan Interpretasikan Hasilnya
Menghitung saja tidak cukup — Anda juga perlu memahami maknanya.
Secara umum:
- ROA di atas 5% → perusahaan tergolong cukup efisien
- ROA di atas 10% → sangat baik (untuk banyak industri)
- ROA rendah (< 3%) → aset kurang produktif
- ROA negatif → perusahaan mengalami kerugian
Contohnya:
- Perusahaan teknologi biasanya memiliki ROA lebih tinggi karena aset fisiknya kecil.
- Perusahaan manufaktur atau properti cenderung memiliki ROA lebih rendah karena asetnya besar dan padat modal.
KantorKu HRIS bantu kelola absensi, payroll, cuti, slip gaji, dan BPJS dalam satu aplikasi.
Interpretasi Angka ROA untuk HRD
Sebagai praktisi HR, Anda mungkin berpikir bahwa Return on Assets (ROA) adalah ranah tim keuangan. Padahal, angka ini juga sangat relevan dalam pengambilan keputusan strategis di bidang SDM.
Mengapa? Karena dalam banyak perusahaan modern, human capital (karyawan) merupakan salah satu “aset” paling menentukan dalam menghasilkan laba.
ROA membantu HRD memahami apakah investasi pada tenaga kerja benar-benar berkontribusi pada peningkatan profitabilitas perusahaan.
1. Menghubungkan ROA dengan Keputusan Rekrutmen
Secara tidak langsung perusahaan sedang menambah beban biaya yang memengaruhi laba bersih. Sebab, setiap kali perusahaan:
- Menambah jumlah karyawan
- Menaikkan gaji
- Memberikan tunjangan tambahan
- Berinvestasi dalam pelatihan
Jika setelah penambahan tersebut:
- Laba meningkat secara proporsional → ROA tetap stabil atau naik
- Laba stagnan atau turun → ROA ikut menurun
Maka HR perlu mengevaluasi apakah strategi rekrutmen dan manajemen kinerja sudah tepat.
2. ROA sebagai Indikator Efisiensi SDM
Walaupun karyawan tidak selalu dicatat sebagai “aset” dalam neraca (kecuali dalam konteks tertentu seperti akuisisi), produktivitas mereka sangat memengaruhi laba bersih yang merupakan komponen utama ROA.
Contoh situasi:
- Jumlah karyawan naik 20%
- Biaya operasional meningkat
- Namun laba hanya naik 5%
Kemungkinan yang terjadi:
- Produktivitas belum optimal
- Distribusi beban kerja tidak efisien
- Target kinerja tidak selaras dengan tujuan finansial
Jika kondisi ini berlanjut, ROA akan turun karena aset (dan biaya operasional) meningkat tanpa diimbangi kenaikan laba yang sepadan.
3. ROA dan Sistem Manajemen Kinerja (KPI)
Penelitian dari Cornell University menunjukkan bahwa perusahaan yang memiliki sistem manajemen kinerja (KPI) yang terintegrasi cenderung memiliki ROA yang lebih stabil.
Alasannya sederhana:
- Setiap divisi memiliki target yang selaras dengan tujuan finansial perusahaan
- Produktivitas karyawan terukur
- Kontribusi individu dapat dihubungkan dengan hasil bisnis
Ketika KPI tidak terstruktur dengan baik:
- Karyawan bekerja tanpa arah yang jelas
- Aktivitas tinggi, tetapi dampak ke laba rendah
- Efisiensi aset manusia menurun
Sebaliknya, ketika KPI selaras dengan strategi bisnis:
- Setiap karyawan memahami kontribusinya terhadap profit
- Produktivitas meningkat
- ROA lebih terjaga
4. Sinyal Bahaya bagi HRD
Dalam konteks manajemen SDM, ROA dapat menjadi indikator awal adanya masalah efisiensi organisasi. HR perlu meningkatkan kewaspadaan ketika melihat tren yang tidak sehat dalam beberapa periode laporan keuangan.
Terutama jika pertumbuhan sumber daya manusia tidak diiringi dengan pertumbuhan profit yang sepadan.
HR perlu waspada jika menemukan pola berikut:
- ROA menurun beberapa periode berturut-turut
- Jumlah karyawan terus bertambah
- Biaya SDM meningkat signifikan
- Tidak ada peningkatan laba yang sebanding
Kombinasi kondisi tersebut bisa menjadi sinyal bahwa ada aspek internal yang perlu segera dievaluasi. Beberapa kemungkinan penyebabnya antara lain:
- Struktur organisasi terlalu gemuk
- Proses kerja tidak efisien
- Evaluasi kinerja kurang tegas
- Program pelatihan belum berdampak pada output nyata
Jika pola ini dibiarkan, perusahaan berisiko mengalami penurunan produktivitas jangka panjang. Oleh karena itu, HR perlu melakukan audit internal terhadap strategi rekrutmen, distribusi beban kerja, serta sistem manajemen kinerja yang diterapkan.
