Apa Itu Employee Relations? Contoh, Tantangan, & Bedanya dengan HR
Employee Relations adalah strategi membangun hubungan kerja yang sehat melalui komunikasi, keadilan, dan keterlibatan karyawan di perusahaan.
Table of Contents
- Apa Itu Employee Relations?
- Perbedaan Employee Relations vs Human Resources
- Fungsi dan Tujuan Employee Relations bagi Perusahaan
- Cara Meningkatkan Employee Relations yang Kuat
- Contoh Program Employee Relations
- Tantangan dalam Mengelola Employee Relations
- FAQ Seputar Employee Relations
- Saatnya Kelola Administrasi SDM Pakai KantorKu HRIS, Lebih Mudah & Otomatis!
Table of Contents
- Apa Itu Employee Relations?
- Perbedaan Employee Relations vs Human Resources
- Fungsi dan Tujuan Employee Relations bagi Perusahaan
- Cara Meningkatkan Employee Relations yang Kuat
- Contoh Program Employee Relations
- Tantangan dalam Mengelola Employee Relations
- FAQ Seputar Employee Relations
- Saatnya Kelola Administrasi SDM Pakai KantorKu HRIS, Lebih Mudah & Otomatis!
Employee relations adalah upaya perusahaan dalam membangun dan menjaga hubungan yang sehat antara manajemen dan karyawan melalui komunikasi, kebijakan yang adil, serta penyelesaian konflik secara profesional.
Praktik ini menjadi fondasi penting karena hubungan kerja yang baik berpengaruh langsung pada produktivitas, kepuasan, dan keberlangsungan bisnis.
Pentingnya employee relations juga tercermin dari berbagai riset global. Forbes mencatat bahwa 68% organisasi tidak melacak KPI employee relations, padahal aspek ini sangat menentukan stabilitas dan kinerja tenaga kerja.
Sementara itu, survei dari CIPD menunjukkan 87% perusahaan menilai hubungan manajer dan karyawan mereka berada pada level “baik” hingga “sangat baik”, menandakan bahwa employee relations kini dianggap sebagai prioritas strategis, bukan sekadar fungsi administratif.
Namun, bagaimana employee relations yang baik benar-benar berdampak pada kinerja dan retensi karyawan di perusahaan?
Yuk, baca artikel ini sampai akhir untuk menemukan jawaban dan strategi praktisnya yang bisa langsung diterapkan di perusahaan Anda.
Apa Itu Employee Relations?

Employee relations adalah pondasi bagi budaya perusahaan yang sehat, di mana setiap kebijakan yang dibuat bertujuan untuk meminimalkan konflik dan meningkatkan kepuasan kerja.
Untuk memahami lebih dalam mengenai fungsi ini, Anda perlu melihatnya sebagai jembatan komunikasi yang memastikan aspirasi karyawan dan tujuan perusahaan berjalan beriringan.
Cakupan dari bidang ini sangat luas dan tidak hanya sesederhana menyapa karyawan di pagi hari. Berikut adalah beberapa elemen utama yang masuk ke dalam cakupan manajemen hubungan karyawan:
- Komunikasi Internal: Memastikan informasi mengalir dengan transparan dari atasan ke bawahan maupun sebaliknya.
- Penanganan Konflik: Menyediakan prosedur yang adil untuk menyelesaikan perselisihan antar rekan kerja atau antara karyawan dan manajemen.
- Kebijakan Kesejahteraan: Merumuskan aturan terkait tunjangan, jam kerja, dan fasilitas yang mendukung keseimbangan hidup karyawan.
- Kepatuhan Hukum: Menjamin bahwa seluruh interaksi dan kebijakan perusahaan tetap berada dalam koridor hukum ketenagakerjaan yang berlaku.
Perbedaan Employee Relations vs Human Resources

Saat ini, masih banyak pemilik usaha maupun praktisi HR pemula yang menganggap Employee Relations (ER) dan Human Resources (HR) sebagai hal yang sama. Padahal, meskipun saling berkaitan, keduanya memiliki fokus dan peran yang berbeda dalam pengelolaan sumber daya manusia.
Oleh karena itu, berikut adalah perbedaan employee relations dan human resources di dalam sebuah perusahaan:
1. Human Resources (HR)
Human Resources (HR) adalah fungsi utama dalam perusahaan yang bertanggung jawab mengelola seluruh siklus hidup karyawan secara menyeluruh. HR berperan memastikan bahwa kebutuhan organisasi dan tenaga kerja selaras melalui kebijakan, sistem, dan strategi yang terstruktur.
Ruang lingkup HR mencakup berbagai aspek penting, seperti:
- Perencanaan dan rekrutmen karyawan
- Pengelolaan administrasi kepegawaian dan payroll
- Penyusunan struktur organisasi dan kebijakan perusahaan
- Manajemen kinerja dan pengembangan kompetensi
- Kepatuhan terhadap regulasi ketenagakerjaan
Secara garis besar, HR berfokus pada efisiensi operasional dan keberlanjutan bisnis dengan memastikan sistem dan proses SDM berjalan dengan baik.
Baca Juga: 16 Tugas HRD di Perusahaan, Bukan Hanya Interview Kandidat!
2. Employee Relations (ER)
Employee Relations (ER) adalah salah satu fungsi spesifik di dalam HR yang berfokus pada hubungan kerja dan kualitas interaksi antara perusahaan dan karyawan. ER menempatkan manusia sebagai pusat perhatian, bukan sekadar sistem atau prosedur.
Tanggung jawab utama employee relations meliputi:
- Membangun komunikasi dua arah yang sehat
- Menangani keluhan, konflik, dan perselisihan kerja
- Menjaga keadilan dan konsistensi penerapan kebijakan
- Meningkatkan keterlibatan (employee engagement)
- Menciptakan lingkungan kerja yang aman, nyaman, dan harmonis
Employee relations berperan penting dalam menjaga kepuasan, loyalitas, dan motivasi karyawan, sehingga berdampak langsung pada produktivitas dan tingkat retensi.
KantorKu HRIS bantu kelola absensi, payroll, cuti, slip gaji, dan BPJS dalam satu aplikasi.
Fungsi dan Tujuan Employee Relations bagi Perusahaan
Membangun hubungan yang kuat dengan karyawan adalah kebutuhan yang mendasar untuk keberlanjutan jangka panjang bisnis Anda.
Anda harus memahami bahwa ketika karyawan merasa terhubung secara emosional dan profesional dengan perusahaan, mereka cenderung akan memberikan kontribusi terbaiknya, bahkan sering kali melampaui deskripsi pekerjaan yang tertulis di kontrak.
Memahami fungsi employee relations adalah kunci bagi Anda untuk mengubah sekumpulan individu menjadi satu tim yang solid dan berorientasi pada target.
Berikut adalah uraian mendalam mengenai fungsi dan tujuan employee relations yang perlu Anda ketahui:
1. Meningkatkan Produktivitas dan Profitabilitas Bisnis
Tujuan yang paling nyata dari penerapan strategi employee relations adalah peningkatan hasil kerja.
Berdasarkan penelitian global yang dipublikasikan oleh Gallup dalam laporan State of the Global Workplace, perusahaan dengan tingkat keterikatan karyawan (engagement) yang tinggi melalui hubungan kerja yang baik mampu meningkatkan profitabilitas hingga 21%.
Hal ini terjadi karena karyawan yang memiliki hubungan positif dengan perusahaan akan bekerja dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab tinggi, sehingga efisiensi kerja pun meningkat secara alami.
2. Menurunkan Tingkat Turnover Karyawan
Biaya untuk merekrut, melatih, dan menunggu karyawan baru mencapai performa maksimal sangatlah mahal.
Dengan menjaga hubungan yang harmonis, Anda secara otomatis menekan keinginan karyawan untuk mencari pekerjaan di tempat lain. Loyalitas ini sangat krusial agar pengetahuan internal perusahaan tetap terjaga dan tidak berpindah ke tangan kompetitor.