Baca Juga: 10 Contoh KPI HR Manager dari Cost per Hire hingga Turnover Rate
Keterbatasan ROA sebagai Indikator Kinerja
Meskipun memahami cara menghitung ROA memberikan perspektif berharga, Anda tidak boleh menelannya mentah-mentah sebagai satu-satunya tolok ukur kesuksesan.
Sebagai indikator keuangan, ROA memiliki beberapa batasan yang perlu Anda pahami agar tidak terjadi bias saat mengambil kebijakan strategis di departemen HR.
1. Karakteristik Industri yang Berbeda
Setiap sektor bisnis memiliki struktur modal yang unik. Industri padat modal seperti manufaktur atau transportasi biasanya memiliki ROA yang tampak lebih rendah karena mereka harus memiliki aset fisik (mesin, pabrik, armada) yang sangat besar untuk beroperasi.
Sebaliknya, perusahaan jasa atau software sering kali memiliki ROA yang jauh lebih tinggi karena mereka menghasilkan laba besar dengan aset fisik yang minimal.
2. Aset Tak Berwujud yang Tidak Tercatat
Ini adalah tantangan terbesar bagi HRD. ROA hanya menghitung aset yang tertulis di neraca keuangan.
Hal-hal krusial seperti loyalitas karyawan, keahlian teknis (skill), budaya perusahaan, hingga nilai brand sering kali tidak masuk dalam perhitungan aset. Padahal, aset tak berwujud inilah yang sering kali menjadi motor penggerak laba bersih di masa depan.
3. Pengaruh Faktor Eksternal dan Makro
Laba bersih yang menjadi pembilang dalam rumus ROA sangat rentan dipengaruhi oleh faktor di luar kendali HR, seperti fluktuasi nilai tukar, perubahan kebijakan pajak, hingga kondisi ekonomi global.
Terkadang, penurunan ROA bukan disebabkan oleh kinerja tim yang buruk, melainkan kondisi pasar yang memang sedang lesu.
4. Manipulasi Melalui Depresiasi
Perusahaan bisa saja terlihat memiliki ROA tinggi hanya karena aset-aset lamanya sudah habis disusutkan (depresiasi), sehingga nilai total aset di pembagi menjadi sangat kecil. Hal ini bisa memberikan kesan efisiensi yang semu jika tidak dibedah lebih dalam.
Bagaimana HRD Bisa Memengaruhi ROA
Melalui strategi SDM yang tepat, Anda bisa menekan pengeluaran yang tidak perlu (biaya) sekaligus memaksimalkan output dari setiap aset yang dimiliki perusahaan. Peran HR dalam meningkatkan profitabilitas tidak lagi sekadar administratif, melainkan strategis.
Berikut beberapa hal dari HRD yang bisa memengaruhi ROA:
1. Optimalisasi Biaya Rekrutmen dan Retensi
Turnover atau pengunduran diri karyawan yang tinggi adalah “biaya tersembunyi” yang sangat mematikan bagi laba bersih.
Dengan proses seleksi yang tepat dan program retensi yang baik, Anda menghemat biaya iklan lowongan, waktu interview, hingga biaya pelatihan karyawan baru. Setiap rupiah yang dihemat dari sini akan langsung menambah angka laba bersih perusahaan.
2. Peningkatan Keterampilan dan Produktivitas Karyawan
Karyawan yang terlatih dengan baik mampu mengoperasikan aset perusahaan (baik itu mesin produksi maupun software canggih) dengan lebih cepat dan minim kesalahan.
Pelatihan yang efektif memastikan bahwa aset yang sudah dibeli mahal oleh perusahaan tidak menganggur atau rusak karena salah penggunaan (human error).
3. Otomatisasi Administrasi HR
Mengurangi beban kerja manual seperti rekap absensi fisik atau penghitungan payroll lewat spreadsheet memungkinkan tim HR fokus pada hal-hal yang lebih strategis, seperti pengembangan organisasi dan peningkatan engagement.
4. Penyelarasan Beban Kerja (Workload Balance)
Dengan data yang akurat, HR bisa melihat bagian mana yang kelebihan orang (overstaff) dan mana yang kekurangan. Penataan struktur yang ramping namun lincah akan memastikan beban gaji tetap efisien tanpa mengorbankan target perusahaan.
Indikator HR yang Berhubungan dengan ROA
DIkutip dari Bill, dijelaskan bahwa meskipun patokan ROA >5% terlihat umum dipakai di banyak analisis keuangan, angka ideal tetap bergantung pada jenis bisnis masing-masing karena perusahaan padat modal.