3. Meminimalkan Konflik dan Perselisihan Kerja
Salah satu tugas employee relations yang paling vital adalah bertindak sebagai peredam konflik. Dengan fungsi komunikasi yang berjalan baik, setiap potensi gesekan antar rekan kerja atau antara bawahan dan atasan dapat dideteksi lebih dini.
Perusahaan yang memiliki sistem hubungan karyawan yang mapan biasanya memiliki prosedur penyelesaian keluhan yang jelas, sehingga masalah tidak berlarut-larut dan tidak merusak iklim kerja secara keseluruhan.
4. Membangun Reputasi Perusahaan (Employer Branding)
Sebagai salah satu contoh employee relations, ketika karyawan merasa diperlakukan dengan adil dan manusiawi, mereka akan membicarakan hal-hal positif tentang perusahaan Anda kepada orang luar, baik melalui media sosial maupun testimoni langsung.
Reputasi sebagai tempat kerja yang menyenangkan akan memudahkan Anda dalam menarik talenta-talenta terbaik di masa depan tanpa harus mengeluarkan biaya iklan lowongan yang besar.
5. Menciptakan Keamanan Psikologis untuk Inovasi
Karyawan yang merasa memiliki hubungan baik dengan manajemen cenderung merasa lebih aman untuk menyampaikan ide-ide inovatif atau memberikan kritik yang membangun.
Tanpa adanya rasa takut akan sanksi atau diabaikan, kreativitas akan mengalir lebih deras. Hal ini menjadi fungsi penting bagi Anda yang ingin perusahaan terus berkembang dan tetap relevan dalam menghadapi perubahan pasar yang cepat.
Cara Meningkatkan Employee Relations yang Kuat

Meningkatkan kualitas hubungan dengan karyawan membutuhkan konsistensi dan sistem yang mendukung.
Berikut adalah cara meningkatkan employee relations yang bisa Anda terapkan untuk memperkuat relasi di tempat kerja:
1. Menjalin Komunikasi Dua Arah yang Terbuka
Pertama, Anda perlu menciptakan saluran komunikasi di mana karyawan merasa aman untuk menyampaikan pendapat, saran, maupun keluhan tanpa rasa takut akan konsekuensi negatif.
Komunikasi yang terbuka akan memangkas jarak antara manajemen dan staf, sehingga setiap masalah kecil bisa segera diatasi sebelum menjadi konflik besar yang merusak stabilitas kantor.
- Kotak saran digital: Menyediakan wadah anonim untuk masukan jujur.
- Town hall meeting: Pertemuan rutin untuk transparansi kebijakan perusahaan.
- Kebijakan open door: Manajemen selalu bersedia meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan staf.
2. Memberikan Apresiasi dan Pengakuan secara Rutin
Penghargaan tidak selalu harus berupa uang atau bonus materi; seringkali pujian yang tulus atas pencapaian karyawan di depan rekan kerja memiliki dampak psikologis yang jauh lebih besar.
Pengakuan ini membuat mereka merasa bahwa kerja keras mereka terlihat dan dianggap sebagai bagian penting dari kesuksesan organisasi.
- Employee of the month: Memberikan penghargaan publik atas prestasi kerja.
- Shout-out di grup internal: Pujian instan untuk keberhasilan tugas harian.
- Perayaan milestone: Mengapresiasi masa kerja karyawan (misal: 1 tahun atau 5 tahun bekerja).
3. Menciptakan Lingkungan Kerja yang Inklusif
Pastikan setiap individu, tanpa memandang latar belakang, usia, atau jabatannya, merasa diterima dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
Lingkungan yang inklusif memicu rasa saling menghargai dan memperkecil risiko terjadinya diskriminasi yang sering kali merusak harmoni kerja.
- Pelatihan keberagaman: Edukasi untuk meminimalkan bias di kantor.
- Kegiatan sosial lintas divisi: Memecah sekat-sekat antar departemen.
- Kebijakan anti-diskriminasi: Aturan tegas yang melindungi hak setiap karyawan.
4. Menjamin Keadilan dalam Penilaian Kinerja
Salah satu tugas employee relations yang paling menantang adalah menjaga rasa keadilan. Gunakan parameter atau indikator kinerja (KPI) yang objektif dan terukur agar tidak ada kecemburuan sosial antar anggota tim.
Ketidakadilan dalam penilaian, terutama jika didasari rasa suka dan tidak suka (favoritisme), adalah pemicu tercepat rusaknya hubungan antara karyawan dan HRD.
- Metode penilaian 360 derajat: Feedback dari atasan, rekan sejawat, dan bawahan.
- Diskusi feedback berkala: Penilaian dilakukan secara rutin, bukan hanya setahun sekali.
- Standardisasi KPI: Parameter yang jelas dan dipahami karyawan sejak awal.
5. Menyediakan Program Pengembangan Karir
Karyawan akan merasa jauh lebih dihargai jika Anda menunjukkan ketertarikan nyata pada masa depan karir mereka.
Memberikan akses ke pelatihan atau seminar menunjukkan bahwa perusahaan peduli pada pertumbuhan pribadi mereka sebagai individu, bukan hanya sekadar memanfaatkan tenaga mereka untuk kepentingan bisnis semata.
- Program mentoring: Memasangkan karyawan senior dengan junior untuk transfer ilmu.
- Subsidi kursus/sertifikasi: Dukungan dana untuk meningkatkan keahlian teknis.
- Jalur karir yang jelas: Karyawan tahu apa yang harus dicapai untuk naik jabatan.
Contoh Program Employee Relations

Dalam praktiknya, tugas employee relations adalah merancang aktivitas yang dapat merekatkan hubungan antar anggota organisasi.
Berikut adalah beberapa contoh employee relations program yang umum dan efektif diterapkan di berbagai perusahaan:
1. Program Employee Gathering dan Team Building

Kegiatan di luar jam kantor seperti tamasya bersama atau outbound dapat mencairkan kekakuan komunikasi antar divisi. Dalam suasana yang santai, karyawan bisa saling mengenal secara personal, yang nantinya akan berdampak pada kerja sama tim yang lebih solid di kantor.
2. Sesi One-on-One antara Manajer dan Staf

Pertemuan rutin secara privat ini bertujuan untuk mendengarkan keluh kesah atau aspirasi individu yang mungkin tidak berani disampaikan di depan umum. Sesi ini sangat efektif untuk membangun kepercayaan (trust) antara atasan dan bawahan.
3. Program Kesejahteraan Mental dan Wellness

Menyediakan layanan konseling atau sesi olahraga bersama menunjukkan bahwa Anda peduli pada kesehatan mental mereka. Sebab, transparansi dan kepedulian terhadap kesejahteraan karyawan secara signifikan menurunkan tingkat stres dan keinginan karyawan untuk resign.
4. Survei Kepuasan Karyawan secara Berkala

Melalui survei anonim, Anda bisa mendapatkan data jujur mengenai apa yang dirasakan karyawan terhadap kebijakan perusahaan. Data ini sangat berharga sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki strategi hubungan karyawan di masa mendatang.
KantorKu HRIS bantu kelola absensi, payroll, cuti, slip gaji, dan KPR/OKR dalam satu aplikasi.
Tantangan dalam Mengelola Employee Relations
Meskipun Anda telah merancang strategi yang apik, realitas di lapangan sering kali menghadirkan kerumitan tersendiri. Mengelola hubungan manusia berarti menghadapi berbagai kepala dengan ego, persepsi, dan latar belakang yang berbeda.
Di era transformasi digital dan perubahan gaya kerja yang sangat dinamis seperti sekarang, tantangan yang dihadapi HRD dan pemilik usaha tidak lagi hanya seputar urusan teknis, melainkan lebih ke arah psikologis dan sistemik.