Perusahaan padat modal yang dimaksud seperti utilitas atau manufaktur, biasanya punya ROA yang lebih rendah daripada perusahaan jasa atau teknologi.
Untuk mendukung kenaikan ROA secara berkelanjutan, Anda perlu memantau beberapa metrik HR spesifik secara rutin. Metrik-metrik ini akan memberikan data pendukung mengapa angka ROA perusahaan Anda naik atau turun dari sisi pengelolaan manusia.
Untuk mendukung kenaikan ROA, Anda perlu memantau beberapa metrik HR spesifik secara rutin:
1. Revenue per Employee
Metrik ini mengukur seberapa banyak pendapatan yang mampu dihasilkan oleh setiap satu orang karyawan.
Jika Anda mengetahui cara menghitung ROA dan menyandingkannya dengan data ini, Anda bisa melihat apakah penambahan karyawan baru benar-benar linear dengan peningkatan pendapatan perusahaan atau justru malah membebani keuangan.
2. Employee Turnover Rate
Semakin rendah tingkat perputaran karyawan, semakin sedikit aset finansial yang terbuang sia-sia. Perusahaan yang mampu mempertahankan talenta terbaiknya cenderung memiliki biaya operasional yang lebih stabil, sehingga laba bersih yang dihasilkan pun akan jauh lebih optimal setiap tahunnya.
3. Human Capital ROI
Perusahaan yang melacak laba atas modal manusia cenderung memiliki manajemen biaya yang lebih baik.
Rasio ini menunjukkan secara spesifik berapa nilai balik (keuntungan) yang didapatkan perusahaan dari setiap rupiah yang dikeluarkan untuk membayar kompensasi, tunjangan, dan pengembangan karyawan.
4. Absence Rate (Tingkat Absensi)
Ketidakhadiran karyawan yang tidak terencana adalah bentuk pemborosan aset yang sering luput dari pengawasan. Ketika karyawan absen, aset tetap seperti meja kantor, komputer, atau mesin produksi menjadi tidak produktif.
Dengan memantau data absensi yang akurat, Anda bisa mengidentifikasi masalah moral kerja lebih dini sebelum hal tersebut menggerogoti laba perusahaan.
Baca Juga: 25 Rekomendasi Aplikasi HRD Terbaik & Murah di Indonesia
Mengelola administrasi HR seperti absensi, lembur, hingga payroll secara manual tentu akan melelahkan dan rawan error.
Jika Anda ingin berhenti terjebak dalam rutinitas administratif dan mulai fokus menaikkan nilai ROA perusahaan, saatnya beralih ke solusi digital yang cerdas dan presisi.
Mengapa para pelaku usaha dan HRD mulai meninggalkan cara manual dan memilih KantorKu HRIS?
- Otomatisasi Payroll: Hitung gaji, pajak, dan iuran BPJS dalam hitungan detik tanpa risiko salah hitung.
- Absensi Real-Time: Pantau kehadiran karyawan di mana saja dengan teknologi GPS dan pengenalan wajah yang akurat.
- Manajemen KPI Terpadu: Selaraskan target setiap karyawan dengan tujuan finansial perusahaan secara transparan.
- Database SDM Terpusat: Kelola semua dokumen dan data karyawan dalam satu dashboard yang aman dan rapi.
- Analisis Data Akurat: Sajikan laporan produktivitas yang valid untuk membantu pengambilan keputusan strategis.

Jangan biarkan sistem manual yang lambat menjadi penghambat pertumbuhan bisnis Anda. Jika di pikiran Anda sempat terbesit untuk beralih ke sistem manajemen yang lebih modern demi efisiensi yang nyata, aplikasi HRIS adalah langkah pertama yang paling tepat.
Untuk Anda yang membutuhkan KantorKu HRIS yang mampu mempermudah seluruh pekerjaan HR, mulai dari pantau KPI hingga perhitungan payroll otomatis yang akurat, inilah solusi terbaik yang Anda cari.
Berikan perusahaan Anda keunggulan kompetitif, dapatkan efisiensi maksimal, dan pantau performa tim Anda secara real-time demi masa depan bisnis yang jauh lebih profitable!
KantorKu HRIS bantu kelola absensi, payroll, cuti, slip gaji, dan BPJS dalam satu aplikasi.
Sumber:
Bill. Return on Assets (ROA): Definition, Formula, and Examples
The Motley Fool, How to Calculate Return on Assets (ROA).
Related Articles
Cara Hitung ROI & Contoh Perhitungannya di Perusahaan
Cara Menghitung Kompensasi Karyawan, Rumus, & Contoh Perhitungan