Berikut adalah rincian tantangan dalam mengelola employee relations yang bisa Anda lakukan:
1. Mengelola Konflik Internal antar Karyawan
Perselisihan adalah hal yang wajar dalam sebuah organisasi yang tumbuh, namun jika tidak ditangani dengan kepala dingin dan netral, konflik ini bisa merusak moral seluruh tim.
Realitasnya, konflik sering kali berakar dari hal sepele seperti perbedaan gaya komunikasi hingga persaingan tidak sehat untuk mendapatkan promosi. Jika Anda membiarkan konflik berlarut-larut, suasana kantor akan menjadi toxic dan menurunkan efisiensi kerja.
- HR harus bertindak sebagai penengah tanpa memihak salah satu pihak.
- Pentingnya kemampuan membaca ketegangan antar tim sebelum meledak menjadi masalah besar.
- Menanamkan nilai bahwa perbedaan pendapat adalah hal biasa, namun rasa hormat tetap utama.
2. Perubahan Budaya Kerja Remote atau Hybrid
Menjaga kedekatan emosional dengan karyawan yang tidak bertatap muka setiap hari menjadi tantangan baru yang nyata di era modern. Tanpa interaksi fisik atau obrolan santai di pantry, risiko munculnya rasa terisolasi pada karyawan menjadi sangat tinggi.
Dalam sistem kerja jarak jauh, membangun kedekatan tersebut membutuhkan upaya berkali-kali lipat lebih besar.
- Social isolation: Karyawan merasa tidak lagi menjadi bagian dari visi besar perusahaan.
- Proximity bias: Kecenderungan manajemen lebih menghargai karyawan yang terlihat di kantor dibanding yang bekerja remote.
- Digital fatigue: Kelelahan akibat terlalu banyak rapat virtual yang justru menghambat komunikasi personal.
3. Ketimpangan Komunikasi antara Level Jabatan
Sering kali pesan strategis dari manajemen puncak tidak tersampaikan dengan baik ke level staf, atau sebaliknya, keluhan staf terhambat di level manajer menengah.
Realitas ini sering kali menyebabkan distorsi informasi yang berujung pada salah paham. Ketika karyawan merasa suara mereka tidak sampai ke atas, mereka akan mulai kehilangan kepercayaan (trust) kepada pemimpin perusahaan.
- Informasi terputus: Kebijakan baru sering diterima staf tanpa penjelasan latar belakang yang jelas.
- Mentalitas: Setiap divisi merasa memiliki aturannya sendiri dan enggan berkolaborasi.
- Kurangnya transparansi: Ketidakpastian mengenai kondisi perusahaan yang memicu gosip negatif di kalangan karyawan.
4. Mengelola Harapan Generasi yang Berbeda
Saat ini, Anda mungkin mengelola tim yang terdiri dari lintas generasi, mulai dari Baby Boomers hingga Gen Z. Realitasnya, setiap generasi memiliki ekspektasi yang berbeda terhadap hubungan kerja.
Misalnya, Gen Z cenderung lebih mengutamakan kesehatan mental dan fleksibilitas, sementara generasi senior mungkin lebih fokus pada stabilitas dan hierarki. Menyeimbangkan kepentingan ini adalah tantangan besar dalam employee relations.
- Perbedaan nilai Kerja: Menyatukan pandangan tentang etos kerja yang berbeda antar generasi.
- Gaya komunikasi: Mengakomodasi preferensi komunikasi (misal: pesan singkat vs rapat formal).
- Ekspektasi feedback: Keinginan untuk mendapatkan umpan balik secara instan vs berkala.
5. Adaptasi Teknologi dalam Administrasi HR
Banyak perusahaan masih terjebak dalam proses administrasi manual yang melelahkan. Realitas tantangannya adalah bagaimana memindahkan data yang berantakan ke dalam sistem digital tanpa mengganggu operasional harian.
Tanpa bantuan teknologi, tugas employee relations akan habis hanya untuk mengurusi kertas dan rekap data, alih-alih fokus pada pendekatan personal ke karyawan.
- Human error: Risiko kesalahan data absensi atau payroll yang memicu protes karyawan.
- Ketidakefisienan waktu: Proses pengajuan cuti atau izin yang berbelit-belit.
- Data tidak terpusat: Sulitnya memantau performa dan KPI karyawan secara objektif dan real-time.
FAQ Seputar Employee Relations
Setelah memahami pengertian dan peran penting employee relations dalam membangun hubungan kerja yang sehat, wajar jika masih muncul berbagai pertanyaan praktis seputar penerapannya di perusahaan.
Untuk menjawab kebingungan tersebut, berikut beberapa pertanyaan yang paling sering diajukan seputar employee relations beserta penjelasannya.
1. Siapa yang bertanggung jawab atas employee relations?
Secara struktural adalah divisi HR, namun secara praktik, setiap manajer dan supervisor memiliki tanggung jawab untuk menjaga hubungan baik dengan timnya.
2. Apa dampak buruk jika perusahaan mengabaikan employee relations?
Dampaknya meliputi tingginya angka turnover (karyawan keluar-masuk), menurunnya produktivitas, serta rusaknya reputasi perusahaan di mata pencari kerja.
3. Apakah employee relations sama dengan hubungan industrial?
Mirip, namun hubungan industrial biasanya lebih fokus pada aspek hukum dan negosiasi dengan serikat pekerja, sedangkan ER lebih luas mencakup aspek psikologis dan budaya kerja.
4. Bagaimana cara mengukur keberhasilan program ER?
Anda bisa mengukurnya melalui tingkat retensi karyawan, hasil survei kepuasan kerja, serta minimnya jumlah keluhan atau konflik yang masuk ke bagian HR.
5. Apakah perusahaan kecil butuh strategi employee relations?
Sangat butuh. Justru di perusahaan kecil, hubungan antar individu sangat menentukan kecepatan pertumbuhan bisnis.
Saatnya Kelola Administrasi SDM Pakai KantorKu HRIS, Lebih Mudah & Otomatis!

Mengelola administrasi dan hubungan karyawan memang bukan perkara mudah, apalagi jika Anda masih melakukannya secara manual.
Jika Anda mulai merasa pekerjaan HR semakin berat, tidak efisien, dan rawan kesalahan, itu bukan karena tim Anda kurang kompeten, melainkan karena sistem yang digunakan sudah tidak lagi relevan.
Di sinilah KantorKu HRIS hadir untuk membantu Anda bekerja lebih tenang, rapi, dan terkontrol.
Keunggulan KantorKu HRIS di antaranya:
- Absensi online yang mendukung WFO, WFA, pekerja lapangan, kantor cabang, hingga tim remote
- Payroll akurat dengan perhitungan gaji, lembur, dan potongan otomatis sesuai data absensi
- Cuti terintegrasi menggunakan pengajuan, persetujuan, dan saldo cuti dalam satu sistem
- KPI real-time yang bisa dipantau kinerja karyawan secara langsung dan terukur
- Seluruh data SDM tersimpan aman dan mudah diakses
- Rekap HR siap pakai tanpa olah manual
Dengan aplikasi HRIS yang tepat, Anda tidak lagi sibuk membereskan administrasi. Waktu dan energi bisa dialihkan untuk mengembangkan karyawan, memperkuat employee relations, dan mendorong pertumbuhan bisnis.
Jadi, apakah Anda siap meninggalkan cara lama dan mulai mendigitalisasi sistem absensi serta pengelolaan SDM Anda sekarang?
Dapatkan Demo Gratis Hari Ini!
KantorKu HRIS bantu kelola absensi, payroll, cuti, slip gaji, dan BPJS dalam satu aplikasi.
Sumber:
CIPD. What Are Employee Relations and Why They Are Important.
Forbes. What Is Employee Relations?
Gallup. State of the Global Workplace 2025.
Related Articles
10 Contoh KPI Admin Kantor, Ini Indikator & Panduannya!
20 Contoh KPI IT Support Perusahaan untuk Mengukur Performa Tim
